Komunitas Pengrajin Diperlukan Guna Menghidupkan Roda Perekenomian

PADANG – Desy Ratnasari menilai, tuntuk menghidupkan produk kreatif yang berdampak nilai ekonomis dan bahkan dapat mensejahterakan masyarakat pengrajinnya tidaklah mudah.

Oleh karena itu, sebut Anggota Komisi X DPR RI itu, diperlukan orang-orang yang memang perhatian terhadap para pengrajin, agar bisa berkumpul menjadi sebuah komunitas sehingga dapat memberdayakan mereka.

“Dengan adanya komunitas pengrajin di harapkan mampu menjadi fasilitator untuk para pembeli ataupun konsumen yang memang paham dan mengerti serta menghargai nilai kreativitas daripada karya seni itu sendiri, Dan yang terpenting sekali kalau bukan kita yang membeli masyarakat Indonesia siapa lagi yang mau menghargai hasil karya kreativitas anak bangsa serta dapat menghidupkan roda perekonomian,” sebutnya.

Hal; itu disampaikan Desy usai meninjau salah satu tempat khusus ekonomi kreatif, Henni Adli Minangkabau Gallery dan Villa Provinsi Sumatra Barat (Padang), Jumat, (14/7) lalu.

Galeri kerajinan yang menawarkan koleksi-koleksi yang berkelas, seperti kain songket dengan bordiran yang begitu cantik, tersedia berbagai macam pilihan,dengan kualitas sangat baik. Sebagai karya anak bangsa ini sangat luar biasa.

Untuk itu menurut Desy, jika pergi ke daerah-daerah, wajib mengunjungi tempat-tempat yang menawarkan produk kerjainan karya anak bangsa, dapat juga dibeli sehingga roda perekonomian mereka terus berjalan.

“Kita harus bangga akan karya-karya mereka, bisa menghargai karya anak bangsa, cinta produk Indonesia dan tentu saja meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, itu yang terpenting,” jelas Politisi PAN ini.

Desy menjelaskan hasil cipta atau karya bidang ekonomi kreatif itu nilainya tanpa Batas. Bisa dari mulai yang bersifat hanya ada satu dalam satu karya tersebut atau juga yang bernilai universal artinya masal diproduksi.

Dengan demikian masyarakat yang mengerti akan sebuah karya seni, tidak akan mengeluhkan harga yang ditawarkan, pasalnya sudah mengerti arti daripada karya seni itu sendiri, walaupun harga dengan nilai puluhan juta maupun ratusan juta.

“Tidak ada pertanyaan kenapa mahal sekali padahal cuma kain, masyarakat yang mengerti akan pahan prosesnya seperti apa kainnya dibuat dengan detail, bikinnya bisa 1 tahun dibuat hanya satu dan tidak akan pasaran,” urainya.

Di tempat yang sama Anggota Komisi X Djohar Arifin Husein menjelaskan hari ini tim Kunjungan Merja Reses Komisi X DPR RI berkunjung ke satu tempat industri, kerajinan tangan yang luar biasa, dibina oleh pengusaha dan masyarakat setempat, perlu adanya dukungan yang kuat agar mereka bisa berkreatifitas lebih baik lagi.

“Organisasi ini melatih sekitar 300-an masyarakat dari seluruh kabupaten di Sumatera Barat dan mereka setelah mahir dapat memproduksi hasilnya nanti bisa ditampung di galeri ini suatu hal yang luar biasa,yang perlu kita contoh, perlu didukung, perlu dikembangkan,” jelasnya. (dpr)