Launching Radio Edukasi SPENSA Menjawab Tantangan Belajar dari Rumah

WPdotCOM, Lembata — SMPN 1 (SPENSA) Nubatukan salah satu sekolah yang terletak di pusat kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT tergolong kreatif dan inovatif.

Sekolah yang saat ini dipimpin oleh guru milenial Melkior Muda Making, S.Pd imi melakukan berbagai gebrakan menjawabi tantangan belajar dari rumah di masa pandemi. Salah satu dari sekian inovasi yang telah dilakukan adalah membuat stasiun Radio Pendidikan (RP) di sekolah untuk menjangkau para siswa di rumah masing-masing yang tidak memiliki gadget dan android..

Melkior Muda Making, S.Pd, dalam kesempatan launching RP mengatakan, sejak awal Tahun Ajaran Baru bersamaan dengan dikeluarkannya SKB Empat Menteri terkait pelaksanaan pembelajaran di setiap zona, SPENSA Nubatukan telah memprediksi dan menyiapkan apa yang mesti dilakukan.

Menurut Melki, menghadapi warga belajar di SPENSA Nubatukan yang tergolong cukup banyak baik peserta didik maupun pendidik, maka dirinya sebagai kepala sekolah mengajak seluruh stakeholder di SPENSA untuk melakukan refleksi dan evaluasi bersama.

Melki mengatakan, dalam refleksi dan evaluasi internal itu, mereka menemukan bahwa belajar dari rumah (BdR) tahap satu sejak April sampai Juni di rumahkan hampir semua satuan pendidikan berjalan tanpa konsep yang terukur. “Seluruh stakeholder di setiap satuan pendidikan kaget bahkan sok lantas berpikir ekstra untuk bisa keluar dari kungkungan ini,” ujar Melki.

Melki mengisahkan, bertolak dari refleksi bersama akhirnya mereka membuat pemetaan secara internal dan mereka memukan bahwa tidak semua warga sekolah baik guru maupun siswa siap dalam mengikuti pembelajaran online (daring) itu.

Melki menjelaskan, berdasarkan data di sekolahnya, tidak semua guru memiliki pemahaman IT yang memadai dalam penggunaan gadget dan android. Ada guru yang bahkan tidak mempunyai media sama sekali apalagi mengoperasikannya. Ini menjadi salah satu tantangan pembelajaran daring di sekolah yang dipimpinnya.

Padahal menurut Melki, guru harus mengajar karena peran guru tidak bisa tergantikan oleh teknologi semodern apa pun. “Sebaliknya para orang tua mestinya tetap menjadi guru di tengah situasi pandemi ini,” ujarnya.

Menurut Ketua MKKS tingkat SMP Kabupaten Lembata ini, dari 743 siswa SPENSA Nubatukan hanya sekitar 200-an siswa yang memiliki gadget pribadi. Maka menurutnya, siswa yang punya gadget pribadi selain memiliki akun, paling minimal mereka bisa memahami IT.

Lebih lanjut ia