oleh

Cerpen: ‘Salib untuk Siapa?’

WPdotCOM — Senja pamit merangkak pergi. Mentari perlahan turun mencumbu bibir laut. Gejolak kehidupan manusia sehari suntuk jeda sesaat. Debat penindasan terhadap ketidakadilan bangsa ini di rumah Bu Dina dan Bapak Budi akan terlelap dalam bayangan semu yang tidak nampak klimaksnya. Diskusi tidak ada kesimpulan dan rekomendasi nyata yang harus dilaksanakan. Hampir tiap hari beragam fenomena sosial penderitaan seperti korupsi,penegakan hukum, perdagangan manusia, narkoba, kekisruhan partai politik, pelecehan seksual, mengusik batin insan pertiwi sejagad ?

Fajar kembali mengusik keheningan malam sesaat itu sampai siang hari. Ibu Dina tampak lelah di sofa ruang tamu. Mengawali hari baru dengan  menyaksikan tiada berujung berbagai fenomena kehidupan  seperti jalan tak ada ujung. Bayangan kekalutan hidup yang diamati siang kemarin belum lenyap dari pikirannya. Sesekali ia membolakbalikkan harian surat kabar dengan headline yang menyuguhkan situasi negara kita yang dilanda berbagai krisis yang menakutkan dan mencemaskan. Siapakah yang akan memikul penderitaan yang tidak ada habisnya. Sebagai orang beriman ia merasa seperti bayangan salib atau  penderitaan itu makin mendekat. Siapakah yang akan menyediakan bahunya untuk memikul dan mengatasi persoalan ini? Hidup di zaman ini agak sulit manusia memikul sengsara yang dialami oleh orang lain di sekitarnya. Apalagi berbagai penindasan ketidakadilan saat ini. ”Aku harus membiarkan?”tanya ibu Dina dalam hati.

Blibli.com

Tiba-tiba bel berdering dengan keras di depan rumah yang sepi. Mengagetkan Bu Dina yang lagi galau dengan situasi ini. “Apa yang dicemaskan, bu Dina ?” tanya Budi dengan heran. “Bapak lagi tuli dan buta ya, situasi negara kita yang lagi krisis tanggungjawab?” Hampir setiap hari media cetak dan elektronik menyuguhkan ragam berita yang sangat menyeramkan dan menakutkan!” kata Bu Dina dengan keras. “O,ya.. maaf saya kurang informasi, karena jarang membaca surat kabar dan menonton televisi,” kata Budi mengakui kekurangannya. “Makanya, bapak jangan hanya seharian sibuk mengurus kepentingan diri-sendiri, tetapi ingat juga sesama saudara kita yang masih terbelenggu oleh penindasan karena ketidakadilan baik di bidang politik, ekonomi, hukum, dan hak asasi manusia,” tegas ibu Dina.

Budi terdiam sejenak. Sambil menatap kening Bu Dina. Ia membiarkan Bu Dina yang masih memikirkan penderitaan bangsa ini dimana semua orang salaing mengelak beban penderitaan bangsa ini. Rakyat dan demonstran selaku pencari keadilan ,dituduh seolah-olah penderitaan yang dialami bangsa ini mereka yang menghasutnya. Penguasa selalu mencuci tangan melihat penderitaan negeri ini. Berbekal jabatan penguasa tunggal, di balik kesombongan diri dan intelektual mereka memberikan memo sejengkal kalimat “Salibkan Dia”. Mereka lari meninggalkan persoalan bangsa lalu membentuk geng saling melawan.

“Sudahlah Bu,.. jangan terlalu berpikir nanti stress,” kata Budi meneguhkan Dina. “Ya, Bapak, tetapi kami sebagai ibu yang lebih merasakan sebuah penderitaan batin yang mendalam, jika situasi negeriku ini penuh penindasan, lalu penguasa meloloskan diri dari jeratan keadilan?” jawab Bu Dina dengan emosi. ”Mau dipikul siapa penderitaan ini, Pak?” Kalau bapak mereka enak ,pulang rumah semuanya sudah beres tinggal menyantap dengan lahapnya. Lihatlah ribuan manusia dalam rahim negeri ini yang ingin bebasnya untuk menyantap fenomena sosial yang tidak sedap rasanya,” kata ibu Dina dengan nada ragu dan kesal.

Pak Budi terdiam membisu memahami kekesalan ibu Dina. Untuk menenangkannya dan mendapat inspirasi agar menjadikan situasi yang terjadi ada jalan keluar terbaik. Pak Budi menyepi ke taman sebentar disamping rumah, agar bayangan penderitaan yang terjadi ada jalan terbaiknya. Kembali dari taman itu Budi menghampiri Dina. Seorang ibu rumah tangga dan relawan kemanusiaan. Hampir tiap saat selalu bergabung dengan elemen relawan menggonggong ketidakadilan terhadap bangsa ini. Bangsa yang saling melempar penderitaan bukan saling menolong dengan hati nurani kalau melihat penderitaan.

Sesaat kemudian Pak Budi kembali ke dalam rumah. Sambil membelai bahu istrinya, “Oke.. sudahlah Bu Dina,” sela pak Budi. ”Biarlah kita tanggullangi secara bijak.” Kalau semuanya dengan otak panas sia-sialah hidup ini. Sebuah penderitaan akan berakhir kalau ada sikap sabar. Semuanya akan indah pada waktunya,” pak Budi meneguhkan. ”Jangan dipanas-panasi sehingga tetangga sekitar tidak ikut campur. Jika mereka ikut campur tambah hancur keluarga dan bangsa ini. Apalagi kalau diminta memberikan masukan. Kita selesaikan secara bijak agar yang salah merasa diri bersalah dan benar menjadi puas akan sebuah perjuangan akan penindasan. Dengan demikian tenang aman dan damai keluarga dan bangsa ini.

Bu Dina menarik nafas panjang mendengarkan nasihat Pak Budi. Dia belum puas karena siapakah yang menanggung derita bangsa ini.Penderitaan ini untuk siapa? Siapa yang akan memikul salib kalau generasi penyelamat bangsa mati sebelum tugas yang diemban belum selesai masanya?

Bayangan salib penderitaan akan selalu mengganggu ingatan Bu Dina. Diskusi dengan tetangga, penyelenggara, serta penguasa tidak membebaskan kemelut bangsa ini selesai. Bahkan tokoh agama atau ulama pun tidak membebaskan penderitaan. Kenyataan orang saling memandang dan mencari celah untuk saling melindungi diri dan terhindar dari penderitaan bangsa ini.

Namun, Bu Dina juga menyadari bahwa sebuah penderitaan akan berjalan seiring pergantian waktu dan rotasi perjuangan manusia. Kalau tidak ditanggulangi bersama akan hancur keluarga dan bangsa kita. Tetapi,untuk siapa penderitaan ini. Kepada siapa penderitaan ini ditujukan. Kapan salib penderitaan ini berakhir. Salib untuk siapa?

Penulis: Adrianus Bareng, S.Pd. (Guru SMP Frater Maumere)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *