oleh

Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19; Efektifkah?

WPdotCOM – Telah lebih enam bulan para peserta didik di beberapa kota di Indonesia harus melakukan pembelajaran di rumah efek pandemi Covid-19.

Pada awalnya sekolah memberikan waktu belajar di rumah sekitar satu-empat minggu.  Tetapi dikarenakan wabah Covid 19 ini sudah mewabah dan ada beberapa kota yang sudah masuk zona merah, maka pemerintah setempat mengambil kebijakan untuk meliburkan kembali peserta didik dengan tujuan mengurangi penyebaran virus tersebut. Meskipun begitu, guru dan peserta didik tetap melaksanakan proses pembelajaran dari rumah.  Model pembelajaran dalam jaringan (daring), adalah model yang ditawarkan dalam pembelajaran selama pandemi ini berlangsung.

Dalam bidang pendidikan, dengan kemunculan virus Covid-19 ini, ternyata memberikan dampak yang luar biasa.  Proses pembelajaran menjadi berubah dari yang biasanya berlangsung secara tatap muka atau interaksi langsung antara guru dengan peserta didik, menjadi pembelajaran daring.  Semenjak akhir Maret 2020, peserta didik belajar dari rumah tanpa harus pergi ke sekolah.

Berbicara mengenai pembelajaran secara daring, maka penting bagi para guru dalam hal penguasaan teknologi agar pembelajaran tetap berjalan dengan efektif di saat pandemi seperti sekarang. Guru harus melakukan inovasi dalam pembelajaran, di antaranya dengan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

Semenjak pembelajaran diberlakukan di rumah, sebagian guru melakukan pembelajaran lewat media online seperti Whatsapp, Google Meet, Google form, Google Classroom, Quipper, dll. Inovasi dalam pendidikan akan ada juga berbagai cara yang dapat dilakukan guru untuk menyampaikan ilmu pengetahuannya kepada siswa. Salah satunya ada yang menggunakan Grup Whatsapp, di mana guru sebelumnya akan membuat video pembelajaran lalu dikirim ke grup untuk diamati oleh para peserta didik.

Baca Juga:  Home Learning? Ternyata Tidak Sesulit yang Dibayangkan

Mengenal Sistem Daring

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengeluarkan kebijakan agar sekolah-sekolah mewajibkan peserta didiknya untuk belajar di rumah.  Kebijakan ini diambil sebagai upaya mencegah wabah Covid-19. Kebijakan ini dimulai sekitar tanggal 16 Maret 2020. Dengan mengalihkan pembelajaran di rumah, maka setiap sekolah dituntut untuk melaksanakan pembelajaran secara daring.

Apakah pembelajaran daring itu? Secara ringkas pembelajaran daring atau pembelajaran dalam jaringan adalah implementasi pendidikan jarak jauh yang bertujuan untuk meningkatkan pemerataan akses terhadap pembelajaran yang bermutu.  Yang semula rutinitas pembelajaran ada di dalam kelas  dan mungkin berjalan secara formalitas, maka semenjak pandemi Covid-19 ini mau tidak mau, bisa tidak bisa semua komponen baik itu guru, kepala sekolah maupun peserta didik harus melaksanakan pembelajaran secara daring.

Pembelajaran secara daring dianggap menjadi solusi kegiatan belajar mengajar tetap jalan di tengah pandemi Corona. Satu dua bulan pembelajaran dalam jaringan yang telah disepakati itu masih bisa berjalan sesuai rencana. Tetapi semakin hari kebelakang ternyata pembelajaran daring banyak menuai protes dan kontroversi. Menurut beberapa guru, sistem pembelajaran daring identik dengan pemberian tugas dan sangat efektif hanya untuk penugasan.  Masih menurut para guru bahwa metode daring adalah metode yang sangat sulit dalam memahamkan peserta didik mempelajari  materi suatu mata pelajaran.

Kendala lain dari pelaksaan pembelajaran daring berkaitan dengan kemampuan teknologi, letak geografis, dan tingkat perekonomian yang berbeda dari setiap peserta didik. Tidak semua peserta didik memiliki fasilitas yang menunjang untuk kegiatan belajar jarak jauh ini tersebut.  Koneksi jaringan sinyal yang lemot, gawai yang nggak mumpuni atau masih jadul, dan juga biaya pembelian kuota internet yang mahal menjadi hambatan nyata.

Baca Juga:  Menjadi Guru, Menjadi Teladan Perubahan

Berkembang juga keluhan di masyarakat dengan adanya pembelajaran daring ini.  Sebagian peserta didik mengatakan kurang suka dengan sistem pembelajaran ini.  Mengapa? Bagi mereka pembelajaran online dinilai kurang efektif untuk dilakukannya kegiatan belajar mengajar. Orang tua pun banyak yang mengeluhkan akan sistem pembelajaran ini. Selanjutnya yang dikuatirkan akan berdampak pada kualitas peserta didik. Yang perlu dilihat juga adalah adalah letak geografis dari peserta didik tinggal.

Mereka yang rumahnya didaerah pelosok, misal daerah desa atau pegunungan, akan lebih susah untuk mengakses internet.  Kesulitan untuk mendapatkan sinyal yang bagus adalah kendala utama dalam pembelajaran daring. Di samping itu, kuota juga perlu mendapat perhatian.  Untuk memperoleh kuota, peserta didik harus membeli dan meminta uang kepada orang tuanya.

Faktor ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini saat pandemi, perlu mendapat perhatian.  Jangan malah menjadi beban bagi orangtua yang sudah direpotkan untuk mencukupi kebutuhan primer ditambah harus mengeluarkan biaya untuk membeli kuota internet.  Belum cukup sampai disini, pembelajaran daring media utama adalah menggunakan handphone. Bila tidak memiliki handphone, sekali lagi orangtua akan terpaksa membelikannya. Yang dirasakan peserta didik jika tidak memiliki handphone dan kuota internet, mereka akan ketinggalan informasi yang telah disampaikan atau diintruksikan oleh bapak ibu guru.

Setelah hampir setengah tahun, pelaksanaan pembelajaran daring ini, ternyata ada beberapa dampak negatif antara lain,  (1)kurang efektifnya sistem belajar mengajar, (2) peserta didik lebih sulit dalam memahami materi yang dipelajari, (3) kurangnya interaksi sosial antar teman ataupun guru, (4) perilaku menggampangkan pelajaran, akibatnya peserta didik susah dalam memahami pelajarannya, (5) cenderung membentuk karakter peserta didik menjadi individualis.

Baca Juga:  Sayonara UN, Semoga Indonesia Kembali Membaik

Setiap kebijakan pastinya akan menimbulkan dampak, baik itu yang bersifat positif maupun negatif.  Begitupula dengan pembelajaran daring yang harus diterapkan di saat negara sekarang sedang berjuang menghadapi pandemik virus Covid 19. Semua lini kehidupan merasakan dampaknya baik itu dari segi sosial, budaya, ekonomi, maupun pendidikan.  Kita tidak perlu panik ataupun takut terhadap virus ini, tetapi yang harus dilakukan adalah tetap berjalan seperti biasa, tetapi juga harus waspada dan selalu mengantisipasi terhadap segala hal berkaitan dengan pandemi virus Covid 19.

Dari pembelajaran daring ini, dapat diperoleh juga dampak positifnya, antara lain (1) peserta didik lebih mudah dan cepat memperoleh tugas dari bapak ibu guru pengajar,  (2) menciptakan kreativitas dan inovatif dalam metode pembelajaran dan proses belajar mengajar, (3) dapat memaksimalkan komunikasi, transfer informasi, dan pengetahuan untuk melanjutkan peradaban.

Adanya wabah pandemi Covid-19 janganlah menjadi alasan untuk tidak melaksanakan pembelajaran. Bagaimanapun dan dalam kondisi apapun pembelajaran harus terus berlanjut.  Setiap sekolah memiliki kebijakan masing-masing dalam menyikapi aturan ini. Beberapa sekolah merombak jadwal mata pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik setiap harinya. Mata pelajaran yang diberikan dalam satu hari hanya tiga jenis, ditambah dengan lembar kegiatan yang harus diselesaikan siswa setiap hari. Yang pasti berharap virus Covid 19 ini segera hilang dan pembelajaran bisa berjalan normal kembali.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.suara.com/yoursay/2020/07/20/175556/pembelajaran-daring-pada-masa-pandem

https://www.kompas.tv/article/93868/sistem-belajar-daring-di-masa-pandemi-corona

Penulis: Mardiati, S.Sos  (Guru SMAN N 3 Tanjung Jabung Barat, Jambi)