Praktek Jual-beli KTI Guru (PTK-PTS) di Media Sosial adalah Pembodohan

WPdotCOM, Kota Malang – Banyaknya pihak-pihak yang memanfaatkan kebutuhan guru dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan menjual naskah PTK-PTS, adalah pembodohan.

“Kita tidak ingin guru dibodohi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan keadaan dengan cara-cara haram. Kini masih banyak ditemukan di media sosial penawaran jual-beli KTI,” demikian ujar Nova Indra, pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati di Malang, Sabtu (4/4).

Nova menyampaikan hal itu dalam Diskusi Literasi yang rutin digelar unit kerja P3SDM Melati, Sekolah Indonesia Menulis.

Diskusi Literasi yang dilakukan melalui media daring tersebut, diikuti oleh elemen pemerhati gerakan literasi, guru, dosen dan para penulis. Disebabkan tengah mewabahnya virus Corona, kegiatan yang biasanya dilakukan secara tatap muka itu kini digelar melalui jaringan online.

Sementara itu, salah seorang peserta yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah di Jawa Timur mengatakan, memang ada pihak-pihak yang melakukan penawaran naskah KTI Guru. Naskah yang diperjualbelikan tersebut ditawarkan melalui grup-grup Facebook.

“Banyak juga guru yang tertarik. Namun hal itu tentunya tidak benar. Bila guru membiasakan diri dengan membeli naskah KTI dari pihak lain, tentunya ini adalah perilaku yang harus dibasmi. Guru adalah profesi mulia, jangan dikotori dengan praktek-praktek haram seperti itu hanya demi memenuhi kebutuhan,” ujarnya.

Senada dengan itu, peserta lain juga menyampaikan keprihatinannya dengan praktek jual-beli KTI Guru.

“Guru seharusnya menolak setiap perilaku buruk seperti itu. Kalau terbiasa dengan hal-hal yang tidak baik, bagaimana nanti kualitas pendidikan kita akan membaik?” terangnya.

Menurutnya, sudah banyak korban dari pihak guru. Setelah transaksi dilakukan, naskah KTI yang dikirimkan ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jadi selain jual-beli yang tidak benar, uang yang dikeluarkan juga jadi sisa-sia. (ist)

Tinggalkan Balasan