Menguak Kabut Pembelajaran Bahasa Indonesia, Guru Harus Terampil Berbahasa

WPdotCOM — Apa yang anda lakukan saat anak didik tidak termotivasi melakukan aktivitas belajar di kelas? Memberi hukuman, menyalahkan, atau membiarkan begitu saja?

Bila itu yang dilakukan, tentu saja bukan sesuatu yang bijak. Seorang guru yang baik dipastikan akan berusaha mencari akar permasalahannya.

Ada beberapa kemungkinan penyebab peserta didik tidak termotivasi dalam belajar. Di antaranya, berasal dari diri mereka sendiri, namun tidak jarang pula berasal dari guru. Bisa jadi suguhan yang diberikan guru tidak menarik bagi siswa, apakah itu menyangkut materi, pilihan media, atau metode yang tidak tepat.

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, ada beberpa prinsip yang harus diterapkan. Di antaranya termasuk teknik pengemasan materi yang harus mempertimbangkan latar belakang, kebutuhan, dan tingkat kecerdasan peserta didik. Adakalanya guru terlupa untuk memperhatikan hal ini, sehingga membuat peserta didik jenuh dan tidak beminat melakukan aktivitas belajar.

Demikian juga halnya dengan pemilihan metode. Metode yang tepat dan bervariasi,  akan membuat peserta didik bergairah dalam belajar. Metode yang monoton akan membuat mereka merasa bosan dan jenuh.

Selain hal di atas, yang tidak kalah penting adalah pemilihan media yang tepat dan menarik. Dalam artian tidak harus yang canggih, sederhana pun cukup, tetapi dapat merangsang minat peserta didik dalam belajar dan mampu mengembangkan pola pikir mereka untuk beraktivitas sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Salah satu media yang dapat digunakan adalah “guru sebagai model”

Ada ungkapan bahwa mengajar itu ada seninya. Seni guru itu pun bebeda satu dengan yang lainnya. Ada guru yang mampu  menggali dan mengoptimalkan potensi peserta didik dengan cara memanfaatkan segala potensi yang ada di sekitarnya. Artinya, saat peserta didik meminta gurunya mencontohkan suatu keterampilan yang akan diterapkannya, guru tidak harus mencontohkan sendiri. Bisa saja dengan mengambil contoh dari yang sudah ada. Seperti ketika mengajarkan membaca puisi, seorang guru tidak harus mencontohkan bagaimana membacakan puisi dengan baik. Bisa saja memutar rekaman pembacaan puisi dari seorang deklamator.  Ketika akan mengajarkan bagaimana cara menulis resensi, guru bisa mengambil contoh dari resensi seorang resentator. Ketika akan mengajar berpidato, bisa memutar rekaman pidato seorang orator.

Hal tersebut memang tidak ada salahnya. Namun, tentu akan lebih baik, – bahkan lebih menarik – bagi peserta didik apabila guru juga mampu berperan sebagai model dalam pembelajaran yang diberikannya.  Seorang guru tari umpamanya, bagaimana mungkin peserta didik dapat melakukan suatu gerakan tari tanpa diperagakan oleh guru tarinya. Begitu juga dengan seorang pelatih drama, bagaimana mungkin peserta didik bisa  melakukan adegan dengan tepat tanpa diperagakan oleh pelatihnya.

Demikian juga halnya dengan guru bahasa Indonesia, karena pembelajaran bahasa menuntut suatu keterampilan. Ada empat keterampilan yang harus dikuasai peserta didik yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Untuk menguasai keempat keterampilan tersebut, tentu dibutuhkan latihan. Tanpa latihan mustahil semua itu dapat dicapai.

Dalam hal ini, kompetensi guru memang sangat dituntut. Ironis memang, saat guru harus mengajarkan peserta didiknya menulis, sementara dia sendiri tidak bisa menulis. Belajar menulis bukan hanya sekadar menyuguhkan teori-teori menulis kepada peserta didik, melainkan harus dilatih menulis. Untuk dapat melatih menulis, bukankah seorang guru harus menguasai keterampilan menulis?

Hakikatnya, mengajar bahasa Indonesia bukanlah mengajar peserta didik tentang bahasa, melainkan mengajar mereka berbahasa. Untuk bisa mengajar peserta didik berbahasa, seorang guru harus lebih dulu menguasai kemampuan berbahasa, yaitu kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Jadi, seyogyanyalah ketika guru memberikan pembelajaran puisi,  diperagakannya cara membacakan puisi yang baik. Ketika memberikan pembelajaran berpidato, diperagakannya cara berpidato yang baik. Saat memberikan pembelajaran menulis, guru harus menunjukkan keterampilannya dalam menulis. Ketika memberikan pembelajaran keterampilan berbicara, dia harus menunjukkan keterampilannya dalam berbicara. Dengan demikian, diharapkan kabut yang menyelimuti pembelajaran bahasa Indonesia dapat terkuak.

Penulis: Rabiyatul Adawiyah, S.Pd. (Guru SMAN 2 Kota Padangpanjang)

Tinggalkan Balasan