oleh

Dakwah, Tanggungjawab Berkelanjutan yang Butuh Keikhlasan

WPdotCOM – Manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik di muka bumi. Berbekal segala kecerdasan yang disiapkan sedemikian rupa oleh Sang Maha Pencipta, manusia juga dibebani tanggungjawab terhadap perbaikan dunia.

Aktivitas memperbaiki tersebut, dalam kajian Islam dipelajari dalam Ilmu Dakwah. Bukan hanya tanggungjawab para pemuka agama seperti ulama, asatidz dan muballigh saja, kewajiban berdakwah adalah tanggungjawab yang dibebankan kepada pribadi. Fardhu ‘ain hukumnya.

Ketika seorang muslim telah sampai pada tingkatan mukallaf (dibebani tanggungjawab hukum; red), maka di saat itu kewajiban dakwah telah pula ada di pundaknya. Segala bentuk upaya perbaikan, sudah menjadi bagian dari kesehariannya dalam menjalani kehidupan.

Lalu apakah dakwah yang dimaksud melulu seperti para pendakwah yang setiap hari ditemui di masjid dan mushalla? Menyampaikan pemahaman agama kepada jemaah berjubel dengan ragam latar belakang? Tentu saja tidak selalu demikian. Dakwah memiliki medan yang sangat luas.

Setiap pribadi yang kuat imannya, tinggi kecerdasan, kuat secara sosial, dan juga kuat finansialnya, dapat mengaplikasikan perintah dakwah itu dalam berbagai bentuk. Dengan modal sebagai umat terbaik dan elemen penting tersebut di atas, maka jalan dakwah dapat dilakukan dengan beragam cara.

 “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS: Ali Imron 110)

Semua orang memiliki kemampuan. Maka setiap pribadi dapat berdakwah sesuai kemampuannya itu. Bagi yang tinggi kecerdasannya, maka ia dapat mengajak orang lain untuk berpikir tentang kebenaran perintah Ilahi. Berpikir bagaimana menciptakan kondisi yang lebih nyaman di dunia tanpa saling menyakiti, tanpa saling merendahkan dan memaki.

Bagi yang kuat secara sosial dan finansial, banyak langkah dakwah yang bisa diperbuatnya. Membantu lembaga pendidikan, menyantuni fakir miskin, memberi beasiswa para pelajar berprestasi agar menjadi person yang ahli di bidangnya, adalah bentuk dakwah yang bisa dilakukan dengan finansial memadai.

Maka, setiap orang, setiap profesi, dapat mengejawantahkan perannya sebagai pendakwah dengan segala keikhlasan. Memperbaiki keadaan agar tercipta kedamaian, dan penuh keberkahan. (*)

Penulis: Nova Indra (Pimpinan lembaga Pusat Pengkajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed