oleh

Memekarkan Kemampuan Bertanya Anak; Autokritik Guru dan Orang tua

WPdotCOM — Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini, unik dan khas. Tak seorang pun persis sama dari miliaran manusia yang ada.

Berhadapan dengan perbedaan-perbedaan itu, dibutuhkan sikap arif memahami, dan bijak menerima keunikan diri sendiri maupun orang lain. Dibutuhkan ketersediaan ruang (waktu maupun tempat) untuk memekarkan perbedaan-perbedaan tersebut. Perbedaan-perbedaan itu hendaknya diterima sebagai sebuah kenyataan yang saling melengkapi, bukan sebuah batu sandungan atau kerikil tajam yang menghalangi ruang gerak dan tumbuh kembang pihak lain.

Orang tua di rumah dan guru di sekolah, juga masyarakat pada umumnya, mestinya semakin memahami bahwa anak-anak memang berlainan. Perbedaan-perbedaan itu, hendaknya diamati, dipelajari, dihargai, dan sedapat mungkin dimekarkan menurut keunikan masing-masing.

Secara kodrati, setiap anak yang terlahir ke dunia, dianugerahi Tuhan indera penglihatan (dua mata), indera pendengaran (dua telinga), indera penciuman (hidung), indera perasa (lidah), akal budi, kehendak bebas dan hati nurani. Semuanya dianugerahkan Tuhan sesuai dengan fungsi dan perannya.

Urgensi Rasa Ingin Tahu

Anatole Frances, sastrawan Perancis mengatakan, rasa ingin tahu (curiousity) merupakan kebajikan terbesar (Herman J.P. Maryanto, 2011:64). Menurutnya, karena rasa ingin tahunya, anak-anak selalu bertanya kepada siapa saja, tentang apa saja yang belum diketahuinya tanpa ada rasa sungkan, malu atau minder.

Lebih lanjut menurut Frances, rasa ingin tahu merupakan kebutuhan dasar setiap anak untuk memahami eksistensi dunia sekitarnya. Rasa ingin tahu menjadi pintu masuk anak-anak  ke dunia luar yang lebih luas. Rasa ingin tahu juga sebagai langkah awal bagi anak untuk membangun pemahaman dan pengetahuannya.

Sayangnya, potensi ini cenderung tidak dihargai oleh orang dewasa pada umumnya. Ketika anak terus bertanya tentang banyak hal, guru dan orang tua kerap merasa gerah, terlebih jika pertanyaan itu tidak bisa dijawab. Marah menjadi solusi paling mudah dilakukan untuk membungkam anak agar tidak bertanya.

Menurut (alm) Romo Mangun (2004:94), guru dan orang tua mestinya jujur mengatakan bahwa jawaban langsung atas pertanyaan sulit yang diajukan anak belum bisa didapatkannya saat ini. Akan tetapi, jawaban akan pertanyaan sulit yang diajukan tersebut akan terus dicari jawabannya di berbagai sumber bahkan kepada narasumber yang dianggap lebih paham.

Sikap yang ditunjukkan oleh guru dan orang tua di atas, secara tidak langsung memberi pembelajaran kepada anak tentang pentingnya kejujuran dan bersikap realistis. Rasa gengsi guru dan orang tua di hadapan anak mesti dihindari agar tidak meghasilkan jawaban yang secara terpaksa diberikan tetapi isinya megandung kebohongan demi menghindari rasa malu.

Potensi Gemar Menjelajah

Semua anak gemar menjelajah, menelaah, mengkaji, meneliti, mengeksplorasi dan menyelidik hal-hal baru. Anak-anak ingin selalu memegang, mencium, memakan dan mencoba apa saja yang ada di sekitarnya tanpa pernah takut atau memperhitungkan risikonya.

Gemar menjelajah berkaitan dengan dorongan dari dalam diri anak. Jiwa menjelajah muncul ketika seorang anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Dengan kata lain, gemar menjelajah dan rasa ingin tahu merupakan dua potensi yang saling menguatkan.

Seorang anak akan gemar menjelajah ilmu pengetahuan, manakala ia terinspirasi dan ingin tahu tentang sesuatu yang baru. Potensi ini dapat dikembangkan, jika guru dan orang tua mampu memberikan stimulus yang menggugah rasa ingin tahu anak.

Guru dan orang tua yang cenderung memaksa mencurahkan isi buku atau apa yang ada di pikirannya, dengan sendirinya akan mematikan jiwa menjelajah dan rasa ingin tahu dalam diri anak. Anak cenderung pasif bahkan tidak kreatif apalagi inovatif.

Komunikasi dialogis menjadi fundamen yang mesti dibangun secara simultan dan kontinu antara orang tua anak; guru dan anak. Pertanyaan yang keluar dari mulut anak sebagai ungkapan keingintahuannya mesti dijawab dengan baik dan benar, sederhana dan mudah dimengerti.

Setiap jawaban yang diberikan mesti diterangkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak. Orang tua dan guru mestinya menyadari bahwa anak belajar tidak seperti orang dewasa pada umumnya. Anak belajar manakala ia menaruh perhatian pada sesuatu. Prosesnya tersiklus secara teratur dari hati ke otak, dari afeksi ke kognisi atau dari rasa ke tahu.

Membudayakan Kebiasaan Bertanya Siswa

Dalam proses belajar mengajar di sekolah atau interaksi belajar mandiri di rumah, jarang ditemukan anak-anak mengajukan pertanyaan. Mungkin ada, tetapi paling banyak satu atau dua orang. Demikian juga dalam seminar dan lokakarya, jarang para peserta mengajukan pertanyaan.

Kegamangan yang tergambar dalam situasi di atas jelas berlatar belakang pendidikan. Memprihatinkan apabila di sekolah, anak-anak tidak didorong bahkan diberi kesempatan untuk bertanya. Anak-anak akan memilih tidak bertanya bahkan diam atau menyibukan diri dengan aktivitas yang lain.

Situasi pembelajaran yang demikian, akan terbawa bila anak semakin dewasa dan hidup di tengah masyarakat. Gagasan, komentar bahkan kritik tajam yang mesti disampaikan guna memperkaya khazanah pendapat tidak akan lahir. Padahal dibutuhkan seruan profetis di tengah kegamangan berpikir yang kian melanda masyarakat.

Di masa pandemi covid-19, pembelajaran formal dilaksanakan di rumah. Menjadi masa yang tepat bagi para orang tua untuk menilai sejauh mana anak-anak mereka berperan aktif mengajukan pertanyaan atau saling mengungkapkan pendapat di antara mereka atau kepada guru dan orang tua.

Banyak penugasan yang diberikan oleh para guru baik secara daring maupun secara langsung dengan langkah guru mendatangi para siswa di rumah mereka masing-masing. Adakah guru mendapatkan pertanyaan kritis dari para siswa setelah memberikan penugasan secara daring maupun secara langsung?

Menanggapi situasi di atas, Romo Mangun pernah mengatakan, tolok ukur anak yang cerdas bukanlah anak yang dapat menjawab banyak soal atau pertanyaan dari dalam buku pintar atau dari guru dan orang tua, melainkan sejauh mana anak dengan berani mengajukan pertanyaan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Menurut Romo Mangun, Tuhan mencipta setiap anak yang serba dinamis, bergerak dan bermain, serba mencari dan kagum. Akan tetapi, suasana di rumah bahkan sekolah membuat anak enggan bertanya. Anak lebih memilih aman untuk menghafal bahkan menjadi pembeo.

Padahal menurut Romo Mangun, setiap anak direka Tuhan, justru agar semakin kritis dan serba bertanya, bahkan membantah terhadap dimensi-dimensi sikap yang perlu agar mantap perkembangannya menuju kedewasaannya atau menjadi pribadi yang kuat dan tangguh (A. Ferry T. Indarto, 2009:158).

Setiap guru dan orang tua mesti memahami benar tahapan perkembanga berdasarkan usianya. Misalnya, usia dini sebagai usia emas, mestinya dipersiapkan sebaik mungkin dengan menyediakan ruang bertanya yang luas. Anak-anak mesti diberi ruang, agar dari dalam dirinya, lahirlah ide-ide kreatif dan inovatif juga gagasan-gagasan kritis yang memekarkan dirinya juga sesama temannya.

Menstimulus anak-anak untuk bertanya dengan pertanyaan yang sederhana tetapi berkualitas merupakan tugas mendesak semua stakeholder. Meminjam bahasa mantan Mendikbud Mohammad Nuh (2011:vii), para guru dan orang tua mesti menumbuhkan rasa penasaran intelekktual (intellectual ccuriousity) sebagai modal untuk mengembangkan kreativitas dan daya inovatif yang dijiwai dengan nilai kejujuran dan dibingkai dengan kesopanan dan kesantunan.

Penulis: Albertus Muda, S.Ag (Guru SMA Negeri 2 Nubatukan-Lewoleba-Kab. Lembata-NTT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *