oleh

Relasi Al-Qur’an, Pancasila, dan Matematika

WPdotCOM — Secara umum, ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai salah satu kesuksesan dalam hidup seseorang. Agar bisa bertahan hidup dalam era dengan persaingan ketat ini, menguasai ilmu pengetahuan memang menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk meningkatkan wawasan pengetahuan.

Ilmu pengetahuan amatlah luas dan tidak terbatas. Bahkan diisyaratkan Tuhan bahwa,”Andaikata seluruh pohon di atas bumi dijadikan pena dan seluruh air samodra dijadikan tinta dan ditambah lagi satu samodra sebelum keringnya, tidak akan cukup untuk untuk menuliskan ilmu pengetahuan.” Demikian hebatnya ilmu pengetahuan, dan terus mengalami perkembangan. Dengan menguasai ilmu pengetahuan kita dapat melakukan banyak hal dengan daya jelajah yang sangat leluasa.

Sementara itu, buku merupakan salah satu sumber ilmu. Buku memberi informasi penting mengenai ilmu pengetahuan. Dengan membaca buku, seseorang dapat mengembangkan kemampuanya dalam memproses ilmu pengetahuan serta mengaplikasikannya di keseharian. Tetapi biasanya buku yang diciptakan hanya akan memuat sumber bacaan sesuai masing-masing tujuan pembelajaran tertentu sesuai mata pelajaran atau judul yang disajikan.

Misalnya buku matematika, menanamkan sifat dasar pola berpikir logis, sistematis, rasional, kritis, cermat, tekun, jujur, effisien, dan efektif. Itupun melulu untuk persoalan matematika. Pendidikan Pancasila dirancang untuk membekali keimanan dan akhlak mulia sebagaimana diarahkan oleh falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Sedangkan Al-qur’an membekali akhlak mulia dan keimanan sesuai firman Tuhan.

Setelah mempelajari matematika, al-Qur’an, dan Pancasila, baik secara terpisah sendiri-sendiri maupun ketiganya serempak bersamaan, dalam pencapaian kompetensinya apakah kita akan menemukan relasi antara matematika, al-qur’an, dan Pancasila ? Untuk itu penulis mencoba memaparkan keterkaitanya adanya relasi antara matematika, al-qur’an, dan Pancasila lewat ilustrasi pemotongan tumpeng.

Seperti yang dilansir IDN TIMES (di balik kenikmatan nasi tumpeng, ternyata ini asal usulnya). Tumpeng yang mempunyai artidari masyarakat Jawa, yaitu singkatan dari “yen metu kudu mempeng”(ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat). Kalimat itu mempunyai makna bahwa manusia ketika lahir harus mau menjalani hidup dengan semangat, yakin, fokus, dan tidak putus asa. Dengan kata lain, untuk apa dia dilahirkan jika keberadaanya tidak bisa menggenapi dan kepergianya tidak bisa mengganjilkan.

Setiap hidangan nasi tumpeng diatas tampah, selalu dikelilingi beberapa lauk pauk, yang biasanya berjumlah tujuh macam lauk pauk yang masing-masing mempunyai makna tersendiri. Telur menggambarkan kebersamaan, ikan melambangkan kekuatan dan perjuangan, ayam jantan dengan bumbu kuning mengisyaratkan bahwa manusia sebaiknya menhindari sifat jelek, seperti sombong dan mau menang sendiri, sayur urap yang terdiri dari kangkung, toge dan kacang panjang menunjukkan karakter yang melindungi dan mempunyai pertimbangan yang baik dalam memecahkan memutuskan masalah.

Namun yang yang paling penting adalah bagaimana caranya mengiris tumpeng nasi kuning yang berbentuk kerucut dengan pisau datar sebagai alat irisnya. Suatu kurva yang diperoleh dengan cara mengiris kerucut tumpeng nasi kuning dengan pisau datar disebut sebagai irisan kerucut.Dengan demikian irisan kerucut bisa didefinisikan sebagai kurva yang terbentuk dari perpotongan kerucut dengan suatu bidang datar. Bentuk kurva yang diperoleh dari mengiris kerucut dengan bidang datar tergantung dari cara mengirisnya.

Bentuk kurva dari pengirisan kerucut dengan bidang datar antara lain adalah lingkaran, parabola, ellips, dan hiperbola. Lingkaran, diperoleh dengan mengiris semua bagian dari selimut kerucut dengan sebuah bidang datar yang tegak lurus dengan kerucut (pisau bidang datar sejajar dengan tampah). Parabola, diperoleh dengan mengiris kerucut dengan pisau datar yang sejajar garis pelukisnya. Ellips, diperoleh dengan mengiris semua dari bagian selimut dengan bidang datar yang tidak tegak lurus kerucut. Hiperbola, diperolehdengan cara mengiris kerucut dengan pisau datar yang sejajar dengan garis tingginya.

Setelah mempelajari irisan kerucut pada disiplin ilmu matematika, kita bisa mengenal berbagai macam persamaan, antara lain; persamaan lingkaran, ellips, hiperbola, dan parabola. Lingkaran ataupun parabola bisa mewakili seolah olah sebagai lintasan perjalanan matahari, yang dipisahkan oleh garis cakrawala sehingga menjadi dua bagian atas dan bawah. Bagian atas merupakan bagian siang hari, dan yang di bawah cakrawala merupakan bagian malam hari. Dari masing masing bagian akan menentukan waktu-waktu tertentu dalam kaitannya dengan waktu sholat yang telah ditentukan (kitaaban maukuuta).

Sesuai yang tersurat dan tersirat dalam Al-quran surat al- Isra’: 78; “Sholatlah ketika 1. Matahari tergelincir, 2. Gelapnya malam, dan 3. Bacaan fajar (subuh)”, yang pada dasarnya sesuai dengan materi persamaan kwadrat (persamaan parabola), yang mengenal nilai-nilai ekstrim, yang meliputi titik potong dengan sumbu-x ( garis cakrawala ) yaitu ada x1 dimana titik itu bertepatan dengan matahari terbit, x2 dimana titik itu bertepatan dengan matahari terbenam, titik puncak atau kulminasi atau titik balik maksimum yang bertepatan dengan waktu istiwa’1 yang sesaat lagi akan memasuki waktu tergelincirnya matahari sebagai waktu dhuhur, selanjutnya ada juga waktu istiwa’2 dimana waktu itu sesaat lagi akan menggelincirkan matahari lagi yang kedua kalinya sehingga memasuki waktu ashar, dan lain sebagainya.

Pembagian waktu-waktu itu bisa diilustrasikan sebagai peragaan kurva parabola sebagai lintasan perjalanan matahari, sumbu-x sebagai garis cakrawala, dan sumbu-y sebagai posisi kita atau sebuah benda yang berdiri tegak lurus di atas tanah lapang, sehingga bisa digambarkan sebagai berikut:

Sesuai hirarki urutan waktu sholat dalam surat al-isra’:78, yang pertama adalah tergelincirnya matahari, yaitu sesaat setelah matahari berada di titik puncak atau titik kulminasi, atau istilah lainnya titik balik maksimum, yang pada saat itu matahari berada pada koordinat ( -b/2a , -D/4a ), dari persamaan kwadrat umum f(x) = ax2 + bx + c, diposisi itulah matahari berada pada posisi istiwa’1, bertepatan dengan posisi tinggi maksimum yaitu f(-b/2a) = -D/4a,dimana pada saat itu tidak diperbolehkan sholat.

Di posisi ini, kalau ada posisi benda berdiri tegak lurus di titik asal O(0,0), misalnya garis OA sepanjang 5 satuan, berdiri tegak lurus dengan sumbu-x di titik O, garis OA hanya akan mempunyai bayangan berupa titik saja yaitu t di titik O, garis OA hanya akan mempunyai bayangan berupa titik saja yaitu titik O(0,0). Dengan kata lain, garis OA diproyeksikan ke sumbu-x, proyeksi titik Aadalah titik O, dan proyeksi titik O ya titik O itu sendiri, yang berarti proyeksi garis OA adalah sebuah titik, yaitu titik O.

Baca Juga:  Alasan Penting Pemberian Izin Dispensasi Nikah Kurang dari 10 Hari Kerja Menurut PP Nomor 09 Tahun 1975

Contoh kongkrit dari keadaan ini,di suatu wilayah misalnya Jakarta, pada tiga hari berturut-turut, mulai Selasa 9/10/2018 hingga Kamis 11/10/2018, selama 3 menit, pukul 11.39 sampai 11.41 WIB, bayangan bangunan ikonik di Jakarta yaitu monas akan hilang,seperti yang dilansir oleh Tribunnews.com-hari tanpa bayangan akan terjadi di Jakarta ( 9/10/2018), peristiwa itu menunjukkan terjadinya waktu istwa’1 selama 3 menit, baru setelah bayangan terlihat muncul kembali, memasuki waktu dhuhur. Saat itulah posisi matahari tergelincir .

Posisi matahari di istiwa’2, yaitu posisi matahari pada saat itu akan menyebabkan benda yang berdiri tegak lurus di titik asal O(0,0) akan membentuk bayangan yang sama besar atau sama panjang dengan tinggi benda, dan membentuk segitiga samakaki, tinggi benda merupakan salah satu kaki,panjang bayangan sebagai kaki yang satunya, sehingga membentuk segitiga siku-siku dengan sudut lancipnya 45 , yang kebetulan garis AA’ merupakan satu sinar dari matahari dengan gradien m, m = tg@. Yang serta merta pada saat seperti itu titik A diproyeksikan ke garis yang bergradien m1, dimana m1 = -1/tg@ = -ctg@ dan berada di sumbu-x yaitu A’ sehingga /OA/ = /OA’/ seperti gambar 2.

Dan setelah posisi matahari tergelincir dari posisi istiwa’2, barulah sesaat sesudahnya masuk waktu sholat ashar sampai posisi matahari menjelang tenggelam atau terbenam.

Jadi tergelincirnya matahari menentukan waktu sholat dhuhur dan ashar. Karena waktu sholat dhuhur dan ashar dalam satu waktu yang sama,yaitu waktu tergelincirnya matahari, maka sholat dhuhur dan ashar bisa dijama’ maupun diqoshor. Apabila keduanya dilaksanakan diawal waktu, atau sama-sama dikerjakan di waktu tergelincir matahari1 disebut jama’ ta’dim. Dan apabila keduanya dilaksanakan di akhir waktu, atau dilaksanakan di waktu tergelincir matahari2 disebut jama’ ta’khir.

Setelah menempuh waktu yang pertama selesai, matahari tetap bergerak menelusuri lintasan parabola hingga akhirnya terbenam, saat matahari terbenam begini kita dilarang mengerjakan sholat. Selanjutnya, setelah matahari terbenam, sampailah ke babak baru yaitu waktu sholat berikutnya yang kedua, masuk ke dalam waktu gelapnya malam. Gelapnya malam dibedakan menjadi dua juga. Yang pertama adalah datangnya malam, dan yang kedua gelapnya malam itu sendiri.

Datangnya malam ditandai adanya teja di langit, yaitu warna merah yang menghiasi langit setelah beberapa saat matahari terbenam. Yang dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah candik ayu dan candik ala. Waktu yang seperti itulah disebut waktu magrib. Sudah diperbolehkan melaksanakan sholat magrib karena memang sudah masuk waktu magrib.

Berikutnya teja akan berangsur angsur menghilang, waktu magrib akan segera hilang manakala teja juga hilang dari langit. Datangnya malam berubah menjadi gelapnya malam, diwaktu itu, sudah mulailah masuk waktu isa’, yang waktunya panjang hampir sampai di penghujung malam menjelang fajar. Waktu gelapnya malam yang panjang itupun dibedakan menjadi tiga bagian, diantaranya yang pertama sepertiga malam bagian awal, yang kedua sepertiga malam bagian tengah, dan yang ketiga sepertiga malam bagian akhir yang dikenal dengan istilah waktu sahur.

Sementara kalau dilihat dari transformasi matematika, terutama refleksi, juga akan membantu menentukan batas waktu-batas waktu yang lain, contohnya manakala matahari berada pada posisi istiwa’2 dicerminkan terhadap sumbu-x, akan menghasilkan suatu bayangan dari pencerminan itu menjadi batas waktu antara sepertiga malam bagian awal dan tengah. Sedangkan hasil pencerminan ini tadi kalau diteruskan dicerminkan terhadap sumbu-y akan menghasilkan batas waktu lagi yaitu batas waktu antara sepertiga malam bagian tengah dan bagian akhir, atau secara langsung waktu istiwa’2 dirotasikan setengah lingkaran baik positip maupun negatip juga menghasilkan batas waktu antara sepertiga malam bagian tengah dan bagian akhir. Atau juga waktu istiwa’2 direfleksikan ke titik asal O(0,0),akan menghasilkan batas waktu antara sepertiga malam bagian tengah dan bagian akhir.

Dan tidak kalah pentingnya lagi, waktu masuk isa’ atau masuk gelapnya malam dicerminkan terhadap titik asal O(0,0) akan menghasilkan batas waktu masuk dhuha. Bisa juga waktu masuk isa’ dicerminkan terhadap sumbu-y akan menghasilkan batas waktu masuk subuh. Demikian juga batas waktu subuh dan batas waktu dhuha saling invers, terhadap pencerminan sumbu-x.

Karena sama-sama masuk waktu sholat yang sama, yaitu gelapnya malam (ghosakil lail), maka waktu sholat magrib dan isa’ bisa di jama’ maupun diqoshor, jika sholat magrib dan isa’ dilaksanakan diawal waktu yaitu waktu datangnya malam maka disebut jama’ ta’dim. Sedangkan jika sholat magrib dan isa’ dilaksanakan di akhir waktu yaitu waktu gelapnya malam, maka disebut jama’ ta’khir. Demikianlah sholat magrib dan isa’ bisa di jama’ karena memang keduanya termasuk dalam waktu sholat yang sama yaitu gelapnya malam.

Setelah melewati waktu malam yang panjang, pada akhirnya akan memasuki waktu yang berikutnya yaitu bacaan fajar (qur’anal fajar) yang lebih dikenal dengan waktu subuh. Yang diiringi suara-suara alam yang indah dikeheningan, selanjutnya memasuki waktu fajar kadhib beserta fajar sidiq dengan ditandai adanya warna semburat putih dilangit ufuk timur yang bentuknya menyerupai ekor kuda, hingga akhirnya tanpa adanya penerangan dari berbagai cahaya buatan manusia kita sudah bisa membedakan antara benang putih dan benang hitam. Kalau sudah bisa kita lakukan berarti kita sudah memasuki waktu subuh. Yang waktunya sangat singkat, hanya selama menjelang waktu matahari terbit.

Dengan jeda yang sama waktu subuh ke waktu terbit matahari, selanjutnya kita memasuki waktu dhuha, karena waktu dhuha merupakan cermin dari waktu subuh oleh pencerminan terhadap sumbu-x di matematika. Demikian seterusnya kita segera memasuki waktu tergelincirnya matahari lagi, berulang-ulang dalam setiap harinya selama empat tahun dengan masa periode yang sama, sesuai ketentuan tuhan yang berbunyi dimasukkan siang kepada malam dan dimasukkan malam kepada siang.

Baca Juga:  Gerakan Budaya "Nyumpah Batta'', Wujudkan Pendidikan Karakter di Sekolah

Dengan mempelajari pembagian waktu sholat,baik mempelajarinya lewat matematika maupun melalui pedoman dari tuhan yaitu al-qur’an, tentunya setelah paham dan mengerti, maunya akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan dipraktekkan dalam keseharianya sesuai waktu yang telah ditentukannya, baik sendiri maupun melibatkan banyak orang dan orang banyak, baik di rumah sendiri, di keluarga, di mushola, di langgar, di masjid, bahkan kalau perlu di tempat-tempat lapang misalnya lapangan, tentunya dengan syarat-syarat khusus yang memadai dan telah ditentukan secara syar’i, dengan tepat waktu.

Sholat yang waktunya dibagian pertama yaitu tergelincirnya matahari ya harus dikerjakan di waktu tergelincirnya matahari, bukan di waktu lain, bukan di waktu yang kedua waktu gelapnya malam, bukan juga waktu yang ketiga waktu bacaan fajar. Sholat yang waktunya dibagian kedua yaitu gelapnya malam ya harus dilaksanakan di waktu gelapnya malam,bukan di waktu lainya, bukan di waktu yang pertama waktu tergelincirnya matahari, bukan waktu yang ketiga waktu bacaan fajar.

Sholat yang waktunya dibagian ketiga yaitu bacaan fajar ya harus dilakukan di waktu yang ke tiga, tidak boleh dilakukan di waktu yang lainnya, tidak boleh dilakukan di waktu pertama tergelincirnya matahari, dan tidak boleh dilakukan di waktu yang kedua waktu gelapnya malam.

Demikian juga ke tiga waktu itu tidak boleh diringkas menjadi satu waktu dalam pelaksanaannya. Dengan kata lain tidak boleh juga untuk dirapel. Setelah kita bisa melaksanakan sholat dengan tepat waktu (li waktiha ), pelaksanaan sholat seperti itu berarti kita sudah disiplin terhadap waktu, menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sesibuk apapun kita, sangat sibuk maupun mempunyai banyak waktu luang, bahkan menganggur sekalipun asal kita bisa membagi waktu terutama waktu sholat, berarti kita telah adil kepada diri kita mengenai waktu, karena ya memang kita perlu waktu untuk mendekatkan diri kepada tuhan, perlu waktu untuk memohon dan berdoa juga bersyukur telah diberi kesempatan waktu, termasuk sejenak waktu untuk istirahan setelah waktu kitagunakan untuk pelayanan terhadap sesama manusia dan persiapan untuk pelayanan berikutnya.

Yang berarti kita sudah berusaha adil kepada diri kita, adil kepada tuhan, juga adil kepada sesama dengan seimbang. Yang pada gilirannya, jika kita semua bisa melakukan yang seperti itu, maka berarti kita semua bisa membagi waktu dengan adil baik kepada diri kita sendiri, kepada tuhan dan kepada sesama manusia. Yang berarti juga kita telah melaksanakan sila pertama sekaligus sila ke dua dari Pancasila. Dengan kata lain kita telah berketuhanan yang Maha Esa yang berkemanusiaan yang adil dan beradab.

Selain melaksanakan sholat tepat waktu, tentunya kita sangat menginginkan hal yang besar dalam perolehan pahala. Setelah menempatkan niat dalam hati dengan benar kita akan menuju tahapan selanjutnya untuk merealisasikan tindakan kita dengan benar juga sesuai kaedah yang ada.

Tentunya sholah berjamaah dengan tepat waktu pula. Sejajar dengan pengertian yang bisa dipelajari di matematika pada bab program linier, kita mengenal beberapa istilah pertidaksamaan, antara lain: sholat berjamaah pahalanya lebih besar dari sholat sendirian, tentu minimal sholat berjamaah dilakukan paling sedikit dua orang, dengan kata lain ada pertidaksamaan yang berbunyi sholat berjamaah dua orang pahalanya lebih besar dari satu orang.

Pertdaksamaan lain mengatakan sholat berjamaah tiga orang pahalanya lebih besar dari sholat berjamaah dua orang, sholat berjamaah empat orang pahalanya lebih besar dari sholatnya tiga orang, dan lain sebagainya, semakin banyak orangnya semakin banyak pahalanya, bahkan di tempat peribadatan tertentu, ada masjid yang jika seseorang sholat jamaah disitu pahalanya dilipatgandakan lima ratus kali, dengan bahasa matematikanya k.500 pahala, ada juga yang dilipatgandakan seribu kali ( k.1000 pahala), dan lain sebagainya masih banyak pertidaksamaan yang hurus kita pelajari, termasuk pertidaksamaan yang berbunyi: “ jamaah yang besar lebih disukai tuhan dari pada jamaah yang kecil”.

Selain pertidaksamaan tentunya ada juga fungsi sasaran, fungsi sasaran disini adalah pahala yang besar- besar. Diantarnya perbedaan kehadiran, kedatangan sebelum azan seseorang telah sampai ke tempat ibadah akan mendapatkan aura paling terang dan tajam seterang matahari menerngi dunia, kedatangan setelah azan seseorang telah sampai di tempat ibadah akan mendapatkan aura sesejuk dan sebening bulan purnama yang menerang malam, dan kedatangan setelah iqomah seseorang telah sampai di tempat ibadah akan mendapatkan aura seperti bintang kecil yang menghiasi angkasa. Jadi bagi semuanya saja diharapkan bisa menyesuaikan diri sesuai kehadiranya tidak usah berebut tempat untuk melangsungkan ibadah masing-masing.

Demikian juga keberadaan garis selidik yang diwakili garis shof, berguna untuk menyelidiki dimana ada keutamaan yang paling maksimal, yang tidak lain adalah barisan terdepan merupakan barisan yang paling utama bagi pria, sementara barisan paling belakang menentukan barisan yang paling utama bagi wanita. Sementara shof bagi anaa-anak yang paling utama adalah di tengah, berada diantara shof-shof pria dan shof-shof wanita.

Untuk selanjutnya supaya memperoleh pahala yang paling utama, palinng besar, optimal maka setidaknya kita harus mengupayakan keadaan yang optimal dari masing-masing komponen yang ada sesuai pengertian diatas. Yang pada akhirnya dari masing-masing kita akan memperoleh pahala sesuai yang kita usahakan tanpa mengurangi perolehan dari pihak lain siapapun.

Dengan melakukan hal yang demikian itu berarti kita telah melaksanakan sila pertama dari Pancasila yang sekaligus juga melaksanakan sila ke lima dari Pancasila. Dengan kata lain kita telah melaksanakan ketuhanan yang maha Esa yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara terpisah dari program linier, pengaturan shof juga bisa digunakan untuk mempelajari tempat kedudukan antara titik, garis dan bidang. Contohnya ada imam mewakili sebagai titik dan shof pertama sebagai model dari garis. Tentunya ada pengertian tempat kedudukan antara titik dan garis. Yang pertama adalah tempat kedudukan titik beradadi luar garis. Yaitu imam berada diluar shof pertama. Demikian juga berarti imam berada diluar shof-shof yang lain. Yang kedua tempat kedudukan titik berada pada garis. Ini bisa dicontohkan salah satu ma’mum berada pada shofnya. Selanjutnya tempat kedudukan titik terhadap bidang, diperagakan karpet sebagai bidang imam sebagai titik, keberadaan ini dikatan tempat kedudukan titik berada pada bidang. Yang berarti imam berada pada karpet.

Baca Juga:  Menulis itu Mudah, Bahkan Sangat Mudah

Lain halnya jika ada bolam lumpu yang menggantung diperagakan sebagai titik berarti lampu berada di luar karpet. Inilah tempat kedudukan titik diluar bidang. Tempat kedudukan berikutnya adalah garis terhadap garis yang lain. Yang pertama garis sejajar dengan garis yang lain. Diwakilkan shof pertama sejajar dengan shof kedua.

Dua garis dikatakan sejajar apabila kedua garis sama-sama berada dalam satu bidang dan keduanya tidak bertemu di satu titikpun. Dengan demikian dicontohkan shof pertama dan shof kedua sama-sama pada karpet atau lantai yang sama dan masing- masing shof tidak pernah bertemu. Jadi kedua shof itu sejajar.

Selanjutnya dua garis dikatakan berpotongan jika kedua garis itu berada pada bidang yang sama dan bertemu di satu titik. Dicontohkan di sini tempat kedudukan antara shof pertama dan garis arah kiblat, kedua garis itu berpotongan tegak lurus dan berada pada lantai yang sama. Dan yang terakhir dua garis dikatakan bersilangan jika kedua garis itu tidak berada pada bidang yang sama dan tidak pernah bertemu disatu titikpun.

Contohnya adalah shof kedua dengan tiang yang berada di ruang masjid. Shof kedua berada di bidang lantai sementara tiang berada pada bidang tembok dan tidak pernah bertemu. Jadi shof kedua bersilangan dengan tiang tempat kedudukan yang lain adalah garis terhadap bidang. Yang pertama garis berada pada bidang. Contohnya shof ketiga berada di bidang lantai. Bahkan semua shof berada di lantai. Yang kedua garis menembus bidang apabila garis dan bidang bertemu di satu titik. Contohnya shof keempat menembus tembok samping kiri dinding masjid. Dan yang ketiga garis sejajar bidang jika garis dan bidang itu tidak bertemu di satu titikpun. Dicontohkan disini shof kelima sejajar dengan langit-langit atas, karena mereka tidak pernah bertemu.

Tempat kedudukan yang terakhir adalah bidang terhadap bidang. Dua bidang dikatakan berimpit apabila kedua bidang itu bertemu di seluruh titiknya. Contohnya karpet dan lantai, karpet itu seluruh titiknya menempel di lantai. Contoh berikutnya karpet dan karpet lainya, karena karpet yang satu merupakan perluasan dari karpet yang lainya. Jadi masing-masing karpet itu berimpit. Dua bidang dikatakan sejajar apabila kedua bidang itu tidak pernah bertemu disatu titikpun. Hal ini diperagakan antara bidang karpet dengan bidang langit-langit, karena karpet dan langi-langit tidak pernah di satu titikpun.

Yang terakhir dua bidang dikatakan berpotongan apabila kedua bidang itu bertemu di satu garis potong. Sebagai contohnya bidang karpet dengan bidang tembok samping kanan. Mereka bertemu di garis horison. Yang berarti bidang karpet dan tembok samping kanan berpotongan. Dan lain sebagainya.

Demikianlah lurus dan rapatnya shof bisa dipelajari lewat matematika pada bab program linier dan tempat kedudukan, demi kesempurnaan sholat berjamaah. Bisa juga sholat berjamaah itu diartikan sebagai kebersamaan semua komponen yang dilibatkan, di matematika kebersamaan ini dikenal dengan istilah himpunan. Misalnya J adalah himpunan orang-orang yang melakukan sholat berjamaah, maka anggota-anggota dari himpunan J itu banyak sekali, diantaranya adalah imam, ma’mum, muazin, khotib, dan lain sebagainya termasuk para tukang penyedia sarana dan prasarana dari masjid sebelum didirikan sampai bisa digunakan untuk berjamaah, siapa saja itu banyak sekali antara lain: pengumpul dana buat pembebasan lahan sampai berlangsungnya jamaah di masjid, pembuat kotak infaq untuk penampungan dana, tukang bangunan yang meletakkan batu pertama hingga masjid bisa berfungsi, tukang listrik buat penerangan dan lainnya di masjid, ahli sound sestem buat audio yang memungkinkan, ahli kipas angin dan AC guna penyejuk ruangan masjid, ahli aplikasi yang membuat jadwal abadi sholat sehingga bisa sholat tepat waktu, ahli karpet untuk lurus dan rapatnya shof yang merupakan keutamaan sahnya sholat, termasuk semua yang mendukung keberlangsungan sholat berjamaah. Semua bersatu padu menopang keberadaan satu sama lain sesuai keahlian masing-masing. Walaupun berbeda-beda namun mewududkan satu hal yang sama yaitu terlaksananya sholat berjamaah. Yang mewakili semboyan bhinneka tunggal ika.

Dan jika kesemuanya itu terlaksana berarti kita sudah mempraktekkan berketuhanan yang maha Esa yang berpersatuan Indonesia, yaitu melaksanakan sila pertama dari Pancasila, otomatis juga menggalang persatuan melaksanakan sila ke tiga dari Pancasila.

Dengan demikian kita telah melaksanakan dari masing-masing sila-sila Pancasila. Jadi dari belajar matematika, memahami pengetahuannya secara mendetail, terampil menggunakan pengetahuan itu secara afektif, dan mau menerapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai motoriknya, maka secara langsung didasari landasan al-Quran yang memadai, otomatis kita juga melaksanakan semua sila-sila dari Pancasila secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an dan Terjemahan. 1996. Jakarta: Kementrian Agama.
  2. Haberman, Richard. 1998. Mathematical Models: Mechanical Vibrations, Populations, Dynamics, and Traffic, 1st. SIAM
  3. 2013. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Matematika SMA/ MA Kurikulum 2013. Jakarta: Kemendikbud.
  4. 2014. Matematika SMA dan MA. Jakarta:Kemendikbud.
  5. Suparmin, & Putri Estikarini. 2014.Matematika(Peminatan Matematika dan Ilmu Alam untuk SMA/MA Kelas XI. Karanganyar: C.V Mediatama.
  6. Yusnawan Lubis dan Mohamad Sodeli, 2018. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Penulis: Edy Purnomo, S.Pd (Guru SMA Negeri 2 Klaten, Jawa Tengah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar