Anak dan Urgensi Pendidikan Eksploratif

Situasi pembelajaran yang demikian, akan terbawa bila anak semakin dewasa dan hidup di tengah masyarakat. Gagasan, komentar bahkan kritik tajam yang mesti disampaikan guna memperkaya kazanah pendapat tidak akan lahir. Padahal dibutuhkan seruan profetis di tengah kegamangan berpikir yang kian melanda masyarakat.

Di masa pandemi covid-19, pembelajaran formal dilaksanakan di rumah. Menjadi masa yang tepat bagi para orang tua untuk menilai sejauh mana anak-anak mereka berperan aktif mengajukan pertanyaan atau saling mengungkapkan pendapat di antara mereka atau kepada guru dan orang tua.

Banyak penugasan yang diberikan oleh para guru baik secara daring maupun secara langsung dengan langkah guru mendatangi para siswa di rumah mereka masing-masing. Adakah guru mendapatkan pertanyaan kritis dari para siswa setelah memberikan penugasan secara daring maupun secara langsung?

Situasi di atas sangatlah disesalkan. Romo Mangunwijaya (2009) bahkan dengan tegas pernah menulis, tolok ukur anak yang cerdas bukanlah anak yang dapat menjawab banyak soal atau pertanyaan dari dalam buku pintar atau dari guru dan orang tua, melainkan sejauh mana anak dengan berani mengajukan pertanyaan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Menurut Romo Mangun, Tuhan mencipta setiap anak yang serba dinamis, bergerak dan bermain, serba mencari dan kagum. Akan tetapi, suasana di rumah bahkan sekolah membuat anak enggan bertanya. Anak lebih memilih aman untuk menghafal bahkan menjadi pembeo.

Padahal menurut Romo Mangun, setiap anak direka Tuhan, justru agar semakin kritis dan serba bertanya, bahkan membantah terhadap dimensi-dimensi sikap yang perlu agar mantap perkembangannya menuju kedewasaannya atau menjadi pribadi yang kuat dan tangguh (A. Ferry T. Indarto, 2009:158).

Setiap guru dan orang tua mesti memahami benar tahapan perkembangan anak berdasarkan usianya. Misalnya, usia dini sebagai usia emas, mestinya dipersiapkan sebaik mungkin dengan menyediakan ruang bertanya yang luas. Anak-anak mesti diberi ruang, agar dari dalam dirinya, lahirlah ide-ide kreatif dan inovatif juga gagasan-gagasan kritis yang memekarkan dirinya juga sesama temannya.

Menstimulus anak-anak untuk bertanya dengan pertanyaan yang sederhana tetapi berkualitas merupakan tugas mendesak semua stakeholder. Meminjam bahasa mantan Mendikbud Mohammad Nuh (2011:vii), para guru dan orang tua mesti menumbuhkan rasa penasaran intelekktual (intellectual curiousity) sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan. (*)

Penulis: Albertus Muda, S.Ag (Guru SMA Negeri 2 Nubatukan-Lewoleba-Kab. Lembata-NTT)

Tinggalkan Balasan