oleh

From Zero to Hero; Membangun Inovasi Pembelajaran dengan Sentuhan Teknlogi

WPdotCOM — Perjalanan karier seorang Aries Eka Prasetya dalam dunia inovasi pembelajaran, dimulai semenjak melangkahkan kakinya di SMA Negeri 22 Surabaya untuk menjadi PNS Guru sejarah pada tahun 2007.

Hari demi hari dilalui dengan berbagai kendala di lapangan selama menjadi guru baru saat itu. Belum adanya fasilitas yang memadai, atau terkendala dengan lokasi sekolah yang memang masih baru di Surabaya. Maklum, SMA Negeri 22 Surabaya adalah sekolah paling bontot di kota itu. Sehingga semuanya serba baru dan masih apa adanya. Namun semangat untuk beribadah dan berkarya di sekolah ini seakan tak pernah luntur, hingga bertemulah dengan seorang guru Fisika yang suka dengan sentuhan teknologi dalam mengajar. Dialah Neny Else Josephine. Ia mengenalkan tentang pembelajaran yang kreatif dengan berbagai sentuhan teknologi. Ia juga menjadi teman sharing untuk mengenal software-software baru yang digunakan dalam menunjang proses pembelajaran yang kekinian.

Antusiasme saya dalam dunia inovasi pembelajaran dibaca oleh Neny, sehingga mensuport saya untuk berani mengeksplorasi kemampuan diri dalam mengajar, sekaligus sharing kepada guru lainnya. Berbagai workshop di mana ia menjadi nara sumbernya, saya diajak untuk menjadi fasilitator membantu tugasnya dalam mengisi workshop tentang inovasi pembelajaran menggunakan pendekatan teknologi.

Berbagai workshop inovasi pembelajaran menggunakan teknologi di Surabaya, Bojonegoro, bahkan hingga ke Pamekasan Madura, menjadi catatan sejarah langkah saya untuk memantapkan diri sekaligus memberanikan diri berkiprah di dunia inovasi. Hingga pada tahun 2008 saya melihat peluang di mana saat melaksanakan pembelajaran sosiologi – saat itu memang saya diberi jam mengajar sosiologi padahal saya guru sejarah, hehe – menggunakan sosiodrama, banyak dijumpai talenta muda di bidang cinema di Smadda (sebutan untuk SMA Negeri 22 Surabaya).

Ilmu di dunia cinematografi yang telah saya dapatkan sebelumnya saat kuliah, rupanya harus diasah dan dikembangkan di Smadda. Saya memberanikan diri untuk mengajak beberapa siswa yang sudah melalui seleksi dan saya latih untuk membuat film pendek, dan diikutkan dalam berbagai lomba film indie. Alhamdulillah beberapa film indie karya siswa Smadda mendapatkan apresisasi, menjadi juara dalam berbagai lomba. Terlebih saya bersyukur, berkat torehan prestasi tersebut sempat mendapat predikat pembina cinematografi terbaik nasional dalam sebuah ajang festival film indie di Jakarta.

Pada tahun 2013, pemerintah Kota Surabaya mengadakan pemilihan guru inovatif untuk bisa dikirim belajar di luar negeri, dalam program pertukaran guru dengan pemerintah kota Busan Korea Selatan (program sister city). Alhamdulillah melalui proses tes dan langkah yang panjang, terpilihlah 20 guru SMA/SMK se-Surabaya, dan salah satunya saya (peringkat 6) bisa merasakan menimba ilmu di Dong Eui University Busan, Korea Selatan. Pengalaman di Busan merupakan pengalaman inovatif yang inspiratif. Di Busan, saya mendapat banyak masukan berupa ilmu dan pembekalan dengan kuliah dan mengajar langsung di lapangan. Berbagai inovasi baru yang saya dapatkan di sana, menjadi pemicu bagi saya untuk menemukan hal-hal unik dan baru yang nantinya bisa membantu saya dalam proses pembelajaran inovatif.

Pada tahun 2015, saya mengenal Quipper school, dan lagi-lagi dikenalkan oleh Neny melalui chat di FB saat itu. Program menjadi ambassador pun saya ikuti, dan alhamdulillah bisa menjadikan SMA Negeri 22 Surabaya kenal dan pemakai aktif quipper school. Melalui berbagai kompetisi dan program yang diadakan oleh pihak quipper, saya menadapatkan berbagai torehan prestasi bersama siswa. The Best Ambasador pernah saya dapatkan, Super Teacher juga pernah saya raih, dan tentunya Master Teacher juga pernah saya peroleh. Hal ini tak lepas dari kegigihan siswa dan guru di SMA Negeri 22 Surabaya dalam menggunakan quipper school dalam proses pembelajarannya. Bahkan muncul slogan yang saya bikin dan terkenal saat itu yaitu “belajar makin cool ya pake Quipperschool”.

Baca Juga:  Filosofi Silat Tradisi Minangkabau; Prinsip Kewaspadaan

Di tahun itu pula saya mengikuti sebuah kompetisi bernama Indonesia Digital Learning (IDL). Sebuah kompetisi yang baru saya kenal, dan rasa kepo saya pun meledak untuk pengen tahu dan ikut serta berbuat banyak di dalamnya. Dalam kompetisi IDL 2015, setiap peserta diminta untuk membuat sebuah artikel yang menceritakan pengalaman guru dalam mengajar menggunakan sentuhan teknologi. Nah, dikarenakan sebelumnya saya memang sudah menerapkan inovasi teknologi di dalam pembelajaran yang saya laksanakan, maka jari-jemari ini meluncur saja mengetikkan apa yang pernah saya alami dalam penerapan teknologi di dalam pembelajaran.

Karya yang saya kirim untuk mengikuti kompetisi IDL 2015 berjudul “Bersama Pak Aries Sejarah Makin Eksis” di mana di dalamnya saya menceritakan mengenai pelaksanaan pembelajaran sejarah di SMA Negeri 22 Surabaya menggunakan Quipperschool. Alhamdulillah, karya ini nyantol menjadi 45 karya terbaik dalam kompetisi IDL 2015, dan saya pun harus bersiap untuk ke Bandung mengikuti MTMH (My Teacher My Hero) sebuah kegiatan Bootchamp lanjutan dari IDL 2015. Di MTMH 2015 saya bertemu dengan banyak guru inovatif seperti bu Amiroh, bu Neny yang juga lolos, Mas Ari dari Yogya yang banyak menginspirasi dengan gaya presentasinya. juga ada Bu Widi yang gokil, dan Mas Adit yang menjadi teman sekamar saat MTMH 2015 di Bandung. Sebanyak 45 guru terbaik di Indonesia berkompetisi mempresentasikan karya inovasinya dalam pembelajaran, dan terpilihlah 17 besar guru terbaik yang selanjutnya di saring kembali menjadi 8 besar untuk menjadi guru Hero dan menikmati hadiah berupa liburan di Korea Selatan. Meski saya tidak terpilih menjadi yang terbaik, namun dalam proses IDL dan MTMH 2015 ini saya banyak merekam dan belajar dari presentasi guru lain dari inovasi-inovasi yang ditawarkan, yang akhirnya menginspirasi saya untuk semamkin semangat berkreasi ke depannya.

Pada tahun 2016, kembali diadakan IDL 2016 dengan format yang berbeda dan lebih meriah karena dilaksanakan di berbagai kota di Indonesia yang nantinya di saring menjadi 45 terbaik. Saya tertantang untuk kembali ikut dalam kompetisi bergengsi ini namun tujuan utamanya adalah ingin belajar dan menyerap inovasi baru. Hotel Garden Surabaya menjadi kawah penyaringan para guru inovator untuk belajar inovasi baru seperti barcode, video call, evaluasi online, dan tentunya aplikasi baru dari microsoft. Sebuah kehormatan di saat pembukaan acara saya dipanggil kedepan untuk mendapat kartu tanda peserta pelatihan IDL 2016 dan disalami langsung oleh petinggi Telkom dan PGRI, dalam batin saya berkata semoga nanti saya bisa disalami lagi untuk menjadi juaranya ya pak hehehe. Pelatihan IDL 2016 berjalan dan ilmu pun saya dapatkan, akhirnya di ujung acara di hari keDUA pelatihan, munculah pemberitahuan mengenai kompetisi MTMH 2016, sebuah ajang yang dinanti oleh semua peserta. Setiap peserta diminta untuk membuat video dokumentasi pembelajaran yang di dalamnya menggunakan pendekatan teknologi. Saya tertantang dan ingin mengikuti MTMH 2016 dengan melaksanakan sebuah proyek bersama siswa, yaitu proyek “Menumbuhkan Nasionalisme Pada Generasi Muda di Era Modernisasi dan Globalisasi”.

Baca Juga:  Cintai Diri Sendiri, Kembangkan Semua Potensi

Dalam proyek tersebut, pembelajaran saya desain menggunakan Project Based Learning (PBL) di mana di dalamnya terdapat kegiatan penanaman moral dan semangat nasionalisme yang dikemas dengan sentuhan teknologi. Proyek ini saya laksanakan karena belakangan ini banyak dijumpai penyimpangan teknologi dan penyalahgunaan obat terlarang dan miras di kalangan generasi muda. Westernisasi berdampak pada hedonisme siswa, yang akhirnya mengikis moral dan akhlak generasi muda. Hal inilah yang harus dicarikan solusi sehingga modernisasi dan globalisasi tidak membawa dampak negatif, namun diupayakan bisa mensuport upaya menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme pada generasi muda.

Proyek berjalan dengan dukungan siswa kelas XI yang saat itu saya ajar dalam pelajaran sejarah, akhirnya bisa diselesaikan. Karya proyek ini kemudian saya jadikan video untuk diikutkan dalam ajang kompetisi MTMH 2016. Video yang sudah terupload di youtube tersebut, ternyata mendapat banyak dukungan dan penilaian positif dari para juri lomba MTMH 2016. Alhamdulillah karya tersebut membawa saya untuk bisa mengikuti bootchamp bersama 45 guru inovator lainnya di Jakarta. My Teacher My Hero 2016 yang kegiatan pelatihan dan kompetisinya dipusatkan di Jakarta, ternyata diisi dengan kuruikulum baru mengenai penerapan pembelajaran berbasis teknologi bagi guru inovator. Saya senang bisa bergabung dan menimba ilmu dari kegiatan MTMH 2016, karena banyak ilmu baru dan inovasi baru yang saya serap dari kegiatan tersebut.

Akhirnya pengumuman 17 besar MTMH 2017 dibacakan. Dalam batin saya berdoa semoga bisa nyantol. Dan ternyata dari 17 nama yang disebutkan ada nama Aries Eka Prasetya, alhamdulillah. Melalui tahap saringan selanjutnya dan pada acara puncaknya di tentukanlah 8 besar pemenang My Teacher My Hero 2016 dan dari kategori guru SMA pemenangnya adalah Aries Eka Prasetya dengan karya “Menumbuhkan Nasionalisme Pada Generasi Muda di era Modernisasi dan Globalisasi”. Puji syukur alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah Sang Raja Manusia yang telah memberikan kemenangan ini. Kemenangan MTMH 2016 saya tujukan kepada semua anak didik saya di SMA Negeri 22 Surabaya yang telah berkarya dan berinovasi membuat proyek ini. Torehan prestasi dalam kegiatan MTMH 2016 rupanya membawa dampak positif bagi perkembangan diri dalam berinovasi sehingga saya memunculkan sebuah gerakan moral melalui media sosial bernama SAMISANOV. Samisanov merupakan kependekan dari Satu Minggu Satu Inovasi, maksudnya diharapkan dalam proses pembelajaran seorang guru nanti setiap minggunya bisa menghasilkan 1 inovasi dalam PBM di sekolahnya.

Samisanov sebenarnya dilatar belakangi oleh adanya fenomena dalam PBM yang tiap harinya tidak ada sebuah hal yang baru atau dalam bahasa siswa yaitu membosankan dan gitu-gitu aja. Maka melalui Samisanov ini saya berupaya agar di tiap minggunya akan muncul satu inovasi baru atau perbaikan dari  inovasi yang sudah ada sehingga PBM di sekolah menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Samisanov mendapat tanggapan yang bagus dari beberapa teman guru baik di sekolah atau di media sosial. Banyak yang terinspirasi untuk memakai inovasi yang saya kembangkan atau mereka mengembangkan yang baru sehingga dapat menjadi inspirasi bagi guru lainnya. Banyak guru yang akhirnya memposting inovasi PBM mereka di sosmed dan membawa aura positif bagi perkembangan pembelajaran di sekolah-sekolah lainnya. Alhamdulillah gerakan Samisanov telah mewabah dan menjadi virus perubahan dalam proses pembelajaran yang diwarnai inovasi kreasi dan mampu menginspirasi.

Baca Juga:  Pembelajaran Fisika Masa Pandemi, Antara Esensi dan Kompetensi yang Dituju

Torehan prestasi di MTMH 2016 dan gerakan Samisanov di sosial media rupanya secara tidak langsung membuat saya diundang oleh beberapa stasiun televisi. Bersama pak Zaenal Lanto pemenang MTMH 2016 kategori SMA, pada 6 Desember 2016 diundang oleh salah satu stasiun televisi nasional untuk menjadi bintang tamu dalam acaranya.

Pada acara tersebut saya ditanya oleh host berkaitan dengan inovasi apa saja yang dilakukan sehingga menjadi pemenang MTMH IDL 2016. Jujur perasaan saat itu campur aduk, seneng karena bisa nongol di TV nasional yang banyak dilihat orang dan grogi karena harus berada di depan kamera bersama presenter-presenter terkenal. Pengalaman yang tidak terlupakan. Setelah satu stasiun televisi, saya menjadi narasumber di stasiun televisi lainnya, dengan slogan baru dari pembelajarannya pak Aries yaitu “Bersama Pak Aries #SejarahMakinEksis”. Begitulah, dari satu stasiun ke stasiun televisi lain.

Tahun 2017 saya berkesempatan untuk menimba ilmu baru dari sekolah-sekolah di Melbourne Australia. Kegiatan kunjungan ke sekolah-sekolah besar di Melbourne Australia ini merupakan reward yang diberikan oleh Telkom kepada 8 orang pemenang kompetisi Indonesia Digital Learning My Teacher My Hero yang diselenggarakan pada tahun 2016 lalu. Saya bersama bu Prama dari pasuruan, pak Zakun dari bojonegoro, pak Saerozi dari al-Hikmah Surabaya, kami berempat delegasi Jawa Timur melangkah ke Djuanda untuk bertemu dengan 4 perwakilan lainnya yaitu pak Lanto dan bang Daeng dari Makasar, pak Posma dari Aceh. Perjalanan 8 delegasi pendidikan dari hasil kompetisi MTMH 2016 ini ternyata penuh warna dan cerita.

Berangkat bersama dengan perwakilan Telkom dan PGRI pusat dari Bandara Internasional Sukarno Hatta Jakarta menunju bandara internasional Melbourne. Setibanya di Melbourne kami diterima dengan senyum oleh ibu ketua PGRI yang memang pada saat itu sedang ada acara di sana, sehingga berkesempatan untuk menemani kami makan siang sekaligus memberikan petuah bijak untuk kemajuan pendidikan Indonesia. Di Melbourne kami berkesempatan untuk mengunjungi beberapa sekolah terbaik guna belajar tentang pendidikannya.

Banyak duka namun  juga  suka dan cerita dalam perjuangan inovasi berkreasi di dunia pendidikan yang akhirnya merubah hidup saya. Hidup yang semula hanya menunggu waktu berlalu, namun sekarang berubah harus apa untuk apa dan lakukan apa buat semua. Sebuah bait kata tanya yang selalu terpapar ketika saya bangun dari tidur di saat adzan Subuh belum berkumandang. Hidup serasa lebih hidup dengan kita bisa melakukan sesuatu untuk diri dengan berbagai inovasi dan merasa bersyukur pada Ilahi dengan berbagai kesempatan yang diberikan, untuk terus mencoba dan berusaha. Hati semakin berbahagia jika inovasi yang tercipta mampu menginspirasi siswa dan guru lainnya, untuk bisa lebih baik lagi ke depannya.

Penulis: Aries Eka Prasetya, S.Pd, M.Si (Guru SMA Negeri 22 Surabaya)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *