oleh

Cerpen: ‘Andai Aku Bukan Aktivis’

Aku mengenali diriku sebagai seorang aktivis. Seorang perempuan yang ternyata mampu menyamai  gender di sebelahku.

Apapun, aku mampu melakukannya. Demonstrasi, perkaderan, memanajemen berpuluh bahkan beratus kegiatan, bukan hal sulit buatku. Semua aku lakukan karena aku ditempa dengan matang, ditempa perguliran organisasi, pergerakan demi pergerakan. Kadang ada badai yang mampu menghempas setiap orang, tapi tidak membuatku bergeming dan gamang. Karena bagiku, seorang aktivis adalah manusia yang tangguh layaknya karang, yang tak takut riak dan gelombang.

Bagiku, dunia ini kecil saja. Di saat orang lain menganggap betapa luasnya hamparan bumi yang direka Sang Pencipta, aku bisa kemana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja. Karena bagiku, dengan bekal keterampilan seorang tokoh perempuan, aku memiliki segudang kemampuan untuk menyamai siapapun, bersama siapapun.

Mereka yang melihatku, akan bangga. Seorang perempuan muda, menjadi tokoh yang dikenal di seantero negeri. Bahkan mereka yang mengenaliku melalui beragam kegiatan, sering merindukan kehadiranku. Kadang hanya untuk berdiskusi, mengasah pemikiran, agar semakin pandai dalam menyikapi perkembangan zaman.

Aku juga bukan perempuan yang keluar dengan tampilan seadanya. Aku memiliki penampilan menarik dengan paras yang cukup elok dipandang mata. Setiap aku melangkah, masih banyak gender di seberangku yang bukan saja kagum dengan pemikiran dan aktivitasku, namun juga mengagumi setiap gerak tubuh dan penampilanku.

Ini aku syukuri, sebagai sorang aktivis perempuan, aku mampu menjadi sorotan banyak mata, dan banyak kabar yang kuterima tentang pembicaraan mereka mengenaiku. Aku bangga menjadi seorang aktivis yang dikenali, dikagumi, bahkan dirindui.

Ohh.. keseharianku begitu indah. Berbekal satu pesan singkat saja, aku bisa dapatkan peluang melanglang buana dari ujung negeri ke ujung negeri lainnya. Aku mulai sangat mengagumi diriku sendiri. Betapa tidak, seorang anak desa yang kemarin masih lugu dan canggung, kini tumbuh menjadi tokoh muda yang bisa duduk satu meja dengan tokoh-tokoh besar negeri ini. Aku bisa berdiskusi dengan petinggi-petinggi negeri saat kegiatan dan agenda organisasiku semarak dengan kehadiranku.

Hmmm anak desa…. Ya.. aku hanya seorang perempuan muda yang berasal dari desa. Negeri yang tumbuh dengan segala macam peradatan dan norma-norma ketat. Aku kadang mulai sedikit jengah dengan semua itu. Bagiku, saat seorang perempuan dilarang untuk keluar rumah tanpa didampingi mahram, adalah hal kuno. Karena aku saat ini, selain belajar memimpin, aku juga belajar tentang agama. Walau kadang, begitu banyak aturan agama yang menuntun seorang perempuan untuk tunduk dan patuh, merendahkan pandangan, menyungkupi dada dengan hijab di depan gender seberangku. Aku pandang semua itu semua hal yang membuat ruangku jadi sempit.

Ahh, bagiku saat ini hanya mengejar cita-cita. Menjadi tokoh yang dikerumuni banyak orang, dijadikan panutan dan ukuran bagi yunior-yuniorku. Pernah kurasakan begitu banyak beban yang menghimpit, tapi dapat diselesaikan hanya dengan berbagi bersama senior dan yuniorku. Begitu sempurna kurasakan. Bahkan di saat sakit menerpa, aku dirawat dan ditunggui berpuluh orang yang komunitasnya sama denganku. Aku makin yakin, inilah jalanku untuk meraih masa depan yang begitu indah di depan mata.

Dan..hari ini aku pulang. Hmm… lama sudah aku tidak melangkahkan kaki di tanah yang membesarkanku. Pulang. Yaa.. Satu kata yang sudah mulai jauh dari makna sesungguhnya dalam benakku. Bagiku kata ‘pulang’ adalah hal lumrah dan tidak bermakna apa-apa. Karena aku biasa menyebutnya untuk daerah mana saja. Kini aku pulang ke rumah yang tidak sama dengan hotel yang sering menjadi tempatku bermalam. Tidak sama pula dengan basecamp di mana selalu ada yang menungguku untuk berdiskusi, atau sekedar saling menyapa dan mereka-mereka yang mengedipkan mata untuk menggodaku.

Aku pulang ke rumah di mana seorang perempuan tua yang mulai ringkih tertatih membukakan pintu, dan langsung memelukku. Perempuan tua yang pakaiannya lusuh, dan sama sekali tidak wangi. Tidak sepertiku yang setiap keluar rumah selalu mengenakan pakaian terbaik yang aku punya, tidak lupa pula kusemprotkan wewangian yang mampu menggoda setiap hidung yang membauinya.

Ibu…ya dialah perempuan yang melahirkanku berpuluh tahun lalu. Seorang perempuan yang merelakan tubuhnya bermandi keringat, karena kesulitan bernapas saat aku mulai tumbuh di rahimnya. Dia pula yang merelakan air susunya untuk kuminum selama dua tahun tanpa pernah mengeluh. Senyumnya memberiku harapan di kala aku masih muda belia.

Kini dia sedang memelukku. Ada kehangatan yang pernah kurasakan dulu waktu aku masih kecil. Kehangatan yang beberapa waktu belakangan tergantikan oleh pelukan dan sapaan rekan-rekan komunitasku.

“Kamu pulang, Nak,” ada sedikit nada tertahan di tenggorokan perempuan tua yang kupanggil Ibu.

“Iya Bu, aku rindu Ibu,” kususupkan wajahku di dada yang mulai keriput dimakan usia itu.

“Nak, sudah terlalu lama kamu tidak pulang ke rumah. Ibu tahu kamu disibukkan oleh kegiatan kuliah dan organisasimu. Ibu sering merindukanmu, rindu memeluk anak gadis ibu yang dulu selalu ibu bawa ke sawah mengantarkan makan siang ayahmu.”

Ohh, begitu lamakah aku tidak pernah pulang ke rumah yang membesarkanku ini? Aku lupa, karena kegiatanku sebagai seorang aktivis begitu menyita waktu. Aku terenyuh.  Kupeluk dan kubenamkan wajahku di rangkulan Ibu.

Ada air mata yang kurasakan mengalir di pipiku. Ahh, ini hanya sebentuk emosi sesaat karena lama tidak berjumpa dengan perempuan yang telah melahirkanku, pikirku. Aku lepaskan pelukan Ibu, karena perutku mulai keroncongan dan minta diisi. Kubuka tudung saji yang menyungkupi meja makan reot yang ada di rumahku. Hmm, hanya ada teri dan kacang tanah yang digoreng bercampur cabe merah, sementara di mangkuk lainnya ada sayur daun singkong. Tak apalah, ini hanya kampung yang tak bisa disamakan dengan kota-kota yang pernah kujalani, tidak mungkin sama dengan restoran yang pernah kusinggahi. Aku lapar, dan harus makan.

Sehabis menyantap hidangan kampung itu, Ibu berdiri di sampingku. Hatiku mengatakan ada sesuatu yang ingin disampaikannya padaku. Ternyata benar, Ibu memintaku duduk bersamanya di kursi usang yang aku lupa entah lebaran kapan kami beli.

“Nak, ada yang Ibu ingin sampaikan di saat kamu pulang ini. Begitu lama Ibu tunggu kamu untuk menyampaikannya. Maafkan Ibu yang tidak berpendidikan bila nanti salah bicara padamu.

Aku hanya diam menatap mata yang dulu selalu memberiku kesejukan.

“Ibu ini hanya seorang perempuan tua yang tidak sekolah. Nak, Ibu melihat tontonan setiap hari, dan ibu tidak pernah tahu, apakah anak gadis yang Ibu lahirkan sekian puluh tahun lalu ada di kerumunan orang-orang itu. Tapi Ibu yakin, anak Ibu adalah seorang perempuan yang tetap berpegang pada agama dan adat kita. Saat ini Ibu ingin sampaikan kembali, ada kerinduan yang kadang membuat Ibu menangis sendiri.”

Lama Ibu terdiam. Dan aku pun hanya diam mematung, menunggu Ibu meneruskan kalimatnya.

“Ibu ingin melihatmu menjadi perempuan seperti Khadijah, seorang perempuan sukses yang tunduk dan patuh pada tuntunan agama. Ibu juga ingin melihatmu tumbuh menjadi seorang seperti Aisyah, perempuan anggun yang berbudi luhur dan shalihah. Banyak Ibu lihat dan dengar, seorang perempuan muda yang menjadi aktivis, dikelilingi laki-laki yang bukan mahramnya. Seakan bunga mekar wangi yang dikunjungi kumbang jantan untuk menghisap madunya. Ibu tidak ingin kamu seperti itu, Nak. Tapi Ibu yakin, anak gadis Ibu adalah perempuan yang selalu ingat perintah Allah untuk menundukkan pandangan, menyungkupi dada dengan hijab.”

Aku tertunduk mendengar kalimat-kalimat Ibu. Ada rasa sesak di dadaku yang sulit kutahan.

“Ibu yakin anak gadis Ibu ini adalah perempuan hebat yang selalu menjaga tuntunan Rasulullah. Selalu waspada dengan lingkungan, mengenali diri sebagai seorang calon ibu bagi anak-anaknya kelak. Seorang calon ratu yang dimimpikan setiap laki-laki shalih, untuk dipinang menjadi pendamping hidup yang sempurna, sebagai perhiasan terbaik yang dijanjikan Allah. Bila Ibu salah menyampaikan ini, maafkan Ibu, Nak.”

Ahh, aku tidak seperti yang Ibu bayangkan. Saat ini aku sebagai anak Ibu, sudah tumbuh menjadi seorang tokoh. Seorang aktivis yang disegani dan disukai.”

“Iya, Nak, Ibu bangga.  Namun Ibu tetap mengingatkan kamu untuk selalu menjaga kodrat seorang perempuan. Allah ciptakan Adam sebagai Khalifah, bukan berarti pula Hawa ikut-ikutan diamanahi tugas sebagai Khalifah. Hawa adalah pendamping, untuk merawat kaum Adam dan menjaganya agar tidak lalai dalam tugas. Bukan untuk menggantikan posisinya, tapi untuk menyertainya dan memberinya kekuatan serta motivasi. Ibu ingin anak gadis ibu menjadi Hawa yang kodratnya adalah perempuan gemulai yang tangguh mendampingi seorang Khalifah.”

Ada petir yang menyambar di telingaku, melintasi benakku yang selama ini hanya diisi dengan pergerakan dan aktivitas. Ada gemuruh di dada yang selama ini kuisi dengan emosi. Aku terjerembab dalam pelukan Ibu. Aku menangis. Aku seakan disadarkan dari kekhilafan panjang yang membuatku lupa jati diriku, seorang makhluk kedua, yang diciptakan mendampingi Adam dalam tugasnya sebagai Khalifah. Selama ini aku sudah menjadi khalifah bagi orang lain, sementara untuk diriku, aku bukan siapa-siapa.

Aku sadar. Andai aku bukan aktivis, langkahku tidak akan sejauh ini meninggalkan kodratku. Walaupun bagiku, menimba ilmu dan keterampilan di komunitasku adalah sebuah kelebihan dan anugerah Allah. Tapi aku telah melupakan sesuatu, melupakan bahwa aku seorang perempuan yang harus tunduk sebagai Hawa, sebagai pendamping Adam , bukan malah menjadi Khalifah seperti gender di sebelahku.

“Ibu, maafkan anakmu. Aku sadari, terlalu banyak aku melupakan petuahmu.”

Penulis: d’Nouvelle

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *