Fonologi Arab dalam Lintas Sejarah dan Pemikiran Tokoh Klasik

WPdotCOM — Bahasa adalah system tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengekpresikan diri. Bahasa merupakan entitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat penuturnya. Oleh sebab itu, Bahasa memiliki peranan dan posisi yang penting dalam komunikasi social. Hal ini sesuai dengan wujud manusia sebagai homo sapiens (binatang berpikir) sekaligus sebagai homo longuens (binatang berbahasa).

Kemampuan dalam berbahasa, seorang penutur dituntut untuk memiliki sesuatu keterampilan. Menurut Chomsky dalam Hasanin, terdapat dua keterampilan yang harus dimiliki oleh penutur bahasa, yaitu Competence (الكفايـــــــة)  dan performence ( العـــداء ). Ketika seorang pengguna bahasa berbicara, ia sekaligus menggunakan kedua keterampilan itu, yaitu mengatur tata bahasa dan menggunakannya ( الكفاية ) dan penguasaan yang ada dalam diri secara keseluruhan (العـــداء ). Hal ini digunakan oleh pengguna bahasa dalam berbicara agar maksud dan tujuan yang ingin disampaikan dapat dipahami. Diantara banyak Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan maksud dan tujuan serta mengekspresikan diri, terdapat salah satunya adalah Bahasa Arab yang digunakan sebagai Bahasa Resmi Kenegaraan 27 Negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Lebih dari 422 juta penduduk bumi menggunakan Bahasa Arab dalam aktivitas dan jumlah ini terus berkembang dengan pesat.

Sebagai Bahasa yang paling banyak menyandang atribut (Bahasa kitab suci, hadits, agama), Bahasa Arab juga menjadi Bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ditetapkaan pada 18 Desember 1973. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para ilmuwan dan linguist untuk meneliti bahasa arab tersebut.

Langkah utama yang perlu dilakukan dalam mengkaji linguistic Arab adalah meneliti bunyi- bunyi bahasa yang keluar dari alat ucap, kemudian dilanjutkan dengan studi analisis morfologi, sintaksis dan seterusnya. Fonologi merupakan materi dasar dalam kajian linguistik yang membicarakan persoalan- persoalan tentang bunyi-bunyi bahasa yang diujarkan lewat alat ucap, baik bunyi bahasa yang memperdulikan arti (fonetik) maupun tidak (fonemik). Bunyi-bunyi bahasa yang diujarkan akan menghasilkan beribu-ribu kata yang bervarian dan bermakna. Demikian pula dari rangkaian kata-kata yang tersusun akan menghasilkan beribu ribu kalimat higga menjadi bahasa yang kompleks.

Thoyib I.M menyebutkan bahwa Fonologi merupakan cabang ilmu linguistic yang memmpelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bnyi Bahasa. Hal senada juga diutarakan oleh Robin dalam bukunya Linguistc umum mengatakan bahwa fonologi merupakan kajian tentang bunyi bahasa dalam bentuk pola dan sistemnya.

Fonologi dalam lintas sejarah dapat dikategorikan ilmu yang lama sekaligs ilmu yang baru. Dianggap sebagai ilmu yang baru dikarenakan fonologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mandiri, tumbuh dan berkembang pada abad ke-19 setelah era kebangkitan Strukturalisme Eropa yang dipelopori oleh Ferdinand De Saussure (1857-1913). Ferdinand De Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan- pandangan yang dimuat dalam bukunya Curse de Lingustique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915 atau dua tahun setelah Ferdinand De Saussure meninggal. Buku yang diterbitkan itu berdasarkan catatan kuliah selama Ferdinand de Saussure mengajar di Universitas Jenewa, Swiss tahun 1906-1911. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai Bahasa; dalam versi Inggris diterjemahkan oleh Wade Baskin tahun 1966, daan versi Indonesia diterjemahkan oleh Rahayu Hidayat tahun 1998.

Fonologi dianggap ilmu yang lama dikarenakan fonologi telah dikaji diberbagai negara seperti India, Yunani dan Romawi. Masuknya ilmu bunyi India kedunia barat, bermula dari terjemahan Max Muller terhadap buku Riz Veda Pratisakhye yang tertulis dalam bahasa sanskerta sekitar tahun 1856. Di Yunani Ilmu bunyi dianggap sebagian dari ilmu tata bahasa yang berhubungan erat dengan derivasi (turunan kata), etimologi (asal kata), semantik (arti kata), dan penuturan kata pada kalimat. Pada awalnya ilmu bunyi yang dikenal di Yunani masih sangat sederhana yang belum menjadi sebuah disiplin Ilmu. Plato , beliau inilah yang memperkenalkan adanya alofon dalam vokal dan konsonan bahasa Yunani.

Ilmuwan yang pertama menggunakan istilah fonetik (salah satu cabang ilmu fonologi) adalah ilmuan Prancis G.Zoga dalam penelitiannya tentang huruf hieroglyph (huruf yang digunakan warga mesir kuno dalam menuliskan bahasa mereka), yang diadakan pada tahun 1797, kemudian disusul oleh Shampolion pada tahun 1822 dalam penelitiannya tentang fonetik hieroglyph dan diteruskan lagi oleh Kirby pada tahun 1826.

Pada tahun 1841, RG.Latham menggunakan istilah bunyi sebagai cabang ilmu fisika yang khusus berkenaan dengan bunyi fonetik akustik yang megkaji bunyi menurut sifat-sifatnya sebagai getaran udara dengan memandang bunyi bahasa sebagai gelombang bunyi. Pada tahun 1875, E.Bruke dan CL.Merkel menggunakan istilah ilmu bunyi sebagai salah satu bidang ilmu psikolog yang khusus berkenaan dengan ucapan. Pada tahun 1881, Sievers menggunakan istilah ilmu bunyi dengan maksud ilmu tentang bunyi bahasa, seperti pengertian yang kita kenal sekarang ini.

Jauh sebelum G. Zoga meneliti, pada abad ke 2 H, Fonologi telah memiliki akar historis yang kuat ditanah Arab, tepatnya sejak Al-quran diturunkan. Dalam lembar sejarah ilmu-ilmu yang berkembang didunia Islam diperiode awal, Fonologi memilki posisi yang sangat vital dan penting dalam menjaga kemurnian bacaan Al-quran agar terhindar dari distorsi, baik bacaan maupun makna. Diantara upaya yang mereka lakukan adalah mendeskripsikan makhraj dan sifat bunyi-bunyi Alquran dengan sangat detail, melebihi dari deskripsi yang dilakukan ilmuwan lain sampai sekarang. Ilmu bunyi Alquran tersebut mereka populerkan dengan nama ilmu tajwid dan ilmu qiraat.

Ilmu tajwid dan Ilmu qiraat termasuk ilmu yang pertama lahir setelah lahirnya islam, ketika Abu Ubaid Qasim bin Salam (224 H) dengan bukunya yang berjudul Al-Qira’at. Kemudian disusul oleh Musa bin Abdullah bin Yahya Al-Haqani dengan meluncurkan kumpulan syairnya yang diberi nama dengan Qasidah Aal-Haqaniah yang berisikan bunyi-bunyi Alquran. Belum lagi dengan Khalil bin Ahmad Al- Farahidi (100-170 H), telah menyusun sebuah kamus dengan menggunakan system bunyi (nizham as-shaut) bahasa Arab berjudul Al-‘Ain , yang entrinya disusun berdasarkan makhraj bunyi yang terjauh ditenggorokan sampai yang terdekat pada organ mulut dan sekitarnya. Upaya Khalil bin Ahmad Al-farahdi ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh muridnya Sibawaih (148 H) dengan menyusun sebuah buku dengan nama Al-Kitab yang terdiri dari 4 jilid, dalam jilid ke-4 beliau membuat bab khusus tentang bunyi dan membuat namanya dengan Bab Al-Idgham. Menurutnya huruf Arab itu berjumlah 29 dan kadang sampai berjumlah 35 jika didasarkan pada bacaan Al-qur;an dan syair dan bahkan mencapai 45 jika didasarkan pada huruf yang jarang digunakan oleh orang Arab.

Ibnu Sina yang lebih dikenal dengan Advicenna didunia Barat, salah satu cendikiawaan muslim yang juga mengembangkan ilmu ini tidak hanya menuliskannya pada buku yang berjudul Risalah Asbab Hudus Al-Huruf namun juga dicantumkan dalam bukunya yang berjudul Al- Qannun fi Al- Thib dalam bab Tasyri’ al-hanjarah dan al-syifa’ dalam bab hasan al-sam. Ibnu Sina dalam mengulas materi fonologi Arab bukan hanya menerapka metode analisis fisiologis, namun juga menggunakan analisis filosofis yang dikembangkan dalam filsafat, sehingga dalam pembahasan fonologi Arabnya mencakup berbagai aspek meski tidak sedetail buku-buku fonologi modern.

Di pihak lain, Abu Al-Fath Usma Ibnu Jinni Al-Maushuli (wafat 392 H) dalam bukunya Sirru Shina’at Al-I’rab telah memperkenalkan organ bicara, makhraj, sifat-sifat bunyi, vokal panjang dan pendek dan berbagai fenomena bunyi seperti tebal tipis, dan qalqalah. belum lagi dengan bukunya ke dua berjudul Al-Khasais yang menggunakan metode sosiologis untuk menjelaskan teori–teori linguistiknya. Hal ini menunjukkan bahwa linguis Arab juga mempunyai andil yang besar dalam melahirkan ilmu bunyi yang popular dengan nama Fonologi.

Penulis: Ferki Ahmad Marlion

Tinggalkan Balasan