Anak dan Urgensi Pendidikan Eksploratif

Sikap yang ditunjukkan oleh guru dan orang tua di atas, secara tidak langsung memberi pembelajaran kepada anak tentang pentingnya kejujuran dan bersikap realistis. Rasa gengsi guru dan orang tua di hadapan anak mesti dihindari agar tidak menghasilkan jawaban yang secara terpaksa diberikan tetapi isinya megandung kebohongan demi menghindari rasa malu.

Potensi Gemar Menjelajah

Semua anak gemar menjelajah, menelaah, mengkaji, meneliti, mengeksplorasi dan menyelidik hal-hal baru. Anak-anak ingin selalu memegang, mencium, memakan dan mencoba apa saja yang ada di sekitarnya tanpa pernah takut atau memperhitungkan risikonya.

Gemar menjelajah berkaitan dengan dorongan dari dalam diri anak. Jiwa menjelajah muncul ketika seorang anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Dengan kata lain, gemar menjelajah dan rasa ingin tahu merupakan dua potensi yang saling menguatkan.

Seorang anak akan gemar menjelajah ilmu pengetahuan, manakala ia terinspirasi dan ingin tahu tentang sesuatu yang baru. Potensi ini dapat dikembangkan, jika guru dan orang tua mampu memberikan stimulus yang menggugah rasa ingin tahu anak.

Guru dan orang tua yang cenderung memaksa mencurahkan isi buku atau apa yang ada di pikirannya, dengan sendirinya akan mematikan jiwa menjelajah dan rasa ingin tahu dalam diri anak. Anak cenderung pasif bahkan tidak kreatif apalagi inovatif.

Komunikasi dialogis menjadi fundamen yang mesti dibangun secara simultan dan kontinu antara orang tua dan anak; guru dan anak. Pertanyaan yang keluar dari mulut anak sebagai ungkapan keingintahuannya mesti dijawab dengan baik dan benar, sederhana dan mudah dimengerti.

Setiap jawaban yang diberikan mesti diterangkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak. Orang tua dan guru mestinya menyadari bahwa anak belajar tidak seperti orang dewasa pada umumnya. Anak belajar manakala ia menaruh perhatian pada sesuatu. Prosesnya tersiklus secara teratur dari hati ke otak, dari afeksi ke kognisi atau dari rasa ke tahu.

Membudayakan Kebiasaan Bertanya Siswa

Dalam proses belajar mengajar di sekolah atau interaksi belajar mandiri di rumah, jarang ditemukan anak-anak mengajukan pertanyaan. Mungkin ada, tetapi paling banyak satu atau dua orang anak. Demikian juga dalam seminar dan lokakarya, baik tatap muka maupun daring jarang para peserta mengajukan pertanyaan.

Kegamangan yang tergambar dalam situasi di atas, jelas berlatar belakang pendidikan. Memprihatinkan apabila di sekolah, anak-anak tidak didorong bahkan diberi kesempatan untuk bertanya. Anak-anak akan memilih tidak bertanya bahkan diam atau menyibukan diri dengan aktivitas yang lain.

Situasi pembelajaran yang…

Tinggalkan Balasan