Sulitnya Menulis Bagi Guru, Mengemuka dalam Diskusi Literasi P3SDM Melati

WPdotCOM, Kota Malang — Bagaimana menjadi penulis yang baik? Perlukah belajar bertahun-tahun dulu sebelum memulai menulis?

Pertanyaan itu muncul dalam diskusi literasi rutin yang digelar Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati di Kota Malang, Minggu (8/3).

Diskusi literasi yang selalu dihadiri oleh para penulis di daerah Jawa Timur itu, termasuk guru dan dosen, mengedepankan tentang beragam persoalan terkait dengan literasi. Dan pada sesi pekan kedua di bulan Maret ini, topik tentang bagaimana menjadi penulis yang baik, dijadikan menu utama.

Pada sesi diskusi yang dipandu oleh tuan rumah yaitu tim P3SDM Melati, mengemuka berbagai pertanyaan seputar masalah untuk menjadi penulis yang baik. Karena dalam banyak kesempatan, ditemukan persoalan-persoalan sulitnya seseorang untuk memulai menuliskan apapun terkait kebutuhannya.

Seorang peserta diskusi yang sehari-hari berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah di Kota Malang menyampaikan tentang kerumitan yang ia alami saat mulai menulis.

“Saya saat ini sudah di kepangkatan IVa, dan sudah sebelas tahun tidak naik pangkat. Setiap mau mengajukan pemberkasan naik pangkat dan golongan, selalu saja terbentur dengan kewajiban publikasi ilmiah yang diatur oleh pemerintah,” demikian ungkapnya.

Ia melanjutkan, selama ini sangat sulit untuk mulai menulis karya tulis ilmiah berupa penelitian tindakan kelas (PTK). Padahal laporan PTK itu adalah salah satu syarat yang harus dituliskannya untuk memenuhi unsur publikasi ilmiah dalam PKB Guru.

“Dari IVa ke IVb, saya harus mengumpulkan angka kredit  publikasi ilmiah dan karya inovatif sebanyak 12 poin. Tapi terasa sangat sulit untuk memulai menulis,’ jelasnya.

Menjawab hal itu, Nova Indra pimpinan lembaga P3SDM Melati menyampaikan trik dalam menghasilkan karya tulis. Baik karya ilmiah berupa laporan PTK-PTS, maupun karya tulis lainnya.

“Cukup menuliskan apapun yang ada dalam pikiran tentang atau topik yang akan dibahas. Jangan pikirkan dulu bagaimana memasukkan literatur atau referensi. Urusan pendapat pakar atau ahli tentang tema yang dibahas, dimasukkan nanti saat mulai menata tulisan,” terangnya.

Lebih jauh Nova mengatakan, saat ini memang banyak ditemukan guru-guru yang sulit untuk memulai sebuah karya tulis. Apalagi PTK, PTS, dan Best Practice. Karena guru dicekoki dengan harus adanya literatur atau referensi pendapat ahli dalam karya tulisnya.

“Mendengar masukan itu saja, guru sudah mulai tidak bersemangat. Padahal, bila guru mulai menulis tentang topik yang dibahas tanpa memikirkan referensi dulu, saya yakin akan mudah menyelesaikan karya tulis. Nanti, setelah penulisan sesuai kerangka yang ada, baru disisipkan referensi yang linier dengan tema dan topik karya tulis,” jelasnya.

Nova juga mengimbau agar guru-guru yang merasa kesulitan untuk menulis, dapat memanfaatkan kegiatan rutin diskusi literasi yang ia gelar.

“Kita juga punya workshop-workshop yang diselenggarakan di kabupaten dan kota. Semua gru bisa bergabung dengan kami,” katanya. (ist)

Tinggalkan Balasan