oleh

Hari Keluarga Nasional Jadi Momentum Keluarga Indonesia Bangkit dari Covid-19

WPdotCOM, Jakarta — Pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia memberikan dampak besar, termasuk bagi kehidupan keluarga di Indonesia. Situasi tersebut justru semakin merekatkan hubungan keluarga yang kian guyub dan akrab.

Saat pandemi seperti sekarang, setiap orang harus kembali ke lingkup terkecil dan yang sangat berharga yaitu keluarga. Keluarga adalah sumber yang selalu menghidupkan, memelihara, memantapkan serta mengarahkan. Keluarga adalah sumber kebahagiaan dan keceriaan, pusat cinta dan kasih sayang yang senantiasa menopang semangatserta menjadi perisai dalam menghadapi segala persoalan.

Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh pada 29 Juni setiap tahunnya harus menjadi momentum bersama untuk menumbuhkan kesadaran bagi setiap individu Indonesia akan pentingnya institusi terkecil sumber kekuatan pembangunan bangsa dan negara yaitu keluarga.

Keluarga diyakini sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. Oleh karenanya, pemerintah melalui BKKBN mengajak seluruh keluarga di Indonesia untuk bangkit melawan Covid-19 di masa new normal.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy juga turut mendorong keluarga Indonesia untuk dapat bersatu dan bangkit menghadapi new normal di tengah pandemi saat ini.

“Keluarga adalah lingkup terkecil dalam kehidupan sosial seseorang. Momentum Harganas di tengah pandemi ini harus betul-betul kita manfaatkan untuk memperkuat peran keluaga dalam upaya melawan Covid-19,” tegas Menko PMK.

Survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 20 ribu keluarga di Indonesia mengungkap sebagian besar keluarga di Indonesia tangguh dalam menghadapi Covid-19 karena mampu menerima, saling mendukung, serta menghindari pertengkaran di masa pandemi ini.

Di balik tangguhnya keluarga Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19, terdapat peran istri dalam mempertahankan keharmonisan rumah tangga. “Kalau kita tanya siapa yang melakukan pekerjaan di rumah, survei mengatakan 49,1 persen suami istri, tapi 34,3 persen mengatakan istri dominan, 15,9 persen istri saja dominan,” ujar Kepala BKKBN Hasto Wardoyo.

Sedangkan, terkait pengasuhan anak, survei BKKBN menyebut suami dan istri melakukannya bersama-sama (71,5 persen). Sisanya 21,7 persen istri lebih dominan dan 5,8 persen mengatakan istri saja.

Untuk pemenuhan atau pembelian kebutuhan rumah tangga, 53,8 persen keluarga mengatakan bahwa peran tersebut dibagi rata antara suami dan istri. Namun 22,8 persen menyatakan bahwa istri lebih dominan dan 11,1 persen hanya istri saja. Hanya 8,3 persen yang menyebut suami lebih dominan dan 4 persen yang mengatakan hanya suami saja.

Soal bagaimana mengingatkan hidup sehat dalam keluarga, 82,5 persen menyatakan membagi peran tersebut rata antara suami dan istri dengan 12,4 persen mengatakan istri lebih dominan. Kemudian (mengenai) siapa yang mengingatkan berdoa dan beribadah, 86 persen suami istri, tapi 7,2 persen jauh lebih tinggi daripada suami adalah istri.

Hanya dalam mengingatkan berpikir dan berperilaku positif peran suami lebih besar yaitu 5,3 persen. Namun angka ini lebih tinggi sedikit dengan peran istri yaitu 5,2 persen. Sementara 87,9 persen mengatakan bahwa suami dan istri punya peran dalam tugas tersebut.

“Situasi pandemi ini menyebabkan keluarga Indonesia sulit mendapatkan akses untuk pelayanan KB, maka Harganas 2020 diperingati juga dengan melakukan kegiatan Pelayanan KB Sejuta Akseptor yang dilakukan serentak se-Indonesia, mulai dari pelayanan kondom, pil, suntik, IUD, susuk, vasektomi, tubektomi. Harapannya, agar kebutuhan keluarga Indonesia terpenuhi,” ungkapnya.

Di masa pandemi ini BKKBN tetap membantu keluarga Indonesia menjadi keluarga yang berkualitas. Keluarga yang mampu berubah menjadi lebih positif, menjaga kesehatan dan kebersihan, hidup hemat, sederhana, tenteram, mandiri, dan terencana.

Melalui masa sulit ini, BKKN juga mengimbau hendaknya keluarga Indonesia jangan berputus asa. “Kita bisa melewati masa sulit ini dengan menyatukan hati dan upaya, menumbuhkan lagi semangat baru yang dimulai dari keluarga, dan untuk keluarga,” tandas Hasto. (*/pmk)