Guru Wajib Hindari Miskomunikasi di Masa Pandemi Covid-19

WPdotCOM, Lembata — Pemerintah melalui Kemdikbud telah menginstruksikan agar kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah untuk mencegah pandemi Covid-19.

Berbagai instrumen secara garis besar juga telah dibagikan untuk dipelajari dan dikerjakan. Misalnya, bagaimana komunikasi guru dengan siswa, guru dengan guru, guru dengan kepala sekolah dan juga guru dengan orang tua.

Demikian disampaikan Mathias Sanga Reko, S.Pd, Kepala UPTD Kecamatan Nubatukan-Kabupaten Lembata-Provinsi NTT, pada Senin, (27/4) dalam sela-sela pertemuan terbatas dengan para guru di TK Pembina Negeri 1 Nubatukan.

Dalam pertemuan itu, Mathias Reko menyampaikan kembali soal mekanisme pembelajaran. Metode mengajar yang hendak digunakan para guru. Di mana letak kendala yang dihadapi oleh para guru dalam penerapan belajar dari rumah. Dengan demikian menurutnya, masukan dari para guru terkait semua itu dapat disampaikan melalui UPTD untuk selanjutnya disampaikan ke Dinas Pendidikan agar dievaluasi dan ditindaklanjuti.

Menurut Mathias, semua yang disampaikan tentu termaktub dalam surat pemberitahuan sebelumnya. Oleh karena itu, menurutnya, pertemuan terbatas yang dilakukan adalah untuk menegaskan kepada para guru agar meminimalisir atau menghindari miskomunikasi terkait pemberlakuan sistem pembelajaran dari rumah.

Lebih lanjut ia mengingatkan, apabila ada kesalahpahaman atau miskomunikasi antara guru dengan guru atau antara kepala sekolah dan guru bahkan antara guru dan orangtua agar segera disampaikan sehingga secepatnya dicarikan solusi sehingga tidak menjadi penghambat pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah.

Kepala UPTD Kecamatan Nubatukan ini menegaskan, apabila ada kekurangpahaman soal regulasi menyangkut isi permendikbud atau pun surat edaran yang belum diterjemahkan atau dipahami secara benar dan detail oleh para guru dan kepala sekolah agar sesegera mungkin dikomunikasikan dengan pihak UPTD.

“Seyogyanya pembelajaran dari rumah untuk anak TK/PAUD dilakukan demi mengasah motorik dan menumbuhkan karakternya selama masa pandemi covid-19 ini. Mungkin sebagian dari kita berpendapat bahwa perlu adanya pembelajaran sedang sebagian yang lain mengikuti pernyataan mendikbud dalam permendikbud yang menegaskan agar anak-anak TK/PAUD jangan dibebani dengan berbagai ugas untuk belajar di rumah. Hal terpenting bagi kita adalah kita mesti menyatukan persepsi dan berkomitmen untuk menghindari gesekan atau miskomunikasi sehingga anak-anak bisa didampingi sesuai pembagian dan jadwal yang disiapkan bapak/ibu guru,” ujar Kepala UPTD dengan tegas.

Lebih lanjut ia menegaskan, pembelajaran yang diberlakukan selama masa belajar di rumah kepada anak TK/PAUD jangan sampai diangan-angankan terlalu tinggi. Menurutnya, buat yang sederhana saja, misalnya, bapak/ibu guru mengasah mootorik kasar anak dengan kegiatan mewarnai gambar. “Bapak/ibu guru tentu mempunyai buku mewarnai. Ya, bukunya difotokopi lalu dibagikan kepada anak melalui orang tua untuk selanjutnya anak-anak mewarnai di rumah dan diberi batas waktu kapan bisa diambil melalui kunjungan guru ke rumah anak-anak,” ujarnya meneguhkan.

Para guru TK Pembina Negeri 1 Nubatukan-Kabupaten Lembata-Provinsi NTT

Ia juga menekankan bahwa pembelajaran di rumah selain mendapatkan pencapaian secara akademik, tetapi yang terpenting adalah sosialisasi pemutusan penyebaran Covid-19 kepada anak-anak dan orangtua selama masa waktu mengunjungi anak seperti yang ditegaskan dalam protokol kesehatan untuk menjauhi keramaian, rajin cuci tangan, selalu mengenakan masker apabila keluar rumah, jaga kebersihan dan daya tahan tubuh anak.

Para guru yang hadir pun merasa terbebani karena kesalahan persepsi. Namun, mereka akhirnya menyepakati untuk turun ke rumah. “Meski karakteristik anak sudah direkam oleh bapak/ibu, tetapi pada tahap akhir ini paling kurang guru mempunyai data tentang anak-anak untuk memperkuat data sebelumnya sebagai penilaian untuk menaikan anak ke kelas di atasnya,” paparnya.

Kepala UPTD Nubatukan juga mengingatkan soal anak-anak yang rentan dengan berbagai penyakit, maka saat kunjungan edukasi tentang Covid-19 mesti lebih diperdalam. Ia menambahkan, memang tanpa Covid-19 pun anak-anak PAUD sudah biasa belajar di rumah dengan kelas parenting, di mana orangtua mendampingi anak belajar di rumah. Namun demikian, guru tetap tak tergantikan.

Secara keseluruhan, pembelajaran dilakukan secara offline, sehingga guru langsung mengunjungi siswa dari rumah ke rumah. Menurutnya, hanya ada beberapa anak yang melakukan pembelajaran online. Itu pun menurutnya, akan efektif jikalau dikomunikasikan dengan orangtua murid. Sejatinya, menurutnya, anak mesti didampingi oleh orang tua sesuai dengan mekanisme arahan yang diberikan oleh bapak/ibu guru.

Pria yang rajin melakukan kunjungan ke sekolah secara rutin ini mengatakan, setiap instrumen yang dikirim ke sekolah tentunya setelah dikerjakan pasti akan ada laporan ke pihak UPTD. Namun menurutnya, ia sering mengunjungi sekolah-sekolah bukan berarti dirinya tidak percaya melainkan lebih dari itu, ia hadir untuk memberi semangat, motivasi dalam bekerja sehingga para guru di kampung-kampung merasa bahwa dalam situasi pandemi Covid-19 masih ada pimpinan yang datang mengunjungi kita.

Mathias Sanga Reko, S.Pd, Kepala UPTD Kecamatan Nubatukan dalam kesempatan kunjungan ke salah satu sekolah.

Di sela-sela waktu mengunjungi sekolah-sekolah dalam masa pandemi Covid-19, ia sungguh merasakan diterima baik oleh tim penanganan Covid-19 di setiap posko masuk desa. Di setiap pintu masuk ia mengatakan, setiap orang yang berkunjung ke desa tersebut wajib mencuci tangan sebelum masuk desa, isi buku tamu dengan segala maksud seperti yang berlaku dalam situasi formal di setiap instansi. “Kita diterima sesuai prosedur pemutusan penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Ia berharap, tujuan akhir dari semua kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pendidikan dan pengajaran adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Baik secara formal di sekolah maupun di rumah. Sebab menurutnya, tempat hanya dipindahkan dari sekolah ke rumah. Tetapi peran guru sebagai pengajar tidak tergantikan. Demikian juga orang tua sebagai pendidik.

Di akhir pembicaraan, ia mengatakan, secara edukasi, metodik, pedagodik guru memang menguasai tetapi dukungan spirit dari orangtua juga dibutuhkan untuk mendukung anak belajar di rumah. Bagi para guru, ia menegaskan, meski pembelajaran terjadi di rumah tetapi diharapkan terjadi dalam satu kesatuan yang utuh tanpa mengorbankan aspek lainnya. Baik secara akademik maupun karakter, budi pekerti lainnya walaupun pembelajaran terjadi di rumah.

Pewarta: Albertus Muda

Tinggalkan Balasan