P3SDM Melati: Daripada Lanjutkan POP, Lebih Baik Kemdikbud Bangun Jaringan Internet Satelit Gratis di Daerah 3T

WPdotCOM, Jakarta – Menyikapi persoalan kontroversi Program Organisasi Penggerak (POP) yang diluncurkan Kemdikbud, pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati, Nova Indra, buka suara.

Menurut pria yang sejak tahun 2005 instens menggerakkan budaya literasi di kalangan guru tersebut, POP tidak ada kaitannya dengan pengembangan mutu pendidikan secara nasional.

“Kita lihat di program yang ada dalam POP Kemdikbud, tidak ada nilai-nilai yang bisa dibanggakan sebagai program yang akan menunjang pengembangan mutu pendidikan negeri ini. Malah nanti guru-guru dan pengelola institusi pendidikan yang akan makin sulit. Bisa jadi tiap hari akan disibukkan dengan hubungan bersama organisasi penggerak yang ditunjuk di daerah terkait,” terangnya.

Lanjut pria yang juga penulis buku dan novel budaya itu, yang paling dikhawatirkan itu, selain membuat sibuk para guru dan kepala sekolah untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pengembangan kualitas pembelajaran, juga akan menghabiskan waktu dan biaya.

“Jadi menurut saya, Kemdikbud seharusnya berpikir ulang untuk meneruskan program ini. Pendidikan di Indonesia tidak butuh lagi pendampingan dari organisasi-organisasi yang belum tentu paham dengan pendidikan. Contohnya saja Muhammadiyah dan NU, mereka memilih mundur dari program itu karena melihat ada sesuatu yang tidak tepat,” imbuhnya.

Kalau memang mau mengembangkan pendidikan, katanya lagi, ajak saja Muhammadiyah dan NU kerja bareng. Dua organisasi besar tersebut sudah terbukti memiliki pengalaman mengurusi bidang pendidikan, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah dan NU sudah mengelola pendidikan dan menghasilkan para tokoh negeri ini,” paparnya.

Selain itu, katanya lagi, akan lebih baik Kemdikbud memikirkan bagaimana membuat terobosan mengatasi kesulitan belajar para siswa di daerah 3T. Ada banyak jalan keluar kalau mau. Kesulitan yang nyata-nyata dialami siswa dan para pendidik saat pandemi ini di daerah 3T adalah persoalan tidak adanya sinyal, mahalnya biaya internet.

“Nah, kalau memang punya niat baik membantu kelancaran proses pendidikan, aplikasikan saja internet satelit di daerah-daerah itu. Biayanya kan ga mahal. Dan dengan internet satelit, proses belajar jarak jauh tidak akan terkendala begitu berat karena pelajar dan pendidik bisa manfaatkan internet gratis,” pungkasnya. (d’)