oleh

Optimalisasi PSO (Problem Surgical Operation) Hasil Supervisi Klinis Sebagai Upaya Meningkatkan Nilai Supervisi Guru Bidang Pembelajaran di SDN Wlahar 01 Tahun Pelajaran 2020/2021

Optimalisasi PSO (Problem Surgical Operation) Hasil Supervisi Klinis Sebagai Upaya Meningkatkan Nilai Supervisi Guru Bidang Pembelajaran di SDN Wlahar 01 Tahun Pelajaran 2020/2021

 

Taufik, S.Pd

SD Negeri Wlahar 01

 

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh nilai rata-rata hasil supervisi guru kelas di SDN Wlahar 01 pada awal semester I tahun pelajaran 2020/2021 yang relatif rendah yaitu 2,925 atau kategori C. Harapan peneliti selaku Kepala Sekolah, idealnya nilai supervisi bidang pembelajaran adalah 3,700 atau B+. Penelitian Tindakan Sekolah ini bertujuan untuk meningkatkan nilai supervisi bidang pembelajaran khususnya bagi guru kelas 4 yang ada di Dabin 1 tahun pelajaran 2020/2021 melalui kegiatan optimalisasi PSO (Problem Surgical Operation) hasil supervisi klinis. Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2020/2021 bertempat di SDN Wlahar 01 Korwilcam Gumelar. Subjek penelitian ini adalah semua guru kelas SDN Wlahar 01 tahun pelajaran 2020/2021 yang berjumlah 11 orang guru yang terdiri dari enam guru laki-laki dan enam guru perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui kegiatan optimalisasi PSO (Problem Surgical Operation) hasil supervisi guru  dapat meningkatkan nilai supervisi bidang pembelajaran di SDN Wlahar 01 Kecamatan Larangan tahun pelajaran 2020/2021. Nilai rata-rata supervisi guru pada kondisi awal 2,925 (kategori C) dapat ditingkatkan menjadi 3,3376 (kategori B) pada siklus I atau meningkat 15,41; dan meningkat lagi menjadi 3,8878  (kategori B+) pada siklus II atau meningkat 16,48 %. Berdasarkan data empirik yang sesuai dengan pengajuan hipotesis, peneliti menyimpulkan bahwa ” Melalui kegiatan optimalisasi PSO (problem surgical operation) hasil supervisi klinis diduga dapat meningkatkan nilai supervisi guru kelas 4  bidang pembelajaran di SDN Wlahar 01 Kecamatan Larangan tahun pelajaran 2020/2021.”

Kata kunci: kemampuan guru, PSO, supervisi akademik

PENDAHULUAN

SD Negeri Wlahar 01 berada di Desa Wlahar, Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Jumlah peserta didik 469, dengan 14 orang guru yang terdiri dari 12 guru kelas dan 2 guru mata pelajaran, yaitu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Jasmani dan Olahraga. SD Negeri Wlahar 01 terletak di ujung desa Wlahar yang berbatasan dengan Margaayu Kecamatan Margasari, Kabupaten Brebes.

Tenaga guru di SD Negeri Wlahar 01 memiliki kemampuan yang beragam. Ada guru yang memiliki kemampuan yang sangat baik tapi ada guru yang memiliki kemampuan mengajar yang kurang. Dari Hasil supervisi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah pada akhir tahun pelajaran 2019/2020 diperoleh data yang cukup mengejutkan. Semua guru kelas  yang ada di SDN Wlahar 01 memiliki kemampuan yang rendah dalam bidang pembelajaran.

Peneliti, selaku pengawas sekolah mengakui bahwa proses pembelajaran yang dilakukan oleh para guru kelas di SDN Wlahar 01 belum sesuai dengan harapan. Mereka masih melaksanakan pembelajaran secara  tradisional, konvensional, dan belum menunjukkan adanya perubahan / inovasi  pembelajaran yang signifikan.

Berdasar hasil supervisi klinis yang peneliti lakukan pada awal tahun pelajaran 2020/2021 diperoleh data yang monoton dan relatif tetap. Apersepsi yang dilakukan oleh sebagian besar guru kelas  masih belum menggugah gairah siswa untuk memulai pembelajaran. Rata-rata guru kelas 4  melakukan apersepsi dengan memberikan kegiatan berupa tanya jawab saja. Mereka belum melakukan inovasi dalam apersepsi.

Kegiatan inti pembelajaran masih bersifat teacher centered dengan kegiatan yang didominasi dengan kegiatan ceramah. Penanaman konsep pada anak seringkali tanpa didukung oleh peragaan yang kongkrit. Alat peraga yang dipakai pun belum dimanfaatkan dengan optimal dan belum efektif penggunaannya. Posisi guru saat pembelajaran masih terpakau pada satu tempat yaitu di depan kelas. Bahasa tubuh juga belum nampak dalam setiap kalimat yang diucapkan.

Kegiatan penutup pembelajaran hanya terpaku pada kegiatan menulis PR atau menyusun kesimpulan saja. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung setiap hari selalu ditutup dengan hal biasa, tanpa ada inovasi atau kreasi apa-apa. Pendek kata, unsur inovasi pembelajaran yang dilakukan guru dalam pembelajaran di kelas belum nampak maksimal. Hal ini dibuktikan dengan adanya nilai hasil supervisi guru kelas  bidang pembelajaran awal tahun pelajaran 2020/2021 semester 1 yang relatif rendah yaitu 2,925 atau kategori C. Harapan peneliti selaku Pengawas sekolah, idealnya nilai supervisi bidang pembelajaran adalah 3,700 atau B. (Daftar nilai supervisi terlampir pada Lampiran 1.2) Adanya kesenjangan masalah ini akan peneliti pecahkan dengan kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) atau ’bedah masalah’ hasil supervisi klinis.

Berdasarkan latar belakang di atas, penyebab rendahnya kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut: a) Guru belum memiliki pemahaman tentang hakikat pembelajaran, b) Dinas pendidikan jarang melatih tentang model pembelajaran efektif, c) Sekolah tidak memiliki buku-buku tentang pembelajaran, d) Guru kurang berusaha menggali potensi tentang pembelajaran yang efektif, e) Supervisi Kepala sekolah terhadap guru belum optimal, f) Pengawas sekolah jarang melakukan kegiatan supervisi klinis dalam bentuk PSO (Problem Surgical Operation) atau “Bedah Masalah.”

Sementara itu, rumusan masalah pada penelitian ini adalah, 1) Apakah nilai kemampuan guru kelas di SDN Wlahar 01 dalam melakukan pembelajaran dapat ditingkatkan melalui kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) secara optimal? 2) Berapa persen nilai kenaikan kemampuan guru kelas SDN Wlahar 01 dalam melakukan pembelajaran setelah melakukan kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) secara optimal?, 3) Bagaimana deskripsi tindakan kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajaran?

Tujuan dalam penelitian tindakan sekolah ini ada dua tujuan yang ingin dicapai yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di SDN Wlahar 01. Sedangkan tujuan khusus adalah, 1) Ingin mengetahui apakah nilai kemampuan guru kelas SDN Wlahar 01 dalam melakukan pembelajaran dapat ditingkatkan melalui kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) secara optimal, 2) Ingin mengetahui berapa persen nilai kenaikan kemampuan guru kelas SDN Wlahar 01 dalam melakukan pembelajaran setelah melakukan kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) secara optimal. 3) Mendeskripsikan tindakan kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) untuk meningkatkan nilai kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajaran.

Manfaat Penelitian Tindakan Sekolah ada dua yaitu manfaat secara teoretis dan manfaat secara praktis. Manfaat teoretis dari Penelitian  Tindakan Sekolah ini adalah untuk mendapatkan teori baru tentang cara meningkatkan nilai supervisi bidang pembelajaran guru melalui kegiatan optimalisasi PSO (problem surgical operation) hasil supervisi klinis. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat bagi peneliti maupun peneliti lain sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya. Manfaat praktis dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini adalah manfaat yang secara langsung dapat diambil oleh pihak-pihak yang terkait langsung dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini yaitu guru, siswa, dan sekolah. Manfaat Praktis bagi Guru dan Kepala Sekolah, melalui kegiatan PSO (problem surgical operation) hasil supervisi klinis, guru dan kepala sekolah memiliki nilai supervisi bidang pembelajaran yang meningkat. Peningkatan nilai supervisi bidang pembelajaran merupakan bukti bahwa guru lebih bersikap profesional dalam melakukan proses pembelajaran di kelas. Selain itu, kepala sekolah memiliki kemampuan. Sementara manfaat praktis bagi siswa, kegiaan PSO (bedah masalah) hasil supervisi klinis bagi  siswa antara lain siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih bersemangat, antusias, dan selalu merasa gembira. Hal ini disebabkan oleh sikap guru yang profesional dalam melakukan proses pembelajaran. Dan bagi sekolah, para guru di SDN Wlahar 01 tidak lagi statis dalam melakukan proses pembelajaran. Mereka  lebih bersikap profesional. Hal ini membawa dampak positif karena akan berpengaruh terhadap peningkatan mutu sekolah.

METODE

Baca Juga:  Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Penelitian dilakukan di SDN Wlahar 01 Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes. Peneliti membatasi penelitian dengan Subyek penelitian terhadap guru kelas di SDN Wlahar 01 dengan jumlah guru yang diteliti sebanyak 12 guru. Dabin 1 hanya memiliki  sepuluh orang guru kelas 4 dengan rincian 5 (lima) orang guru laki-laki dan 5 (lima) orang guru wanita. Mereka berada di 8 (delapan) sekolah yaitu SDN 1-5 Gumelar 7 orang dan SDN 1-3 Cilangkap 3 orang. Pendidikan mereka S1 PGSD dan jabatan mereka semuanya sebagai guru kelas SD.

Peneliti adalah kepala sekolah di SD tersebut. Dengan demikian kegiatan penelitian ini tidak mengganggu tugas pokok sebab dilaksanakan di sekolah sendiri sendiri. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli 2020 sampai dengan bulan Oktobe 2020. Peneliti sengaja melakukan penelitian dalam waktu relatif singkat ( kurang lebih 3-4 bulan) sebab untuk mempermudah laporan.  Bulan pertama (Juli 2020) peneliti menyusun proposal penelitian dan intrumen penelitian. Bulan ke-2 (Agustus) sampai bulan ke-5 (November) peneliti mengumpulkan data dengan melaksanakan kegiatan (action) berupa kegiatan supervisi pembelajaran dan kegiatan PSO (problem surgical operation). Bulan ke-3 (September) sampai bulan ke-5 (November) peneliti juga melakukan kegiatan analisis data dan pembahasan data. Bulan ke-5  (November) dan bulan ke-6 (Desember) menyusun laporan

Deskripsi Per Siklus

Siklus pertama dilaksanakan melalui tahapan-tahapan: perencanaan (planning), tindakan (action) dan pengamatan (observation), dan refleksi (reflection) rincian sebagai berikut: 1) Tahap Perencanaan (Planning). Peneliti memberikan arahan dan bimbingan tentang pentingnya melaksanakan kegiatan PSO setelah melaksanakan supervisi klinis. Kemudian peneliti menentukan kolaborator yang berasal dari Pengawas sekolah terdekat yang lebih senior. Berikutnya adalah peneliti membuat draft atau program kegiatan supervisi klinis dan kegiatan PSO yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu dua bulan ke depan (Agustus-September). Lalu peneliti menyerahkan draft/program  untuk dikaji oleh para guru yang menjadi sasaran penelitian. Dengan mempertimbangkan masukan dari para guru, peneliti melakukan revisi/penyempurnaan.

Pada Tahap Tindakan (action), peneliti melaksanakan analisis hasil supervisi bidang pembelajaran. Bersama dewan guru dan kepala sekolah melaksanakan kegiatan  ”bedah masalah” atau  PSO (Problem surgical operation) untuk mengungkap keunggulan dan kelemahan hasil supervisi. Kegiatan ini dilaksanakan setelah peneliti melaksanakan supervisi pembelajaran di tiap sekolah di Dabin 1 yang dilaksanakan sampai dua kali dalam bulan Agustus 2020.

Pada Tahapan Pengamatan (observing), peneliti mengamati proses pembelajaran para guru dan mengamati kegiatan PSO hasil supervisi klinis. Kolaborator mengamati proses pembelajaran dan mengamati kegiatan PSO hasil supervisi klinis. Sedangkan pada tahapan refleksi (reflection), peneliti mengolah hasil yang diperoleh selama kegiatan PSO siklus I dan hasil observasi dari kolaborator (rekan pengawas sekolah).  Peneliti  lalu melakukan  refleksi siklus pertama dengan mencatat kelemahan dan keunggulan yang ada pada siklus pertama.

Siklus kedua dilakukan dengan tahapan yang sama dengan siklus pertama yaitu perencanaan (planning), tindakan (action) dan pengamatan (observation), dan refleksi (reflection).  Rincian pelaksanannya sebagai berikut: Perencanaan (planning). Peneliti menyusun program kegiatan supervisi klinis dan program kegiatan PSO untuk siklus II. Peneliti lalu menyiapkan instrumen supervisi dan observasi siklus II. Dalam sesi selanjutnya peneliti mengundang kolaborator yang pernah melakukan observasi untuk melakukan observasi ulang setelah para guru mengikuti kegiatan PSO siklus II.

Pada tahapan Tindakan (action), peneliti dan para guru dan kepala sekolah melaksanakan kegiatan PSO. Peneliti mempersilakan para guru untuk mengungkapkan masalah sebanyak-banyaknya yang dialami selama pembelajaran. Peneliti juga melakukan analisis masalah dan mempersilakan para guru untuk angkat bicara bagi yang dapat mencarikan solusi pemecahan masalah yang dialami rekan guru. Sementara itu para guru melakukan sharing of idea, saling membantu mencari solusi melalui presentasi yang difasilitatori peneliti selaku supervisor. Selanjutnya para guru menerapkan teori-teori yang diperoleh selama kegiatan PSO (Problem surgical operation)  dalam kegiatan pembelajaran.

Pada tahap pengamatan (observing), peneliti  mengamati proses pembelajaran guru kelas sesuai jadwal yang telah diprogramkan. Peneliti mengajak kolaborator kepala sekolah lain, yaitu kepala sekolah SDN Kalibanteng (Bapak Agus Pramono Tri Yunanto, S.Pd.SD). Kemudian peneliti memberi mandat kepada kepala sekolah supaya memimpin sekaligus melakukan pengamatan kegiatan PSO hasil supervisi siklus II.

Sementara pada tahap Refleksi (reflection), peneliti mengolah nilai hasil supervisi kunjungan kelas siklus II dan nilai observasi  dari rekan pengawas sekolah. Lalu peneliti mencatat kelemahan dan keunggulan guru selama proses supervisi dan kegiatan PSO sebagai bentuk refleksi siklus II.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan Siklus I

Kegiatan penelitian siklus I terlaksana dengan baik. Langkah-langkah kegiatan dilaksanakan sesuai prosedur. Untuk lebih jelasnya, kegiatan yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut: Pertama, Kegiatan Perencanaan (Planing ). Kegiatan ini melibatkan semua guru sasaran dan semua guru yang ada di SDN Wlahar 01. Peneliti memberikan arahan dan bimbingan tentang pentingnya melaksanakan kegiatan PSO setelah melaksanakan supervisi klinis. Hasil yang diharapkan dari arahan dan bimbingan tersebut ternyata sangat maksimal. Semua guru sasaran menyadari pentingnya supervisi guna memperbaiki kinerja khususnya dalam bidang pembelajaran. Bagi guru yang sudah bersertifikasi hal ini sangat penting agar rezeki yang diterimanya berkah jika mereka bekerja dengan profesional. Bagi guru yunior, guru kelas, dan guru yang masih wiyata bakti, rencana kegiatan ini sangat didambakan sebagai bentuk pengalaman bahwa melakukan sesuatu pasti memerlukan perencanaan yang matang.

Peneliti menentukan kolaborator yang berasal dari kepala sekolah SDN Kalibanteng yang lebih senior. Kolaborator yang dimaksud adalah Bapak Agus Pramono Tri Yunanto. Peneliti kemudian membuat draft atau program kegiatan supervisi klinis dan kegiatan PSO yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu satu bulan ke depan (Agustus 2020). Draft atau program tersebut diambil dari Buku Program Supervisi.

Peneliti lalu menentukan indikator yang menjadi target untuk perbaikan. Kemudian peneliti menyerahkan draft / program  untuk dikaji oleh para guru sasaran. Para guru sasaran mempelajari program tersebut. Semua guru sasaran menyetujui program dan jadwal pelaksanaan PSO. Ada beberapa masukan antara lain PSO supaya dilaksanakan dengan memunculkan materi baru dari Kepala sekolah atau guru yang baru mengikuti diklat. Dengan mempertimbangkan masukan dari para guru, peneliti melakukan revisi/penyempurnaan program kegiatan PSO.

Kedua, Pelaksanaan Tindakan. Peneliti melaksanakan analisis hasil supervisi bidang pembelajaran yang dilaksanakan pada akhir Juli 2020. Dari data analisis supervisi bidang pembelajaran yang dilakukan peneliti ternyata ditemukan banyak masalah. Dari 12 (dua belas) guru kelas yang disupervisi, tidak ada satu orang pun yang bernilai baik (nilai di atas 3,2). Kegiatan inti pembelajaran merupakan masalah terbanyak yang dimiliki para guru dalam proses pembelajaran. Rata-rata guru belum menggunakan alat peraga, masih menggunakan metode konvensional, sumber belajar belum sepenuhnya dimanfaatkan serta interaksi belajar mengajar yang masih satu arah.

Peneliti bersama guru sasaran melaksanakan kegiatan  ”bedah masalah” atau  PSO (Problem surgical operation) untuk mengungkap keunggulan dan kelemahan hasil supervisi. Kegiatan ini dilaksanakan setelah peneliti melakukan supervisi pembelajaran terhadap  guru sasaran.  Kegiatan ini dilaksanakan dua kali pertemuan yaitu tanggal 12 dan 15 Agustus 2020. Pada pertemuan pertama peneliti memunculkan masalah penggunaan alat peraga. Beberapa alat peraga yang ada di perpustakaan di bawa ke ruang kegiatan PSO yang berada di ruang guru. KIT Matematika dibuka di depan guru peserta PSO. Peneliti memunculkan beberapa model bangun ruang dan jaring-jaring yang berupa kubus, balok, silinder, kerucut, limas, dan prisma. Kubus-kubus kecil yang berjumlah ratusan dimanfaatkan untuk penjelasan konsep cara riil mengukur isi kubus dan balok dan prisma. Ternyata setelah peneliti membuka masalah tersebut, ada beberapa guru yang memang benar tidak mengetahui seluk beluk dan cara kontekstual mengukur isi bangun ruang. Tanpa terasa waktu telah habis dan berlanjut pada kegiatan PSO hari berikutrnya.

Baca Juga:  Dari Workshop Menulis KTI, Kusyukuri Apapun yang Terjadi

PSO hari ke-2, peneliti melanjutkan kegiatan PSO hari pertama dan melanjutkan materi yang berbeda. Pada pertemuan ini para guru belum juga mau memunculkan masalah. Akhirnya peneliti yang memulai membuka masalah baru yaitu tentang kegiatan inti pembelajaran. Peneliti bercerita tentang pembelajaran masa kini yang banyak perbedaannya dengan pembelajaran masa lampau. Pada masa kini, pembelajaran lebih berpusat pada siswa, sedangkan pembelajaran masa lampau berpusat pada guru (teacher centered). Pembelajaran Dugem (Dunia Gembira) dan  PAKEM/PAIKEM dimunculkan sebagai pembelajaran yang bertolakbelakang dengan pembelajaran zaman feodal.

Kemudian peneliti memberikan contoh-contoh nyata dalam kegiatan PSO dalam hal pembelajaran Dugem dan PAIKEM. Ketika kegiatan ini berlangsung ternyata muncul antusias guru yang menanyakan lebih jauh tentang Dugem dan PAIKEM. Selama ini para guru tidak pernah melakukan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan Dugem. Mereka berpendapat bahwa jika guru melaksanakan pembelajaran sambil bermain dan bersenang-senang maka tujuan pembelajaran tidak tercapai. Selain itu, jika pembelajaran berlangsung dengan permainan dan bersenang-senang maka anak akan tidak menghormati guru sebab guru ikut larut dalam permainan tersebut.  Akhirnya para guru mau mengubah paradigma pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran modern. Rupa-rupanya para guru ingin mencobanya meskipun pelaksanaannya bertahap dan hanya mengadopsi sebagian.

Ketiga, Hasil  Pengamatan. Kolaborator mengamati proses pembelajaran. Hal ini untuk mengetahui sampai dimana kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Hal ini dilaksanakan pada awal siklus I yaitu minggu kedua bulan Agustus 2020, tepatnya tanggal 10 s.d. 15 Agustus 2020. Kolaborator  melaksanakan pengamatan pada tanggal tersebut.

Agus Pramono Tri Yunanto, S.Pd.SD sebagai kolaborator melaksanakan pengamatan bidang pembelajaran. Pada kegiatan ini kolaborator melaksanakan observasi dengan mengisi lembar observasi sesuai dengan guru yang sedang diobservasi. Kolaborator hanya memberikan tanda v pada kolom ‘ya’ jika guru yang bersangkutan melakukan dan memberikan tanda v pada kolom ‘tidak’ jika yang bersangkutan tidak melakukan tindakan. Hasil observasi yang dilakukan oleh kolaborator dalam siklus I adalah, peneliti juga memimpin sekaligus mengamati keaktifan guru dalam kegiatan PSO hasil supervisi klinis serta berupaya memotivasi guru untuk dapat menyampaikan semua masalah dan atau menemukan solusi pemecahannya. Masalah pada siklus I ternyata dibahas dengan antusias oleh semua peserta kegiatan PSO.

Keempat, Refleksi. Pada tahap ini peneliti mengolah hasil yang diperoleh selama kegiatan PSO siklus I  dan hasil observasi dari kolaborator. Peneliti  melakukan  refleksi siklus pertama dengan mencatat kelemahan dan keunggulan yang ada pada siklus pertama. Kegiatan PSO siklus I memiliki keunggulan antara lain para guru memperoleh tambahan wawasan tentang kegiatan pembelajaran sebagai bekal mereka melaksanakan kegiatan pembelajaran yang baik. Pada siklus satu pertemuan pertama, guru menyadari bahwa alat peraga kubus yang berjumlah banyak dapat untuk peragaan cara mencari isi kubus,  balok, dan prisma. Pada pertemuan kedua siklus I, guru sangat antusias dan tertarik dengan pengetahuan tentang pembelajaran dengan model Dugem dan PAIKEM.

Kelemahan yang ada pada kegiatan PSO siklus I antara lain tentang munculnya masalah yang didominasi oleh peneliti selaku kepala sekolah. Kegiatan PSO siklus I boleh dikatakan kurang hidup. Tidak ada guru yang mau menyampaikan masalah. Hal ini sebagai catatan sehingga akan diperbaiki pada siklus II.

Kegiatan siklus I ternyata membuahkan hasil. Hal ini dibuktikan dengan adanya nilai supervisi pembelajaran guru setelah siklus I lebih tinggi daripada nilai pada kondisi awal.  Rata-rata nilai hasil sklus I adalah 3,3376. Ternyata nilai hasil siklus I sudah ada peningkatan sebesar 14,11 % dari kondisi awal. Peningkatan tersebut belum memuaskan bagi peneliti sebab target bagi peneliti adalah nilai minimal 3,70 atau kategori B +. Berikut ini tabel nilai hasil akhir siklus I:

Daftar Nilai Rata-rata Supervisi Guru Kelas 4 dalam Bidang Pembelajaran Bulan Agustus 2020 SDN Wlahar 01

Pembahasan Siklus II

Pelaksanaan kegiatan dalam siklus II hampir sama dengan siklus I. Tahapan kegiatan dalam siklus II sama dengan tahapan pada siklus I namun dalam siklus II lebih terfokus pada kegiatan PSO yang dioptimalkan secara kualitatif maupun kuantitatif. Untuk lebih jelasnya, kegiatan  siklus II adalah sebagai berikut.

Pertama, Perencanaan Tindakan. Peneliti menyusun program kegiatan supervisi klinis dan program kegiatan PSO untuk siklus II. Program supervisi yang direncanakan adalah supervisi untuk menilai kinerja guru dalam pembelajaran setelah menyelesaikan siklus II. Untuk lebih jelasnya peneliti menyusun jadwal berupa tabel sebagai berikut, a) Para guru yang menjadi sasaran penelitian juga dilibatkan untuk membuat program kegiatan PSO berupa pencatatan masalah yang selama ini menjadi kendala dalam pembelajaran. Program kegiatan PSO dilaksanakan setelah jam pelajaran selesai (setelah pukul 12.10 s.d. pukul 14.00) dengan waktu sesuai jadwal, b) Peneliti menyiapkan instrumen supervisi dan instrumen observasi siklus II untuk kolaborator. Instrumen supervisi yang digunakan masih tetap seperti instrumen yang digunakan pada siklus I, c) Peneliti mengundang kolaborator yang pernah melakukan observasi untuk melakukan observasi ulang setelah para guru mengikuti kegiatan PSO siklus II.

Kedua, Pelaksanaan Tindakan. Peneliti dan para guru sasaran melaksanakan kegiatan PSO atau ’bedah masalah’. Peneliti mempersilakan para guru untuk mengungkapkan masalah sebanyak-banyaknya yang dialami selama pembelajaran. Ternyata banyak masalah yang dimunculkan  dalam kegiatan siklus II. Pada tanggal 3 September 2020 guru kelas yang berinisial A  memunculkan pertanyaan cara mengajar PAKEM yang sebenarnya. Guru  B  mengutarakan masalah sikap salah seorang siswa yang selalu mengganggu teman dan dia tidak mau menulis serta masalah pembelajaran model Jigsaw. Guru kelas C memunculkan masalah tentang cara mengajar dengan memanfaatkan peraga lingkungan yang benar. Guru kelas E mengemukakan masalah tentang sifat operasi bilangan (komutatif, distributif, dan asosiatif beserta  manfaatnya. Pada tanggal 7 September 2020,  guru kelas D juga memunculkan masalah tentang cara menyampaikan appersepsi yang efektif dan menarik sebagai pembuka pelajaran. Guru kelas J  membahas tentang cara membangkitkan motivasi belajar siswa agar mereka siap menghadapi Ulangan  Semester 1 tahun pelajaran 2020/2021.

Peneliti melakukan analisis masalah dan mempersilakan para guru untuk angkat bicara bagi yang dapat mencarikan solusi pemecahan masalah yang dialami rekan guru. Pada mulanya tidak ada yang mau berbicara tapi setelah peneliti memancing pertanyaan dan jawaban, maka semua  guru mau untuk berbicara. Para guru melakukan sharing of idea, saling asah, asih, dan asuh, serta saling membantu mencari solusi melalui presentasi yang difasilitatori peneliti selaku supervisor. Peneliti memberikan contoh microteaching pembelajaran dengan pendekatan PAKEM. Hal ini untuk menjawab permasalahan yang sedang dialami oleh guru kelas A, B, D, dan I. Selanjutnya,  masalah yang dialami guru kelas B bahwa anak tidak mau menulis dan suka mengganggu teman dibahas dan dicari solusinya oleh guru D dan E.

Baca Juga:  Perjuangan Hidup Guru, Digugu dan Ditiru

Kegiatan PSO hari ke-2 tanggal 7 September 2020. Kegiatan hari ini membahas masalah cara mencari KPK dan FPB dengan nara sumber Guru A dan peneliti sendiri. Selain itu hari kedua siklus II memunculkan masalah pembelajaran dengan pendekatan CTL (cotekstual teaching of learning). Banyak guru yang mengakui bahwa selama ini pembelajaran lebih terfokus pada apa yang ada dalam buku. Sebagai contoh, ketika pada buku paket ditampilkan cara menyusun karangan  tentang kehidupan nelayan, guru tidak mau melakukan kegiatan mengubah apa yang ada pada buku paket. Padahal mereka sama sekali tidak mengenal nelayan. Mestinya jika pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual ia akan menyuruh anak untuk menyusun karangan tentang kehidupan petani yang ada disekitar lingkungan hidupnya. Demikian pula ketika guru menanamkan konsep cara mencari luas persegi panjang, guru seharusnya langsung mengukur benda nyata yang berbentuk persegi panjang sehingga rumus yang diperoleh pun dapat ditemukan sendiri oleh para siswa. Pada pembahasan CTL (Contectual teaching of learning), para guru langsung mempraktekkan bagaimana mengukur luas lingkaran dengan benda konkrit berupa benang, mempraktekkan penggunaan suryakanta, mempraktekkan cara membuat gambar bayangan pada cermin,  mempraktekkan pengenalan silsilah keluarga, mempraktekkan penanaman konsep pembagian merupakan pengurangan  berulang, dan sebagainya.

Tindakan hari ke-3 pada siklus II tanggal 10 September 2020 membahas masalah penggunaan alat peraga yang ada di perpustakaan. Alat peraga berupa KIT Matematika selama ini hampir tidak pernah terjamah. Para guru mengaku bahwa alat peraga yang ada sulit menggunakannya. Model kubus, prisma, limas, kerucut, balok, dan bola terlihat belum pernah dipakai. Para guru merasa kesulitan menggunakan alat-alat tersebut. Masalah tersebut dibahas bersama dalam forum PSO saat itu juga.

Selain membahas masalah di atas, dalam kegiatan PSO hari ke-4  Selasa, tanggal 15 September 2020 membahas masalah konsep pembelajaran SAVI. Konsep ini dimunculkan oleh Guru D. SAVI merupakan kependekan dari Somatis, Audio, Visual, dan Intelektual. Konsep tersebut adalah, a) Somatis: berkaitan dengan indra peraba. Apa yang kita sentuh akan merangsang otak kita untuk menafsirkan dan menanggapi. Diharapkan, dengan sentuhan siswa terangsang untuk menulis hal yang disentuh; b) Audio: Berkaitan dengan indra pendengaran. Apa yang kita dengar akan merangsang otak kita menafsirkan dan menanggapi. Dengan mendengarkan, siswa terangsang untuk menulis hal yang didengarnya; c) Visual: berkaitan dengan indra penglihatan. Apa yang kita lihat akan merangsang otak untuk menafsirkan dan menanggapi. Dengan melihat siswa terangsang untuk menulis tentang hal yang dilihatnya; d) Intelektual: Berkaitan dengan kerja otak sebagai pusat pengindraan. Ada belahan otak kanan dan kiri. Ada bagian otak reptile, limbic dan neokortek. Belahan otak kiri menyangkut kerja berfikir logika, kata-kata, Bahasa Indonesia, dan urutan. Belahan otak kanan menyangkut kerja berfikir kreatif, eksploratif, menyebar danmeloncat-loncat. Bagian reptil menyangkut kerja pengendalian naluriah. Bagian limbic menyangkut kerja pengendalian emosi, seksualitas, dan memori. Bagian neokortek menyangkut kemampuan berbicara, menulis, dan memahami (Gordon Dryden, dalam Sunaryo, 2006 : 5).

Kegiatan PSO pertemuan ke-5 pada siklus II hari Sabtu, tanggal 19 September 2020 terlaksana dengan cukup menarik. Ada micro teaching tentang pembelajaran berbicara dalam Bahasa Indonesia dan speaking dalam Bahasa Inggris. Kegiatan berbicara perlu dimaksimalkan dengan cara praktek langsung berbicara komunikatif. Misalnya ketika masuk kelas, guru dapat mengatakan good morning atau how are you ? Anak harus sering berlatih berbicara (speaking) yang dilakukan secara kontekstual. Para guru menerapkan teori-teori yang diperoleh selama kegiatan PSO (Problem surgical operation)  dalam kegiatan pembelajaran. Teori yang secara tidak sengaja muncul dalam kegiatan PSO antara lain teori belajar bermakna Ausubel, teori pendekatan pembelajaran kontekstual, Dugem, PAIKEM, dan lain-lain.

Ketiga, Hasil Pengamatan. Peneliti mengamati proses pembelajaran guru kelas sesuai jadwal yang telah diprogramkan. Perhatian peneliti dalam pengamatan ini lebih difokuskan pada kegiatan mengamati proses yang terjadi selama pembelajaran. Menurut peneliti, para guru dalam proses pembelajaran siklus II terlihat  lebih enjoy dan keaktifan siswa lebih maksimal. Peneliti mengajak kolaborator sebagai kolaborator untuk mengobservasi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh setiap guru kelas di SDN Wlahar 01. Kemudian peneliti memimpin sekaligus melakukan pengamatan kegiatan PSO hasil supervisi siklus II.

Keempat, Refleksi. Peneliti mengolah nilai hasil supervisi kunjungan kelas siklus II dan nilai observasi  dari rekan Kepala sekolah. Peneliti mencatat kelemahan dan keunggulan guru selama proses supervisi dan kegiatan PSO sebagai bentuk refleksi siklus II. Kemudian peneliti menarik kesimpulan sebagai refleksi siklus II. Kegiatan ini dilakukan bersama dewan guru. Kepala sekolah dan seluruh dewan guru mengkaji apa yang menjadi kelemahan dan keunggulan selama proses pembelajaran. Dampak dari semua kegiatan pada siklus II tercermin pada hasil penilaian Kepala sekolah berikut ini.

Daftar Nilai Rata-rata Supervisi Guru dalam Bidang Pembelajaran Bulan September 2020 SDN Wlahar 01

Berdasar data di atas, ternyata nilai siklus II meningkat sebesar 16,48 % dari siklus I. Semua guru bisa memperoleh nilai di atas 3,70. Dengan demikian nilai minimal yang diharapkan bisa diraih oleh semua guru meskipun tidak ada yang memiliki nilai A atau 4,200. Jumlah cek point  pada kata ‘ya’ yang dilakukan oleh observer pada siklus II juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan cek point pada siklus I. Hal ini menandakan bahwa aktifitas guru dalam proses pembelajaran pada siklus II lebih baik daripada siklus I.

SIMPULAN

Dari hasil peneliti yang dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai beriku: 1) Nilai kemampuan guru kelas SDN Wlahar 01 dalam melakukan pembelajaran dapat ditingkatkan melalui kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) secara optimal. 2) Setelah dilaksanakan kegiatan penelitian dengan dua siklus ternyata mengalami kenaikan 15,41 % untuk hasil siklus I ( nilai rata-rata 3, 3376 dari nilai kondisi awal 2,9250 ) dan kenaikan 16,48 % untuk hasil siklus II ( nilai 3,8878 ). Nilai tersebut berada pada kategori Baik, bahkan mendekati Amat baik. 3) Deskripsi tindakan kegiatan PSO (Problem Surgical Operation) untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajaran yang terurai dalam Kajian Teori (BAB II) dan aplikasinya ada pada Pembahasan (BAB IV) dapat memperjelas dan mempertegas bahwa Kegiatan PSO dapat meningkatkan nilai kemampuan guru dalam bigang pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arikunto, S. 2004. Dasar-Dasar Supervisi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta
  2. Ditjen PMPTK, 2015. Supervisi Akademik. Jakarta : Ditjen PMPTK
  3. KKPS. 2003. Pedoman Penilaian Kinerja Sekolah Dasar. Purwokerto : Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas.
  4. http://mahmuddin.wordpress.com/2008/03/24/kompetensi-profesional-guru-indonesia/.
  5. Purwanto, N. 2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : PT Remaja Rosda Karya
  6. Saadie, M.,dkk. 2007. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta : Universitas Terbuka.
  7. Sahertian, P. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta
  8. UU Nomor 20 Tahun 2003. 2003. Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : CV.Eko Jaya.

Jangan Lewatkan