oleh

Sebelum Menulis Berita, Ketahui Prinsip dan Etika Karya Jurnalistik

WPdotCOM — Menulis berita, bagi sebagian pewarta adalah hal yang ringan-ringan saja. Namun, bagi mereka yang belum terbiasa, atau yang tidak mau memperdalam keterampilannya, terasa sulit dan butuh kerja keras.

Bagi penulis berita, prinsip pertama yang harus dipegang adalah kejujuran. Apa yang dimuat dalam sebuah reportase atau berita, haruslah sesuatu yang merupakan fakta. Sesuatu yang benar-benar terjadi. Pewarta tidak boleh memasukkan fiksi ke dalam berita.

Selain kejujuran, seorang pewarta menulis berita harus benar-benar seperti kenyataannya, dan ditulis dengan tepat. Pewarta harus cermat. Seluruh pernyataan tentang fakta maupun opini, harus disebutkan sumbernya.

Selain dua prinsip di atas, dalam proses penulisan sebuah berita harus ada keseimbangan. Agar berita yang ditulis seimbang, seorang pewarta harus memperhatikan fakta dari masalah pokok. Jangan keluar dari masalah yang menjadi inti berita.

Selanjutnya, agar konten berita seimbang, seorang pewarta tidak boleh memuat informasi yang tidak relevan. Hal ini terkait dengan etika seorang pewarta dalam hal memberi informasi yang jelas dan akurat. Jangan menyesatkan atau menipu khalayak.

Begitu pula dengan situasi mental seorang pewarta. Apapun kondisi mental saat menulis sebuah reportase yang akan disuguhkan kepada pembaca, seorang pewarta tidak dibenarkan memasukkan emosi atau pendapat pribadi ke dalam berita. Selain akan menyesatkan, informasi yang diberikan akan menjadi ‘kotor’ karena intrik seorang pewarta.

Menyiasati suasana hati (kondisi mental) pewarta, bisa dilakukan dengan mencari sumber informasi sebanyak-banyaknya tentang muatan inti berita. Hal ini akan memperkaya informasi yang dihadapkan kepada pembaca. Menampilkan semua sudut pandang yang relevan dari berbagai pihak, dan masalah yang menjadi inti berita, tentunya akan lebih baik. Hal ini tidak berlaku pada jenis berita langsung (stright news) yang hanya mewartakan kejadian insidentil di depan mata pewarta.

Selanjutnya, prinsip yang harus dipegang erat oleh seorang pewarta, adalah dasar-dasar penulisan yang memuat secara utuh 5W+1H. Bukan hanya sekedar menuliskan tentang siapa, namun mengabarkan ‘siapa’ itu dengan lebih utuh. Begitu juga poin lainnya.

Haruskah berita itu panjang? Tentu saja tidak. Tapi harus dilihat secara prinsip, apakah keringkasan berita sudah tepat dengan narasi yang pendek saja? Atau harus dipaparkan lebih panjang agar pembaca lebih memahami konten? Semua itu tergantung kondisi konten yang diberitakan. Yang jelas, berita tidak perlu bertele-tele dengan kalimat panjang yang memusingkan pembaca.

Setelah memahami prinsip-prinsip itu, lalu bagaimana struktur berita yang akan dihidangkan? Salah satunya yang terpikirkan oleh pewarta adalah proses menetapkan judul.  Judul berita sangat penting untuk mengantarkan pembaca masuk ke dalam berita. Ia digunakan untuk merangkum isi berita. Karenanya, penulisan judul berita hendaknya dibuat dengan mengikuti kaidah yang benar.

Judul berita memiliki beberapa fungsi yang signifikan. Yakni untuk menarik minat pembaca, merangkum isi berita, melukiskan “suasana berita”, dan bagi media yang memuat, juga ditujukan untuk menyerasikan perwajahan media.

Lalu bagaimana membuat judul? Sebaiknya judul menggunakan kalimat positif, serta diusahakan senetral mungkin. Prinsip cover both side atau menampilkan dua sisi dalam pemberitaan harus diimplementasikan. Selain itu, judul berita juga sebaiknya dibuat dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan sejelas mungkin. Jangan menyajikan berita dengan judul yang sulit dipahami oleh pembaca. Bila pembaca merasa sulit memahami, biasanya berita yang ditulis oleh pewarta akan dilewatkan begitu saja, walaupun kontennya penting.

Setelah judul, pewarta akan masuk pada tahap menuliskan isi berita itu sendiri.  Seperti sebuah rumah, setiap tamu yang datang akan sampai di teras rumah terlebih dulu. Berita juga begitu, ada teras berita.

Teras berita yang baik, – biasa juga disebut intro atau lead berita – memuat  secara ringkas intisari berita. Pewarta perlu menentukan fakta yang penting untuk teras berita. Ini sama halnya dengan menentukan nilai berita itu (news value). Pada umumnya sesuatu yang penting, sekaligus sesuatu yang menarik. Dengan demikian jika pewarta telah menemukan fakta terpenting untuk ditampilkan dalam lead, ia tinggal menulis dengan bahasa yang menarik.

Pedoman untuk menulis teras berita adalah, singkat dan padat, spesifik, identifikasi dengan jelas, hindari bentuk pertanyaan atau kutipan, beri keterangan waktu dengan tepat.

Setelah itu, pewarta akan menuliskan tubuh berita (news body) yang sebenarnya.  News body merupakan tempat di mana berita terletak. Dalam tubuh beritalah pembaca dapat mengetahui konten yang sesungguhnya. Karena tubuh berita menyimpan informasi yang penting, tubuh berita hendaknya ditulis semenarik mungkin, sehingga mampu membuat pembaca terus membaca berita tersebut. Tubuh berita dapat disusun dengan susunan piramida terbalik, kronologis, maupun dengan susunan di mana informasi penting diletakkan di belakang (paling akhir).

Untuk penulisan berita secara menyeluruh, penting diperhatikan oleh pewarta menggunakan tata bahasa yang benar dan tepat, melaporkan secara menyeluruh, dan menuliskannya secara sistematis dan berstruktur. Serta menghadirkan intensitas dan warna, agar pembaca merasa senang membaca. Itulah prinsip bahasa jurnalistik yang harus diperhatikan secara benar oleh seorang pewarta.

Terakhir, setelah menganalisis konten berita yang ditulis, pertimbangkan ketentuan hukum yang berkaitan dengan dunia pers dan kode etik. Karena setelah berita tayang atau terbit dan menjadi santapan pembaca, pewarta harus bertanggungjawab penuh secara hukum maupun etika.

Penulis: Nova Indra (Pimpinan lembaga P3SDM Melati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed