Mendongeng, Salah Satu Solusi Membentuk Karakter Anak

WPdotCOM — Menteri Pendidikan Nasional merombak besar-besaran sistem pelayanan pendidikan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.

Tersedianya anggaran yang semakin besar dari tahun ke tahun, harus dibuat semakin fokus agar tepat sasaran. Kita harus fokus pada upaya membuat belanja pendidikan agar betul-betul bisa tepat sasaran. Jangan sampai anggaran yang semakin meningkat tapi hasilnya tidak maksimal.

Alokasi dana pendidikan agar betul-betul digunakan secara efektif untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. Akses siswa, terutama siswa dari keluarga miskin, betul-betul memperoleh pendidikan dan mendapatkan prioritas.  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan menuntaskan distribusi Kartu Indonesia Pintar dan pastikan bahwa kartu itu betul-betul menjangkau siswa-siswa miskin dan tepat sasaran.

Menghadapi isu perombakan sistem pendidikan nasional, tidak kalah hebohnya krisis karakter anak-anak bangsa yang kian tidak menentu. Maka isu perombakan harus didukung dengan program strategis dan nyata, agar persoalan karakter anak bangsa ada solusi yang bisa dilakukan dan perlahan ada hasilnya.

Penulis sepakat perombakan itu, tapi nilai budaya lokal untuk memperbaiki karakter anak bangsa perlu dihidupkan kembali, berupa tuturan asli fantasi dongeng warisan turun-temurun yang dapat dijadikan sebagai media untuk membentuk perilaku anak.

Dengan demikian, proses pembentukan karakter anak perlahan tumbuh dan berkembang bukan hanya teori di kelas, tetapi adaptasi dengan lingkungan menentukan nasib anak-anak bangsa yang akan datang melalui strategi yang ditawarkan guna menungkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Mendongeng sebenarnya kita melatih kesabaran anak dalam bertutur dan bertindak. Kita mengalihkan pikiran anak ke dunia lain untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Anak diajak untuk membandingkan karakter hidupnya dengan orang lain.

Pendidikan Berbasis Karakter

Merombak sistem pendidikan Indonesia berbasis karakter merupakan isu hangat sejak Menteri Pendidikan dipegang oleh Prof. Muhajir Effendy. Karena ia melihat kondisi pendidikan nasional Indonesia saat ini semakin tidak menentu. Bahkan program dan gebrakan sebelumnya, tidak mengakomodir atau melenceng.

Sistem pendidikan berbasis karakter masih dalam rancangan yang perlu pengkajian mendalam, agar tidak hanya sekedar program untuk memenuhi target politik tapi benar-benar merata untuk rakyat Indonesia. Karena pengalaman ganti menteri ganti kebijakan serta gebrakan. Akhirnya, sekolah sebagai sasaran program kementerian menjadi tidak jelas dan menentu.

Sebagai pelaku nyata pendidikan di lapangan, penulis menganjurkan sebaiknya kearifan budaya tutur lokal dongeng yang banyak di daerah, menjadi strategi pembelajaran untuk mengatasi kondisi pendidikan berbasis karakter anak bangsa kita.

Dongeng, Budaya Tutur Paling Sakral

Dongeng merupakan cerita fantasi beragam yang unik, tumbuh, dan hidup serta berkembang dalam masyarakat nusantara yang majemuk dan  dunia. Bersifat anonim dan ceritanya turun-temurun dari generasi ke generasi. Dipercaya masyarakat setempat  karena mempunyai nilai kultural yang ajaib, serta mempunyai manfaat yang pernah dialami dari cerita itu. Ada akibatnya, jika masyarakatnya melupakan atau tidak memperhatikan berupa upacara ritualnya. Dengan demikian, dongeng tetap punya nuansa sakral yang mempunyai banyak pesan kebajikan bagi manusia.

Arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad 21 ini, tidak pernah menghapus atau menghilangkan fantasi dongeng. Sekalipun sudah dimodifikasi menjadi cerita modern dengan berbagai variasi gambar dalam cerita komik maupun film, tapi tidak hilang ide dasar atau asal-usul serta sumber cerita itu. Beragam buku dan media elektronik menampilkan cerita-cerita fantasi dongeng dengan tokoh binatang atau hewan. Tuturan atau percakapan tokoh-tokoh sebagai pelaku dalam cerita tersebut sangat bermakna dengan pesan-pesan moral bagi manusia. Vokal, gerak, dan ekspresi, diatur menyerupai manusia.

Mendongeng  dimulai dari dalam keluarga.

Apakah dongeng menjadi sajian utama orang tua kepada anak saat-saat berkumpul di rumah saat ini? Pengalaman penulis bersama lingkungan sosial sekitar TV dan video game,  menjadi sajian utama ketimbang suara langsung dari kedua orang tua atau keluarga lainnya. Hampir tidak terdengar suara-suara dari tetangga sebelah yang sedang mendongeng untuk anak Baik di dalam rumah, teras rumah, dan sudut-sudut rekreasi di halaman atau taman kompleks rumah. Padahal suara bapak dan mama, sangat penting untuk mengantar atau mempengaruhi jiwa dan karakter anak dalam bertutur kata dan bertindak.

Banyak anak-anak kita saat ini sepulang sekolah menghabiskan waktu bermain di pinggir jalan, dan di sudut lingkungan. Banyak yang santai dan ngobrol, bahkan sambil merokok dan mereguk miras.

Sejak kecil, usia tiga sampai enam tahun, bahkan sampai tamat sekolah menengah pertama, penulis selalu disajikan dongeng oleh ayah sebagai siasat untuk makan banyak, tidak nakal, rajin belajar, kerja keras, rajin ke Gereja dan cepat tidur di malam hari Ayah penulis membawakannya dengan topik yang berbeda-beda, baik flora dan fauna, serta berbagai bentuk bentangan alam muka bumi.

Alur cerita sangat bervariasi, sehingga bersama teman-teman sekitar selalu kompak dan setia mendengarkannya. Jika sedang makan alur ceritanya renggang selalu menimbulkan penasaran pada kami dengan maksud agar bisa menghabiskan nasi dua piring bahkan lebih. Jika dongeng di malam hari alur cerita sangat menegangkan dengan maksud kami harus takut, tidak boleh ke mana-mana,hanya di rumah saja membantu bapa dan mama, belajar, dan aktivitas lainnya. Khusus dongeng di malam hari menjelang tidur bervariasi seperti ‘suanggi’ yang makan anak-anak, setan di malam hari, bunyi burung gagak di malam hari, tanda-tanda kematian di kampung, ibu hamil bawa besi yang tajam berupa pisau atau guntung. Atau cerita batu besar dan pohon besar yang ada penunggunya, dan masih banyak lagi.

Dongeng solusi dilematis guru dalam proses pembelajaran

Dalam filsafat pendidikan, kita mengenal empat olah pembentukan karakter. Yaitu olah hati untuk menguatkan etika, olah rasa untuk menguatkan estetika, dan olah pikir atau kemampuan akademis seperti membaca, menulis serta pendidikan sains serta olahraga untuk membentuk karakter fisik anak-anak.

Menghadapi karakter anak bangsa saat ini, memang rumit dialami oleh semua pendidik mulai dari pendidikan dasar sampai menengah. Sungguh dilematis menghadapi perilaku anak dengan tingkat kecerdasan dan karakter yang berbeda, lalu berada dalam satu komunitas sekolah. Sekolah dengan guru sebagai ujung tombak, perlu banyak strategi dan siasat dalam menghadapainya.

Di balik banyak strategi yang dibuat sekolah dan guru untuk menghadapi problem karakter anak, hemat penulis mendongeng satu solusi sesuai pengalaman penulis. Begitu sebuah dongeng dibawakan dalam bentuk lisan dan video, anak yang karakternya susah konsentrasi dan mendengar penjelasan, jadi mudah menangkap pesan yang didengar, begitu tenang dan kreatif. Karakter yang begitu banyak anak miliki, disatukan dalam kondisi mendongeng. Anak mengamati begitu serius peran tokoh-tokoh dalam berbicara dan berakting. Anak bahkan terlena kisah dongeng dengan tokoh flora dan fauna.

Memang diakui, mengelola pembelajaran dengan memilih materi serta strategi memang sangat dilematis bagi guru dalam mempertimbangkan sekian banyak karakteristik kepribadian anak. Ada anak yang sangat cerdas, sedang, lemah, nakal, bahkan yang sulit diatur sampai harus dipindahkan atau dikeluarkan dari sekolah. Banyak alternatif yang sudah diambil, tetapi lebih baik komunikasi atau dialog melalui dunia fantasi, akan lebih solutif ketimbang dengan budaya kekerasan yang menimbulkan masalah bertambah banyak serta rumit penyelesaiannya. Akhirnya mengorbankan anak-anak generasi penerus bangsa.

Penulis: Adrianus Bareng, S.Pd. (Guru SMP Frater Maumere)

Tinggalkan Balasan