Menjawabi Masalah Pembelajaran, SPENSA Nubatukan Hadirkan Solusi Inovatif

WPdotCOM, Lembata — Pandemi covid-19 telah menghadirkan masalah bagi umat manusia secara khusus dunia pendidikan sebab kebutuhan pembelajaran tatap muka di ruang kelas tidak terjadi.

Di tengah masalah yang melilitnya, Satuan pendidikan SPENSA Nubatukan berhasil memadukan segala potensi kelembagaannya dan berkreasi mendesain inovasi pembelajaran di rumah melalui Radio Pendidikan (RP).

Wakil Bupati Lembata Dr. Thomas Ola Langoday, SE., M.Si yang hadir meresmikan RP SPENSA Nubatukan Senin (27/7/2020) mengatakan, untuk sampai kepada inovasi ada beberapa tahapan yang perlu dilewati. Namun sebelum itu, wabup Thomas mengapresiasi seluruh stakeholder SPENSA yang melaunching pemanfaatan stasiun RP untuk kepentingan belajar anak dari rumah.

“Apakah stasiun RP ini akan menjadi sebuah inovasi atau tidak ke depannya?,” tanya Wabup Thomas. Menurut Wabup, sebuah inovasi berangkat dari sebuah masalah. “Masalah di SPENSA berkaitan dengan para guru dan anak-anak didik yang mengalami kesulitan untuk melakukan pembelajaran tatap muka,” ujarnya.

Wabup Thomas melanjutkan, jika tatap muka sulit maka menggunakan metode daring pun akan menimbulkan banyak beban dan masalah mulai muncul. Menurutnya, masalah terletak pada keterampilan para guru menggunakan android. Demikian juga banyak anak-anak tidak memiliki android bahkan banyak guru juga belum mempunyainya.

Wabup mengatakan, masalah tidak hanya ditemukan oleh satu orang tetapi oleh banyak orang dan untuk itu dibutuhkan konsensus untuk keluar dari masalah itu. Lebih lanjut ia mengatakan, inovasi memerlukan ide, gagasan yang brilian untuk segera keluar dari masalah.

“Butuh kerja sama. Jika semua pihak bersinergi maka seberat apapun persoalan yang dihadapi lembaga pendidikan akan ada solusi dan jalan penyelesaian,” tegas Wabup.

Wabup juga menegaskan dibutuhkan kreativitas dalam berinovasi. Tetapi menurutnya, jikalau kreativitas tidak didukung oleh media-media dan sarana-prasarana pendukung yang lain kita tidak mungkin.

“Kita tidak mengharapkan tiang-tiang itu berdiri lalu selesai. Ketersediaan modul menjadi penting. Bukan tunggu kapan modulnya selesai disusun. Modul mestinya selesai lebih dulu selanjutnya diujicobakan kepada anak-anak. Demikian juga tim penyiar mestinya sudah mulai melakukan uji coba agar memastikan semua anak di rumah-rumah benar-benar sudah tersedia sarana radionya. Ini baru inovasi karena kebermanfaatannya memasuki dunia pasar. Sepanjang radio pendidikan belum bermanfaat bagi kelompok sasaran, ia (radio-red) hanya akan menjadi kreativitas yang mati. Ia tidak bisa menjadi inovasi,” ungkapnya tegas.

Doktor Ekonomi jebolan…