oleh

Selembar Amanah, Mendidik Jiwa Memurnikan Akal Budi

WPdotCOM — Di tanah kami, hidup bukan saja sekedar mengisi lambung agar tubuh mampu tegak layaknya karung. Selagi ruh dikandung badan, semua ditunjuk-ajari. Bukan saja tentang bagaimana kami menguasai diri, namun juga tentang hubungan sosial dengan lingkungan.

Lapang sama berlegar

Sempit sama berhimpit

Lebih beri-memberi

Kalau berjalan beriringan

Yang patut dipatutkan

Ada jiwa besar yang dibenamkan dalam diri. Ada setumpuk bekal hidup yang bila tiada peduli, akan merugikan diri kami. Kami diajari untuk saling mengerti. Diajari untuk terus saja memberi, tanpa berpikir bila harus menunduk menekuri bumi.

Ah, kami hanya anak Melayu yang hidup dengan jati diri. Karena kami diajari untuk selalu bicara, “inilah hamba apa adanya.” Bukan untuk tampil gagah dengan segala warna, tapi hanya membawa nama dari para tetua.

Kami disuruh belajar dari segala. Lihatlah, balon yang warna-warni menyejukkan mata. Isinya sama. Kosong melompong tanpa sesuatu yang berharga. Kami adalah kami, dengan diri yang ditempa sedemikian rupa. Bila kami salah dalam bersikap, melangkah dan bertindak, semata semuanya karena kekurangan pribadi.

Di keseharian, kami belajar dari alam. Tiada sudi menyamai ayam di kandang. Bertelur satu ribut sekampung. Biarlah setiap apa yang kami lakukan, dinilai orang lain yang lebih paham.

Kami diajari agar tiada pernah mendahului tanpa permisi. Karena sikap itu adalah bukti kesantunan, yang dengannya kami disenangi. Kalau berjalan dengan sejawat, tiada pula kami hendak berada di depan. Yang patut, tetaplah kami patutkan. Berjalan beriringan, adalah kebiasaan bahagia dalam diri kami. Kebersamaan, adalah keindahan jalanan hidup yang kami yakini akan memurnikan akal budi.

Dalam kebersamaan, kami biasa mengalah. Itu ciri kami. Tapi jangan sebut kami pecundang. Karena mengalah bukan berarti kalah, apalagi menyebut kami penakut. Hidup bagi kami bukanlah persoalan menang dan kalah, bukan perlombaan yang mengharuskan setiap diri menghalalkan segala cara demi sebuah piala dan sorak-sorai penonton. Kami dibiasakan untuk bertoleransi pada hal apapun. Biarkan teman tersenyum merasa menang, walau hakikatnya bukan pertandingan.

Baca Juga:  Dikukuhkan Sebagai Pendekar Kehormatan, Bupati Lampung Tengah Diamanahi Membina Tapak Suci

Kami hanyalah kandungan bumi yang hidup dengan jati diri. Karena kami berpendapat, pikiran adalah sang tuan, hati adalah pembujuk, dan antara keduanya ada kesadaran sebagai timbangan. Bila dalam melangkah kami lupa diri, pertanda buruk bagi masa depan yang dituju dan dicita-citakan.

Menurut adagium yang kami yakini, dibuat oleh orang-orang yang jiwanya bersih dari noda-noda hidup, “bila orang lupakan diri, banyaklah bala datang menghampiri, alamat binasa seluruh negeri.”

Dengannya kami berpegang teguh. Selain keyakinan yang kami jalani dengan iman dalam hati, seluruh perilaku diupayakan terus menjadi bagian pembuktian kebaikan, yang ada dalam jiwa-jiwa kami.

(Bagian dari buku Pendidikan Karakter Generasi Melayu – Penulis: Nova Indra)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *