Kadisdik Lembata Sambangi Beberapa Sekolah Usai Pantau Pembentukan Desa Siaga Covid-19

WPdotCOM, Lembata — Setelah dipercayakan menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Silvester Samun, SH tak henti melakukan pemantauan sesuai dengan tugas teknis yang diembankan kepadanya di masa pandemi Covid-19.

Setelah memantau beberapa sekolah di Ile Ape Kecamatan Ile Ape Timur, Kadis Silvester berkesempatan mengunjungi wilayah Kecamatan Wulandoni, sebuah wilayan yang letaknya di pantai selatan Kabupaten Lembata berdekatan dengan Lamalera desa yang terkenal dengan budaya penikaman ikan Paus.

Saat Warta Pendidikan mewancarainya via telepon seluler ia mengatakan, tugas ke Wulandoni pada Senin, (27/4) kemarin bukan semata untuk memantau sekolah-sekolah di wilayah tersebut, melainkan pemantauan gugus tugas desa terkait pembentukan desa siaga untuk penanganan covid-19. “Tujuannya utama saya ke Kecamatan Wulandoni adalah bertemu para kepala desa. Dan di sela-sela pertemuan itu, saya melihat bahwa di sekolah tersebut guru-guru sedang berada di sekolah, maka saya pun menyempatkan diri memantau aktivitas mereka dan mendapatkan keterangan dari mereka terkait pelaksanaan pembelajaran dari rumah,” ungkapnya.

Kadis Sil Samun mengatakan, ada empat sekolah yang sempat dikunjunginya yakni SDI Labalimut, SDK Boto (kedua sekolah ini masuk kecamatan Nagawutung-red), SMPN 2 Wulandoni dan SDK Labala (kecamatan Wulandoni). Menurutnya, sekolah lainnya tidak sempat dikunjunginya karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 wita tanda sekolah telah usai sehingga pada tutup.

Ia melanjutkan, sesuai surat edaran, Kepala Sekolah wajib tetap berada di sekolah selama pembelajaran dari rumah. Hal itu menurutnya, tergantung sistem pembelajaran yang sekolah gunakan, apakah online atau offline yang berupa penugasan. Intinya, ia menagaskan, jangan sampai pembelajaran terjadi dengan mengumpulkan sejumlah besar siswa. “Pada saat lagi ada kepentingan yang harus dibicarakan sama-sama tetapi jika banyak siswa tidak memiliki media komunikasi pendukung yang memadai, maka guru dan siswa harus datang ke sekolah dengan terlebih dahulu minta injin pada gugus tugas desa/kelurahan dan tetap mematuhi protokol covid-19,” ungkapnya.

Mantan Kabag Hukum Setda Kabupaten Lembata ini melanjutkan, prinsipnya setiap hari yang wajib ke sekolah adalah kepala sekolah juga didampingi operator dan bendahara sekolah. Para guru yang lain menurutnya, disesuaikan dengan kebutuhan soalnya muridnya kan belajar di rumah. “Khusus untuk SD kan guru kelas jadi tugasnya memantau siswa SD yang lagi belajar di rumah. Demikian juga untuk SMP, guru mata pelajaran juga menyesuaikan,” ungkapnya menegaskan. Ia mengatakan, sesuai aturan kepala sekolah dibebastugaskan dari mengajar, sehingga guru-guru seusai memantau situasi belajar anak di rumah, dapat membawa laporan ke kepala sekolah namun tetap disesuaikan dengan protokol kesehatan pencegahan covid-19.

Silvester Samun, SH, (pertama dari kanan) Kadis Pendidikan Kabupaten Lembata-Provinsi NTT dalam lawatannya ke SDK Boto.

Sang Kadis juga menuturkan, memang penerapan aktivitas belajar model ini boleh dikatakan baru sehingga kita tidak menyiapkan diri untuk menghadapi pembelajaran dari rumah. Pasti tetap ada kekurangan tetapikita tetap evaluasi seiap minggu untuk perbaiki. “Prinsipnya guru, orangtua/wali, komite, anak didik semua munsur di bawahnya perlu dijaga keselamatan mereka terlebih dahulu kemudian kita boleh menyelenggarakan proses pembelajaran di rumah dengan baik sesuai protokol Covid-19,” ungkapnya.

Terkait sistem pembelajaran, mantan Kabag Hukum ini mengatakan, hampir sebagian besar sekolah-sekolah di Lembata masih menggunakan sistem offline karena terkendala jaringan, karena tidak diantisipasi sebelumnya sehingga lebih banyak diinstruksikan kepada para guru untuk kunjungan rumah. Apalagi menurutnya, banyak siswa dan orang tua juga tidak memiliki smartphone untuk mempermudah komunikasi dengan para guru dalam rangka pembelajaran di rumah, juga ketersediaan data untuk mengakses internet yang sangat terbatas. Maka kita minta pembelajaran dibuat secara offline melalui penugasan-penugasan.

Intinya menurut dia, pembelajaran hendaknya dilaksanakan dalam suasana nyaman sehingga anak-anak tidak merasa tertekan, stres yang bisa saja memicu menurunnya daya tahan tubuh. Ia menegaskan agar kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh anak-anak mesti tetap terjaga supaya mereka tetap melakukan aktivitas belajar di rumah dengan baik.

Ia memaparkan, semua laporan bulan lalu telah diverifikasi dan dari penilaian itu dapat dijadikan acuan untuk menetapkan kebijakan selanjutnya. Sesungguhnya, menurutnya, pembelajaran tidak boleh terlalu dipaksakan. Menurutnya, jika rumah-rumah ibadat saja kosong, bagaimana dengan sekolah. Oleh karena itu ia mengimbau agar semua stakeholder mesti sama-sama berkoordinasi dalam menerapkan protokol demi memerangi covid-19.

Di akhir wawancara ia mengatakan, memang saat ini di sekolah tidak dituntut juga untuk nilai ijazah, nilai kenaikan kelas karena sekolah masih dapat menggunakan portofolio yang sudah ada. Akan tetapi ia mengingatkan, semua pihak harus tetap memberikan motivasi bagi siswa bahwa karena mereka masih muda, mereka masih tetap siswa, anak sekolah meskipun sekolahnya dilaksanakan di rumah.

Ia berpesan agar guru tidak boleh melakukan tindakan atau memberikan penugasan yang menyebabkan siswa stres, orang tua stres. Ia berharap, koordinasi mesti terus digalakkan apabila ada aktivitas penting yang dilakukan di setiap satuan pendidikan. “Umpanya ada tugas yang dipandang mendesak, maka terus berkoordinasi dengan gugus tugas yang ada di desa dan kelurahan agar tugas atau kegiatan itu dapat dilakukan tetapi tetap menaati protokol yang ditetapkan,” pungkasnya.

Pewarta: Albertus Muda

Tinggalkan Balasan