
Untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur, Kemendikdasmen bekerja sama dengan PLN dalam penyediaan akses listrik dan menyiapkan panel surya bagi sekolah yang belum terjangkau jaringan listrik. IFP juga dilengkapi penyimpanan materi sehingga tetap dapat digunakan meskipun sekolah belum memiliki akses internet.
Di sisi lain, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai pendamping tumbuh kembang murid. Kemendikdasmen menjalankan kebijakan peningkatan kualitas guru melalui pendekatan 3K, yaitu kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan.
Bagi lebih dari 200.000 guru yang belum berkualifikasi D4 atau S1, pemerintah memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dengan bantuan beasiswa Rp3 juta per semester per guru.
Peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, STEM (Sains, Teknologi, Enjinering/Rekayasa, dan Matematika), serta bahasa Inggris.
Sementara itu, tunjangan sertifikasi guru non-ASN meningkat dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan, sedangkan insentif guru yang belum bersertifikat naik dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan.
Penguatan mutu pendidikan juga dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan belajar setiap murid. Kemendikdasmen mendorong peran guru wali agar pendampingan tidak hanya mencakup perkembangan akademik, tetapi juga persoalan psikologis, kesulitan belajar, hingga kondisi keluarga yang dapat memengaruhi proses pendidikan.
Melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA), pemerintah berupaya menyediakan instrumen evaluasi yang lebih terstandar untuk membantu guru, orang tua, dan murid mengenali capaian serta aspek pembelajaran yang masih perlu diperbaiki.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan kesenjangan mutu pendidikan antardaerah dan antarsatuan pendidikan.
Ke depan, Kemendikdasmen akan mempercepat penyelesaian revitalisasi sekolah, memperluas digitalisasi pembelajaran, dan meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan serta kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk Inovasi Australia dan McGill University Kanada.
Seluruh upaya tersebut dijalankan dengan semangat partisipasi semesta agar peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Mendikdasmen menegaskan, keberhasilan transformasi pendidikan pada akhirnya bergantung pada komitmen seluruh ekosistem pendidikan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.
“Murid jadilah pembelajar sepanjang hayat. Guru juga jadilah pendidik dan pembelajar sepanjang hayat,” pesannya.(sp)



















