oleh

Imam, Siswa yang Inginkan Sekolah Tatap Muka

WPdotCOM – Hari ini penilaian tengah semester dimulai.  Semua peserta didik masih banyak yang belum menggumpulkan tugas yang mereka kerjakan.

Berbagai usaha telah kami lakukan. Mulai dari menelepon peserta didik, dan mendapati jawaban dari mereka, “ iya buk..iya buk tugas akan kami kumpulkan.”  Dua hari ditunggu, tugas pun belum mereka kumpulkan.

Blibli.com

Akhirnya kami putuskan untuk memanggil oarang tua mereka ke sekolah. Ditulislah surat undangan pemngglilan orang tua, salah satu isiwa yang akan dipanggil sebut saja namanya Imam (bukan nama sebenarnya). Undangan pun kami titipkan kepada seorang siswa yang dekat rumanya dengan Imam.

Hari yang ditunggu-tunggu untuk pemanggilan Imam pun tiba. Ternyata Iman dan orang tuanya pun tidak menampakkan diri di sekolah, mereka tidak dating meemenuhi undangan.

Akhirnya Wakil Kepala Sekolah menanyakan  bagaimana keberadaan Imam? Kuputuskan untuk datang ke rumah Imam yang  jaraknya lebih kurang dua kilometer dari sekolah.

Sampailah kami di rumah Imam.Kuketuk pintu rumah Imam dan kupanggil-panggil namanya. Tak seorang pun yang manyahut. Kutanyakanlah ke tetangga, katanya Imam dan keluarganya pergi ke Jakarta.

Rasa kecewa pun menyelimuti diriku. Dengan perasaan kecewa, aku pun kembali ke sekolah. Semua kejadian secara kronologis akhirnya aku smpaikan kepada Kepala sekolah.

Setelah mendengar apa yang kami sampaikan, maka kepala sekolah mengambil tindakan untuk membujuk dan membujuk lagi agar Imam bisa sekolah lagi, dan mengikuti seluruh ujian. Semua tugas-tugas yang belum dilengkapi diberikan dispensasi sampai penerimaan rapor.

Berkali-kali kutelepon Imam, akhirnya dia angkat juga..

“Imam…di mana sekarang?“

“Saya lagi di Jakarta, Bu,” jawabnya di ujung sana.

“Ngapain di sana, Nak? Kita kan ujian? Tugas-tugas pun belum satu pun Imam kumpulkan? Bagaimana nak?” ujarku pelan.

Imam pun menjawab. “Kita kan stidak sekolah, Bu.”

“Siapa bilang kita tidak sekolah? Kita tetap sekolah walaupun tidak tatap muka,” jawabku menjelaskan.

“Menurut saya, Bu, yang sekolah ya datang ke sekloah. Berpakaian sekolah dan bertemu dengan guru-guru,” jawab Imam lagi.

“ Ya, Imam. Karena di masa Covid ini pembelajaran tatap muka ditiadakan untuk sementara waktu, sampai kondisi ini pulih kembali Imam. Insya Allah Januari kita mulai tatap muka, ananda,” imbuhku memberikan pemahaman kepada Imam.

Setelah panjang lebar berbicara dengan Imam, akhirnya dia menuruti semua perkataan yang aku sampaikan.

“Baik, Bu. Semua tugas akan saya lengkapi dan saya akan mengikuti ujian ini, Bu.”

“Baik Imam.” Aku pun mulai lega. Penjelasanku dipahami Imam.

Akhirnya ujian kedua pun di ikuti oleh Imam. Setelah pulang dari Jakarta Imam menemuiku.

“Mulai hari ini  saya berjanji, Bu. Akan mengerjakan semua tugas-tugas yang diberikan oleh bapak/Ibu guru,” ucapnya.

Setelah membuat surat perjanjian, Imam sudah mulai berubah dan mengikuti semua yang disampaikan oleh bapak/Ibu guru. Dengan tekad yang sungguh-sungguh sabar dan ikhlas dalam menghadapi persoalan siswa, semua persoalan siswa pun teratasi. Khusus Imam, nilai ujian pertama pun diraihnya dengan nilai yang sangat memuaskan.  (*)

Penulis: Nelsi Witra (Guru MTs. Muhammadiyah Padangluar)