oleh

Home Learning; Guru Jangan Gagal Paham tentang Metode Ini

WPdotCOM — Merebaknya Covid-19, memaksa elemen pendidikan negeri ini melakukan terobosan metode pembelajaran. Perangkat IT dan keterampilan di bidang itu kini mulai diuji.

Seperti di Kota Padangpanjang, dalam Surat Instruksi Walikota Padang Panjang Nomor 06 tertanggal 19 Maret 2020, disebutkan bahwa mulai tanggal 20 maret hingga 2 April 2020, semua proses belajar dari tingkat PAUD hingga SMA dialihkan ke rumah masing-masing. Selama kegiatan belajar-mengajar di rumah, siswa dilarang berkumpul ke tempat keramaian, sedangkan guru diminta untuk memberikan tugas sesuai dengan program belajar yang sudah direncanakan.

Saat libur, mulailah guru kasak-kusuk kebingungan memberikan tugas kepada siswa. Sesuai arahan dari kepala sekolah, tugas diberikan melalui grup WhatsApp. Ada guru  yang memberikan tugas melalui WhatsApp langsung kepada wali kelas, dan ada pula yang melalui WhatsApp grup (WAG) wali kelas.

Pada hari pertama libur, pelaksanaan pemberian tugas menjadi kacau. Karena guru secara bersamaan memberikan tugasnya kepada siswa. Hal itu membuat siswa menjadi stress dan panik. Mana tugas yang akan dikerjakan lebih dahulu. Agar tidak semakin kacau, kemudian diatur dengan cara memasukkan guru mapel ke dalam grup kelas.

Seandainya seorang guru mempunyai 12 lokal dalam mengajar, tentunya akan ada 12 grup yang harus ia masuki untuk memberikan tugas. Tentu hal ini tidak efektif, walaupun sekarang tren membuat grup belajar siswa melalui WAG. Setiap ada kegiatan ada WAG nya, grup keluarga juga ada WAG nya belum lagi grup sekolah. Bisa-bisa HP menjadi hang karena terlalu banyak WAG.

Sementara itu, melalui istilah belajar di rumah, atau dalam istilah pendidikan disebut Home Learning, perlu kiranya untuk memahami lebih jauh. Apakah memang belajar di rumah adalah dengan memberi tugas untuk setiap mata pelajaran bagi siswa?

Baca Juga:  Matematika Ramadhan

Home learning yang dimaksudkan adalah adanya interaksi secara virtual  antara guru dengan siswa.  Guru tidak hanya memberikan tugas secara online dan mengumpulkan tugas dengan cara yang sama. Kalau pengertiannya seperti itu berarti guru gagal paham dengan konsep home learning.

Retno Listyarti Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seperti dilansir akurat.co menjelaskan,  “maksud belajar dari rumah sesungguhnya adalah memberikan aktivitas belajar rutin pada para siswa agar tetap terbiasa belajar, menjaga keteraturan. Karena keteraturan itu penting bagi anak-anak, agar ketika masuk sekolah kembali semangat belajarnya tidak padam dan materi pembelajaran tidak tertinggal.”

Salah satu alternatifnya adalah membuka kelas maya yang ada di rumah belajar atau Google Classroom. Panduan untuk membuat kelas maya bertebaran di internet. Teknologi ini bisa dimanfaatkan. Tapi kadang karena tidak terbiasa atau merasa gaptek, sehingga banyak guru yang malas mencoba dan melakukannya. Bukankah pepatah Minang menyebutkan “alah biso karena biaso” (bisa karena terbiasa -red).

Banyak fitur-fitur yang ada di Rumah Belajar atau Google Classroom yang bisa dimanfaatkan. Pada Rumah Belajar ada fitur sumber belajar, labor maya, kelas maya, buku elektronic, dan lainnya.  Pada Google Classroom, fitur yang bisa dimanfaatkan di antaranya pemberian tugas lebih administratif dan bervariasi. Tugas bisa diatur tenggat pengumpulan. Penilaian tugas juga bisa diatur apakah ingin dilihat oleh peserta didik atau tidak.

Alternatif teknologi yang lainnya adalah menggunakan Aplikasi Zoom. Dengan aplikasi ini, terjadi interaksi virtual antara guru dengan siswa. Aplikasi ini lebih bagus diinstal melalui laptop atau personal computer. Karena bila menggunakan smartphone akan terjadi overheating. Guru bisa menjelaskan materi secara virtual dan siswa pun bisa bertanya kepada guru. Ada interaksi antara guru dan siswa. Sehingga penyajian lebih interaktif dan menarik.

Baca Juga:  Workshop Sagusaku Angkatan 2 Gugah Semangat Pendidik

Kini semua berpulang kepada guru. Ingin memberikan yang lebih atau yang biasa-biasa saja kepada siswa. Siswa berhak menerima pelayanan maksimal dari gurunya. Jika proses pelayanan guru maksimal dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada siswanya, tentu hasilnya juga lebih maksimal.

Pada intinya, sistem home learning bukan hanya dengan memberi tugas dan mengumpulkannya. Home learning pada dasarnya adalah perpindahan cara belajar saja.

Kepustakaan

  1. Surat Instruksi Walikota Padang Panjang Nomor 06 tertanggal 19 Maret 2020
  2. https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://classroom.google.com/&ved=2ahUKEwit7tiLrq7oAhXtILcAHaocB6MQFjABegQIBRAB&usg=AOvVaw01ZRE5lsJeswx-yCVeh6SL
  3. https://m.akurat.co/id-1050312-read-kpai-guru-gagal-paham-home-learning
  4. https://edublogs.org/

Penulis: Laily Syaadah (Guru SMAN 2 Padangpanjang, Sumbar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar