Tips dan Trik Proposal Penelitian dan PKM Tembus Pendanaan Pusat

JAKARTA – Guru Besar FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), Ahmad Taufiq, membagikan tips menyusun proposal penelitian dan PKM yang siap disubmit ke DRTPM Kemdikbudristek.

Taufiq menyebut paling utama yang perlu diperhatikan agar proposal diterima dan menerima pendanaan pusat yaitu harus mengikuti syarat administrasi sesuai panduan. Selanjutnya, memperhatikan konten yang diangkat. Berdasarkan pengalamannya beberapa tahun terakhir, proposal yang berhasil lolos pendanaan selalu mengangkat tema dan topik menarik.

Konten yang diangkat juga termasuk hot issue atau isu yang sedang hangat diperbincangkan dalam skala nasional maupun internasional. Tidak kalah penting, memastikan proposal yang diusung memberikan kontribusi penting dalam aspek keilmuwan masing-masing bidang ilmu, baik secara teoritis maupun praktis.

Selanjutnya, peneliti wajib memperhatikan di bagian judul dan pendahuluan. Kajian yang diambil haruslah sesuai dengan hasil-hasil riset sebelumnya, kemudian dikomparasikan.

Peneliti juga dapat meninjau kelemahan atau kekurangan proposal yang belum tercukupi, baik dari masalah yang ada serta berdasarkan riset terbaru yang sesuai dengan bidang keilmuwan masing-masing. Terakhir, kontribusi apa yang akan peneliti berikan nantinya.

“Itu adalah kunci yang sangat menentukan proposal kita diterima atau tidak,” ujar Taufiq dalam Workshop Berseri dan Coaching Clinic, Penyusunan Proposal Penelitian dan PKM yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dikutip dari laman unesa.ac.id, Senin (28/8).

Taufiq membeberkan ada dua permasalahan yang sering terjadi dalam pengajuan proposal. Pertama, proposal tidak dipersiapkan dengan matang, belum final, belum bagus, serta belum sempurna, buru-buru disubmit.

Kedua, koherensi atau sinkronisasi antar-bagian proposal yang kurang tepat. “Tetapi jika proposal benar-benar dikerjakan sesuai panduan, kontribusi keilmuwan dari riset sesuai skema baik itu skema dasar, terapan, maupun pengembangan itu bagus mayoritas lolos didanai,” ujar dia.

Direktur LPPM, Turhan Yani, mengatakan kegiatan ini merupakan wujud komitmen Unesa untuk terus mendukung dosen dalam melakukan penelitian. Pihaknya mengagendakan ini setelah melihat dosen-dosen perlu disupport terus menerus.

“Tentu support itu harus dibarengi dengan aksi. Dan, yang paling konkret melalui workshop dan coaching clinic ini. Mudah-mudahan proposal yang akan dihasilkan nanti adalah proposal yang sudah siap di-submit ke kompetisi nasional, DRPTM Kemendikbud, maupun BRIN,” harap dia.

LPPM UNESA juga telah menyiapkan beberapa seri workshop dan coaching clinic yang bertahap sesuai dengan kelompok bidang ilmu masing-masing. Seperti kelompok penelitian Sosial Humaniora (Soshum), kelompok Sains dan Teknologi (Saintek), kelompok Pendidikan, dan kelompok Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Sejalan dengan misi Unesa PTN-BH, kegiatan dosen dalam bidang penelitian harus terus meningkat. Mulai 2023, LPPM mengawal dosen mengikuti kompetisi nasional sehingga terjadi peningkatan sekitar 90 persen proposal dosen yang lolos di tingkat nasional.

Workshop berseri ini akan berlangsung berkelanjutan dalam tiga bulan ke depan. Selama Agustus, 4 seri sudah selesai. Selanjutnya, pada September, Oktober, dan November ada sesi pendampingan intensif sesuai dengan kelompok masing-masing.

“Desember nanti kami cek kelengkapan proposal. Targetnya semua peserta yang mengikuti workshop ini proposalnya sudah selesai dan siap di-submit. Akan kami agendakan submit secara kolektif, supaya bisa kami pantau terus. Tercatat 2023, ada 45 proposal yang berhasil didanai, Tahun 2022, 26 proposal. Targetnya tahun ini bisa tembus 100 proposal,” ungkap Turhan. (medcom)