oleh

Ramadhan, Bulan Mulia untuk Evaluasi Diri Demi Perubahan Umat

“Sering kali kita mudah mengingat wajah orang lain, namun lupa dengan wajah sendiri”.

WPdotCOM  — Tak terasa, kita sudah mencapai pertengahan Bulan Ramadhan. Sejak tahun Hijriyah ditetapkan oleh Khalifah Umar Ibnu Khatab sebagai tahunnya umat Islam, maka sudah 1441 tahun lamanya kita mengenal Islam sebagai bagian dari sendi kehidupan.

Sudah sangat paham kiranya kita tentang Islam, agama yang kita yakini. Telah pula sangat paham kita tentang ajaran Islam, ajaran yang menjadi aturan yang harus kita ikuti. Jadi tidak mungkinlah kita mengingkari hal-hal yang diajarkan dalam agama Islam. Bahkan sejak lahir, kita diadzankan, diiqomahkan, demi memastikan agama yang kita sandang adalah Islam. Islam adalah jalan hidup, cara hidup kita, denganya berislam hati merasa tenang dan damai.

Semua ajaran Islam, meliputi seluruh sendi kehidupan. Dari kita bangun tidur hingga tidur lagi, ada cara yang dicontohkan oleh agama Islam. Dengan cara yang diajarkan dalam Islamlah kehidupan menjadi lebih baik. Baik di dunia perdagangan, bisnis, politik dan pemerintahan, semua ada dalam ajaran Islam. Menjalin silaturahmi, mengayomi anak yatim, memberi makan fakir miskin, mendidik generasi, dan menyalurkan ilmu yang dimiliki adalah tuntunan dalam Islam. Bahkan Allah selalu memberikan ganjaran setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Walaupun kebaikan itu hanya sekecil dzarrah pun Allah akan balas.

Begitulah Islam mengajarkan kita tentang kehidupan. Hidup di dunia yang menurut ajaran Islam hanyalah fatamorgana, panggung sandiwara, kehidupan sementara, dan akhiratlah kehidupan yang kekal selama-lamanya.

Setelah 1441 tahun berjalannya waktu, sebagian kita sudah mulai banyak melupakan ajaran Islam. Saat ini ajaran Islam banyak dibicarakan hanya sebatas di tenggorakan, keluar melalui ucapan. Atau hanya identitas yang ada di kartu kependudukan. Tidak lagi berada dalam sendi kehidupan, sebagaimana yang pernah Rasulullah dan para sahabat ajarkan.

Hidup mulai pada ke”aku”an, mencintai dunia berlebihan, senang melihat orang kesusahan dan susah melihat orang berada dalam kesenangan. Muncullah keinginan berlebihan, ingin, dihormati, disegani dan ditakuti oleh orang lain. Ingin dunia beserta  isinya, miliknya pribadi, sehingga berlomba-lomba dalam mengejar jabatan, status sosial, demi hanya ingin terpandang di tempat ia tinggal.

Bahkan banyak yang rela melakukan berbagai cara demi ambisinya agar jadi kenyataan. Tidak memikirkan lagi norma dan ajaran yang pernah Rasul dan para sahabat ajarkan. Begitulah sifat manusia, ketika sudah jauh dari ajaran Islam. Sedih dan menangis tentunya kita melihat kondisi saat ini. Namun itulah kehidupan yang tetap berproses sesuai takdir yang sudah Allah garisi.

Di bulan Ramadhan, dalam situasi yang sedang terserang wabah Covid-19 ini, banyak dari kita yang mulai menyadari untuk belajar hidup lebih baik. Adanya fatwa MUI yang mengatur tentang kehidupan beribadah dan aturan pemerintah, sedikit banyaknya mengubah cara dalam bersosial dan beraktivitas. Terjadi pro dan kontra di mana-mana, tapi jadikanlah itu sebagai pelajaran untuk kita. Untuk memperbaiki kualitas diri, dan belajar memahami kondisi saat ini.

Akhirnya muncul berbagai kepedulian yang tulus di antara kita untuk membantu sesama. Namun ada juga kepedulian yang didasari untuk kepentingan semata. Memang di setiap kesempatan selalu ada dua sisi dalam tujuan. Demi ambisi pribadi atau demi membantu orang lain. Pada hakikatnya semua itu hanya akan didasari dengan apa yang terniat di dalam hati. Yang pasti, keikhlasan dan rasa kepedulian itu hanya akan tumbuh bilamana ia mengenal dirinya. “man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu” artinya, siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.

“Sering kali kita mudah mengingat wajah orang lain namun lupa dengan wajah sendiri”. Jadi mulailah kita mengenal siapa diri kita. Untuk apa kita diciptakan? Untuk apa ada kehidupan? Kenapa harus ada kematian? Kenapa selalu ada balasan dalam setiap perbuatan? Dan di manakah kehidupan yang kekal?

Bilamana pertanyaan itu sudah terjawab dalam diri, maka mulailah dari sekarang, perkuat persatuan, munculkan kepedulian, praktikkan ajaran Islam yang pernah diajarkan. Jadikan ia pedoman dalam kehidupan. Sehingga nanti terciptalah sebuah peradaban baru yang membuat umat berada dalam kehidupan yang tenteram penuh kedamaian. Kuncinya satu mulailah belajar, belajar dan belajar.

Penulis: Abdullah Khairul Fattah (Founder El-Dzakir Institute)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *