oleh

Konsep Fleksibilitas Silat Minangkabau: ‘Tagang Bajelo-jelo, Kandua Badantiang-dantiang’

WPdotCOM — Pesilat, dimanapun ia berada, baik ketika melatih keterampilan ragawi, maupun di saat melatih diri dalam keadaan diam, senantiasa memahami falsafah hidup yang dipelajarinya dalam keilmuan silat tersebut. Membentuk karakter yang memiliki pemahaman plastis, akan membantu dirinya untuk tetap dalam kondisi stabil dan terjaga secara emosional.

Falsafah “tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang,” melekat secara nyata pada fisik dan kepribadian seorang pesilat. Dalam pemahaman falsafah tersebut, kondisi tegang tidak serta merta menyiratkan bentuk yang keras, namun di posisi yang tegang itu di dalamnya terpaut paham kelembutan. Itulah yang dimaksud kiranya dengan frase tagang bajelo-jelo. Karena itu, ketika seorang pesilat melakukan tangkapan, hindaran, maupun kuncian, semuanya menggunakan kekuatan lawan. Kekuatan yang terpapar di hadapan lawan, dikuasai seperti medan magnet. Saat lawan datang menghadang dengan pukulan atau tendangan, pesilat hanya akan menangkis sesuai ayunan  atau dorongan tenaga lawan, atau memilih meneruskan serangan tersebut ke samping atau ke belakang. Dan semua prose situ dilakukan pesilat dengan gerak yang terlihat lembut.

Begitu pula dengan frase kandua badantiang-dantiang, dipahami dalam makna yang sangat dalam. Seorang pesilat dalam setiap gerakannya tidak akan pernah melakukannya dengan bentuk langkah dan gerak yang kaku dan kasar. Gerak silat, ditampilkan dalam bentuk gerak gemulai dan menampilkan kelembutan serta keindahan. Namun, akan sangat salah bila dipahami oleh lawan yang di hadapannya, bahwa si pesilat sedang menari tanpa kekuatan. Melalui tampilan gerak gemulai dan terayun lembut, di dalamnya mengandung kekuatan yang makin lama makin besar dan siap digunakan untuk melumpuhkan lawan.

Dengan pemahaman falsafah demikian, seorang pebelajar silat di Minangkabau akan memahami, setiap langkah dan gerak yang dilakukannya merupakan suatu kesatuan lahir dan batin. Bentuk gerakan dan langkah yang lembut dan gemulai, diikuti oleh kajian batin yang sangat dalam dan mengandung kekuatan besar yang siap kapan saja dilontarkan kepada lawan.

Semakin lama seorang pesilat menempuh waktu belajar, dan semakin dalam paham silat itu masuk ke dalam jiwanya, seorang pesilat akan semakin lihai memakaikan falsafah tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang dalam langkah dan gerakannya. Hal itu akan terlihat dalam bentuk sebuah pertarungan antara sesama pesilat atau saat berhadapan dengan lawan yang menganut aliran beladiri lain.

Dalam gerakan yang gemulai layaknya sebuah tarian, gerak tangan yang menutup dan melindungi tubuh dari kemungkinan sasaran serangan lawan, siapapun akan melihat bahwa seolah-olah si pesilat melakukannya tanpa tenaga. Namun begitu, setiap bentuk gerak dan langkah merupakan kombinasi sempurna, bukan sesuatu yang secara terpisah dapat dipandang sebagai sebuah kekurangan.

Begitu pula di saat pesilat Minang melakukan tangkisan atau hindaran, gerakannya tidak akan terlihat sebagai sebuah tangkisan yang kasar dan tanpa ‘rasa.’ Tangkisan yang dilakukan si pesilat, tetap dengan bentuk gerak yang gemulai, namun akan terasa berisi sebuah kekuatan luar biasa, saat  seorang  lawan  mencoba  menahan dan menarik kembali serangannya.

Ketika menyerang lawan, pesilat Minang yang tangguh dan benar-benar memahami falsafah silat, akan menakar serangan sesuai dengan kebutuhan, bukan asal serang atau menyerang dengan serampangan yang terkesan buas dan menyakiti lawan. Karena itu, bila melihat orang yang terampil bersilat, yang bukan hanya pandai dan lincah melangkah dan menyerang, akan dipertontonkannya sebuah proses beladiri yang indah dan sangat menawan, seperti sebuah reka adegan.

Sementara itu, karena mempelajari silat di Minangkabau pada dasarnya adalah mempelajari cara hidup, karakter seorang pesilat yang telah dalam pemahamannya, akan terlihat di saat si pesilat menjadi bagian dari masyarakat sosial. Ia akan tampil sebagai sosok yang fleksibel dan disenangi di tengah masyarakatnya. Ia akan menjadi seorang person yang luwes, lembut dan berpendirian kokoh, tidak mudah terombang-ambing saat dilanda persoalan. Bahkan, seorang yang dalam dirinya telah terpaut kuat falsafah di atas, dijadikan orang sekitarnya sebagai tempat meminta pendapat dan sebagai stabilisator umat. (*)

Penulis: Nova Indra (Pegiat Pencak Silat, Kader Utama di Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Pimp. P3SDM Melati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed