oleh

Menjunjung Bahasa Pertiwi, Paradigma yang Harus Dipertahankan

WPdotCOM – Kehidupan saat ini sangat penuh tantangan. Hal itu seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang kian pesat.

Siapapun dapat dengan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat, maupun yang didengarnya. Baik ucapan, sikap, dan atau perilaku. Siapapun pula, dapat dengan mudah memperoleh informasi yang ia inginkan.

Salah satu contoh, hal kecil yang kadang tidak disadari adalah ucapan-ucapan yang mengandung unsur asing. Dengan bangganya menggunakan istilah-istilah asing, sementara sebagai orang Indonesia memiliki bahasa resmi yaitu bahasa Indonesia. Banyak dari elemen masyarakat yang terlena hanya demi mendapat status modern atau kekinian. Bahkan yang lebih parahnya lagi, hanya demi mendapat nilai jual tinggi, ada yang mengabaikan bahasa resmi negeri sendiri.

Baikkah perilaku demikian? Tentunya harus dikaji dengan lebih rinci. Setidaknya, marilah memulai untuk merubah paradigma, bahwa bahasa asing bisa meningkatkan nilai jual yang tinggi. Perlu upaya penyadaran, bahwa di negeri yang terbentang luas di Nusantara, justru dengan menggunakan bahasa Pertiwi akan meningkatkan nilai jual tinggi dalam keseharian. Siapapun dan apapun. Karena saat ini, semua berada di  Indonesia.

Kini, di tengah masyarakat, dengan mudah dapat ditemui tulisan-tulisan berbahasa asing, baik sebagai petunjuk, maupun di papan-papan reklame. Seolah, dengan menggunakan bahasa asing itu, segala sesuatu jadi terkesan ‘wah’, padahal belum tentu itu sebuah anggapan yang tepat. Jika berbagai elemen masyarakat saja tidak mengetahui arti bahasa yang tertulis disegala tempat itu, lalu bagaimana meraih simpati masyarakat untuk ikut andil didalam maksud dan tujuan tersebut.

Akan terasa aneh sekali saat berada di negara sendiri, namun dipenuhi oleh bahasa asing, selayaknya sedang berada di negara orang lain. Bisa kita dilihat sebagai fakta, di kota-kota besar, hampir semua toko, hotel, dan tempat-tempat umum, menggunakan istilah dan bahasa asing.

Baca Juga:  Metode Belajar Tuntas di Masa Pandemi Tingkatkan Kemampuan Menulis Siswa

Selain penulisan istilah di tempat-tempat yang menjadi pusat perhatian masyarakat, semisalnya di bidang jual-beli, ada baiknya dirubah dalam pengucapannya. Seperti kata ‘online’ dibiasakan dengan bahasa negeri sendiri, yakni dalam jaringan atau biasa disebut dalam bentuk akronim ‘daring’. Contoh lain, penggunaan kata‘offline’dibiasakan dengan kata luar jaringan, atau dengan sebutan akronim ‘luring’.

Contoh lainnya yang sangat akrab di telinga adalah kata ‘microphone’, bahasa Indonesia memiliki kata sendiri untuk menamai alat tersebut dengan sebutan ‘pelantang’. Dan benda yang paling akrab di masyarakat sejak dua dekade lalu, digunakan kata asing ‘handphone’, padahal dalam bahasa negeri sendiri ada sebutan ‘telepon genggam’. Begitu pula dengan ‘laptop’, ada bahasa sendiri dengan kata ‘komputer jinjing’.

Masih banyak lagi contoh penggunaan bahasa asing dalam keseharian masyarakat Indonesia. Bahkan karena penggunaan bahasa asing itu, bahasa negeri sendiri menjadi terasa begitu ‘asing’ di telinga masyarakat. Masih banyak lagi tentunya bahasa sehari-hari yang harus dibiasakan pengucapannya, terutama dimulai dari diri sendiri.

Kemudian, bila dikaitkan dengan profesi pendidik, tentunya ini akan berdampak luas pada generasi yang menjadi subjek pendidikan dari waktu ke waktu. Sebab, sebagai pendidik yang digugu dan ditiru, perlu memberikan teladan yang tepat, agar anak didik terbiasa menggunakan dan membanggakan bahasa Indonesia.

Untuk menumbuhkan kebanggaan generasi, perlu kiranya memberitahu mereka bahwa saat ini bahasa Indonesia juga telah diajarkan di berbagai negara di dunia. Seharusnya patut tumbuh rasa bangga karena Bahasa Indonesia kini makin mendunia. Telah diajarkan di lebih dari 46 negara baik di kawasan Asia, Australia, Amerika, Afrika, Eropa maupun Timur Tengah.

Baca Juga:  Empat Alasan Mengapa Guru Harus Menulis

Menurut data yang ada, dari ke-46 negara tersebut, bahasa Indonesia terbanyak diajarkan di Australia dan Jepang. Lembaga penyelenggara pengajaran bahasa Indonesia tersebut pada umumnya adalah perguruan tinggi. Ada pula lembaga kursus dan lembaga kebudayaan.

Kenyataan itu menunjukkan, selain orang Indonesia ternyata bahasa Indonesia memiliki jumlah penutur lebih dari 200 juta orang. Hal itu mengantarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa dengan jumlah penutur terbesar ke-5  di dunia setelah Cina, Inggris, India, dan Spanyol.

 

Daftar Pustaka

  1. Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. Cermat Berbahasa Indonesia. Akademika Pressindo. Jakarta. 2004.
  2. https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/21/nfcd4x-bahasa-indonesia-telah-diajarkan-di-46-negara-seluruh-dunia, diakses tanggal 27 Nopember 2018
  3. Wibowo, Wahyu. Manajemen Bahasa. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2001

Penulis: Nurtrianik, S.Pd.SD.