Usai Tinjau Posko Penanganan Covid-19, Thomas Ola Sambangi “Rumah Waienga”

WPdotCOM, Lembata — Sebagai Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Lembata, Thomas Ola Langoday, SE, M.Si selalu punya agenda rutin untuk turun lapangan ke desa-desa, memantau sekaligus memastikan kesiapan aparat desa dalam mengedukasi warganya menghadapi pandemi covid-19.

Jumat kemarin (24/4), Thomas memenuhi agendanya memantau posko penanganan Covid-19 di desa Lewolein (Dikesare), Tapolangu dan Waienga, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, NTT.

Sebagai seorang yang berlatarbelakang dosen, di sela-sela kunjungan itu, Thomas Ola Langoday selalu mengedukasi para aparat dan warga secara sistematis dan mendalam terkait Covid-19 yang sedang melanda dunia secara global. Selaku pemimpin daerah ia menegaskan, agar setelah mendapatkan edukasi dari pemerintah daerah maupun desa, selanjutnya di antara warga masyarakat mesti saling mengedukasi satu sama lain.

Dalam lawatannya di ketiga desa di Kecamatan Lebatukan, selain memberikan edukasi kepada aparat dan linmas di masing-masing posko siaga penanganan covid-19, ia juga menegaskan para kepala desa agar segera merealisasikan dana desa yang peruntukannya membiayai seluruh akomodasi terkait penangan pandemi Covid-19.

Di beberapa posko utama, Wabup secara pribadi memberi sumbangan berupa sembako dan beberapa kebutuhan lainnya. Ia mengatakan, monitoring yang dilakukannya dimaksudkan untuk mengurangi rasa panik yang berlebihan di tengah masyarakat. Memberi pemahaman tetap berhati-hati dan tetap menjaga jarak, selalu mencuci tangan, mengenakan masker, dan mengingatkan anggota keluarga yang ada di luar Lembata untuk tidak pulang kampung.

“Bila itu semua diindahkan, nisacaya kita akan bebas dari penularan Covid-19,” ujarnya tegas.

Usai lawatan memantau kesiagaan aparat desa di posko siaga penanganan Covid-19 dan memberi edukasi kepada aparat desa serta anggota Linmas, ia pun menyempatkan diri menyambangi komunitas “Rumah Waienga.” Salah satu komunitas taman baca di desa Waienga setelah mendapat informasi dari masyarakat.

Taman Baca ini dinakhodai Maria Rosa Ketane Lasar, S.Pd. Seorang wanita milenial yang berlatarbelakang pendidikan Biologi. Wanita yang sebelumnya bekerja sebagai guru di SMA Katolik St. Jhon Paul II, Kabupaten Sikka-Maumere, NTT dan pernah merintis taman baca masyarakat di Sikka-Maumere.

Maria Rosa Ketane Lasar, S.Pd (Linda Lasar) pendiri Taman Baca “Rumah Waienga”

Menurut wanita lajang yang akrab disapa Linda Lasar, kunjungan Wakil Bupati Thomas Langoday ke Taman Baca “Rumah Waienga” merupakan sebuah kejutan karena tidak ada informasi kepada pihak komunitas sebelumnya. Menurutnya, mereka sangat senang karena pemimpin selevel Wakil Bupati bisa menyambangi taman baca yang baru dirintisnya akhir Januari 2020 lalu.

Meskipun usianya cukup muda namun menurut Linda, di tempat itu anak-anak muda dapat berkumpul dan mengembangkan diri dengan aneka pendidikan bermakna. “Selain taman baca, komunitas kami ini juga mengembangkan galeri seni tempat anak-anak mengembangkan diri. Ada pekarangan untuk budidaya aneka jenis sayuran dan obat-obatan. Juga beberapa kegiatan lain seperti menggali dan memperkenalkan kearifan lokal serta ragam kegiatan sosial lainnya,” ujar mantan guru Biologi ini dengan bangga.

Mahasiswi lulusan Universitas Sanata Dharma itu mengatakan, motivasi yang mendorongnya berani meninggalkan pekerjaannya sebagai guru, karena keinginan menjadi panutan kepada anak-anak muda di luar Lembata. Agar suatu waktu tidak hanya memulangkan pikirannya ke kampung halaman tetapi juga fisiknya secara total untuk membangun tanah Lembata. Menurutnya, pulang kampung berarti membangun kampung halaman, sekali pun harus dimulai dari hal yang kecil dan sederhana bahkan dianggap remeh dan tak berarti.

Linda Lasar mengawali “Rumah Waienga” dengan merangkul beberapa anak muda yang punya bakat seni. Menurutnya, anak-anak muda yang memiliki keahlian dan potensi mesti bisa menghasilkan sesuatu dari bekerja, bukan kerja asal kerja.

Anggota komunitas “Rumah Waienga” dan beberapa aktivitas akhir pekan di lokasi taman baca

“Saya merancang taman baca ini agak unik dari taman baca yang lainnya. Setiap akhir pekan, saya mendatangkan orang-orang yang memiliki kompetensi dan life skill untuk berbagi seperti apoteker, seniman, dan petani. Juga komunitas Trash Hero (peduli sampah) untuk sharing dan berbagi ilmu dan pengalaman kepada anak-anak muda di sini sehingga apa yang belum didapatkan mereka di sekolah, mereka dapatkan di taman baca,” ujarnya berapi-api.

Ia berharap, pemerintah mesti terus turun dan mendekatkan diri dalam pelayanan dengan masyarakat dalam bidang apa saja. “Bapak Wakil Bupati, kami harap bapak tidak cuma sekali mengunjungi tempat kami ini tetapi bukan berarti terus-menerus. Teman-teman hanya memohon agar kami tetap diberikan motivasi dan semangat agar anak-anak muda di kampung tidak merasa ditinggalkan oleh pemerintah,” harapnya.

Sebelum mengakhiri pembicaraan untuk kembali ke Lewoleba, Wakil Bupati menyatakan dukungannya kepada komunitas ”Rumah Waienga” dengan berjanji akan mendonasikan buku-buku bacaan untuk menambah koleksi buku-buku yang sudah ada. Wabup juga menyatakan kesediaannya memfasilitasi komunitas ini manakala ada kesulitan atau hambatan.

“Anak muda memang harus kreatif, tidak harus membelah dunia. Dan Linda telah membuktikan potensi kemudaannya itu dengan merintis taman baca ini,” pungkas Wakil Bupati Thomas Ola.

Pewarta: Albertus Muda

Tinggalkan Balasan