Siap Ikuti Launching Kabupaten Literasi, Novel Roman Budaya akan Ikut Ambil Bagian

LUKA. Tiada darah tercecer. Tiada pula bekas-bekasnya terlihat mata. Ini adalah luka yang begitu sakit. Luka yang begitu dalam, jauh di sana, mengenai dasar hati hingga ke sudut jantung.

Entah setiap orang pernah merasakannya, atau hanya ada dalam kisah-kisah picisan saja. Tetapi ini benar-benar terjadi pada seorang anak muda. Luka yang dideritanya, tak pernah sembuh walaupun beribu langkah telah membawanya pergi ke berbagai pelosok negeri. Bukan untuk mencari akar dan getah kayu untuk obat, tapi pergi menyembunyikan lukanya yang terus menganga.

Telah hitungan tahun ia mengembara. Tanah Jawa kini jadi tempatnya menetap. Ya, menetap seperti rasa terbuang dari negerinya yang ia sendiri tak pernah melangkahkan kaki ke sana. Negeri Minangkabau, di kaki Gunung Marapi, gunung yang memiliki beragam kisah mistis.

***

Entah berapa lama ia bercerita siang itu dengan bayangannya sendiri. Sejak luka yang menghempaskan jiwanya akibat seorang perempuan, ia lebih menyukai bercengkerama dengan keakuannya. Ia berdiskusi, mencari alasan untuk terus berlari di antara keramaian manusia yang ia sendiri tak pernah peduli.

Hidupnya seperti para sufi yang meniadakan arti dunia dalam hati. Ia selalu menghindar dari menatap manusia, apalagi yang bernama perempuan. Ibaratnya, sudah tak ada lagi rasa percayanya pada makhluk ciptaan Tuhan itu. Hanya pemantik rasa sakit, seperti kesakitan yang ia derita dan sembunyikan bertahun-tahun lamanya.

***

Kini, ia telah memutuskan untuk pulang. Pulang ke kampung halaman ibunya, di negeri Minangkabau. Negeri yang indah dengan adat yang kuat dan masyarakatnya yang terkabar sangat ramah.

Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya yang sekiranya masih panjang, karena ia masih muda, walaupun tak jarang kematian juga sering datang pada anak muda sepertinya. Ya, dia akan berdiam diri di Negeri Minangkabau. Negerinya sendiri.

Menurut adat di sana, ia adalah putra asli Minangkabau, karena ibunya berasal dari Ranah Minang yang disebut orang beradat tinggi, adat yang tak lekang karena panas, tak lapuk karena hujan. (*)

 

KISAH di atas adalah bagian dari prolog sebuah NOVEL roman budaya berlatar Negeri Minangkabau yang elok dipandang mata. Romantismenya tetap memikat, ada cinta yang muncul dalam diri tokoh utama pada gadis Minang yang ia temui secara tak sengaja.

 

Novel ini dihadirkan oleh dua orang penulis yang berkolaborasi dengan apik. Disampaikan dengan bahasa lugas, ringan, dan menarik untuk dibaca. Beragam konflik dan masalah akan hadir sebagai bagian penting sebuah kisah roman budaya. Silahkan tunggu peluncurannya di acara Launching Kabupaten Literasi beberapa waktu mendatang. (**)