SDN 173353 Simangulampe Hancur Akibat Longsor, Siswa Mengungsi

HUMBAHAS – Keluarga Besar SDN 173353  Simangulappe Kecamatan Bakti Raja Kabupaten Humbang Hasundutan berduka.

Hal itu disebabkan bencana alam longsor yang menimpa Jumat lalu. Sekolah rusak Parah Dan 3 orang siswa masih dalam pencarian.

Pada media Warta Pendidikan, Kepala sekolah Rohani R Gultom  mengatakan, semua fasilitas sekolah hancur, dan untuk menjaga trauma psikis siswa belum diperbolehkan ke lokasi kejadian.

“Sekolah diliburkan untuk pemulihan psikologis siswa dan masih ditampung di posko pengungsian,” ujar kepala sekolah saat diwawancarai awak Warta Pendidikan di depan kantor dinas pendidikan kabupaten Humbahas, Selasa (5/12).

Pada media ini, kepala sekolah didampingi suami Juandi Sihombing mengatakan, tiga siswa yang menjadi korban, bernama Juni silaban kelas 5, Albino Riski silaban kelas 1, Tristan Matew Siregar kelas 1. Hingga sekarang belum ditemukan.

Sekolah Penggerak SD173353 di Desa Simangulape itu terancam tidak dapat melaksanakan proses belajar mengajar kepada siswa. Kondisi sekolah saat ini dipenuhi bebatuan besar.

Kejadian longsor itu merupakan bencana cukup dahsyat, sehingga mengakibatkan korban, bangunan sekolah, dan rumah penduduk hancur porak poranda.

Rohani Gultom menjelaskan, gedung sekolah mereka hancur ditimpa batu besar. Jumlah gedung yang mereka miliki sebanyak 7 ruangan yakni 6 unit gedung rombel dan 1 unit ruang kantor, hancur tertimbun bebatuan. Disebutkannya, tak satupun aset sekolah terselamatkan. Untuk total kerugian diperkirakan mencapai 1 milyar rupiah  lebih.

Ditambahkan Rohani, untuk memulihkan mental siswa, ia mengarahkan siswanya untuk bernyanyi dan bermain di Posko pengungsian yang berlokasi di kantor Camat Baktiraja.

Saat ini bantuan dari kabupaten Samosir,  pembelajaran di atas  Kapal “Alusi Tao Toba” digunakan untuk melaksanakan kegiatan baca bagi anak-anak.

Rohani juga berharap, Dinas Pendidikan Kabupaten dan Propinsi maupun Pusat, segera turun menangani.

“Kasihan anak-anak, mereka tidak bisa belajar. Saat ini adalah masa ujian, sementara mereka  berada di posko. Mereka hanya sekedar belajar karena masih dalam keadaan trauma.

“Jadi untuk menghilangkan rasa traumanya, pihak sekolah dan para guru hanya mampu membuat kegiatan bermain dan bernyanyi. Harapan selanjutnya supaya segera sekolah dibangun atau direlokasi,” harap Rohani. (*/theo)