Karomah Ungku Kuniang Saruaso, Mengetahui Kedatangan Murid Tanpa Pemberitahuan

Seni Budaya17 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Suatu kisah lama, yang penuh hikmah, datang dari kehidupan Syekh Abdul Karim, yang lebih dikenal dengan sebutan Ungku Kuniang Saruaso. Kisah ini dituturkan oleh Tuanku Salim Malin Kuniang, pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, kepada putranya, H. Ampera Salim.

Kisah tersebut terjadi pada masa Orde Lama, ketika Ungku Kuniang Saruaso masih hidup dan mengajar agama kepada murid-muridnya. Pada masa itu, hubungan antara guru dan murid bukan sekadar hubungan dalam menuntut ilmu, melainkan juga ikatan batin, yang tumbuh melalui adab, kecintaan, dan pengabdian kepada guru.

Lama tidak berjumpa, hingga pada suatu hari, Ungku Malin Kuniang Padang Magek, ingin mengunjungi gurunya, Ungku Kuniang Saruaso. Keinginan itu, disambut dengan persiapan sederhana oleh istrinya, Andeh Itam.

Andeh Itam menyiapkan satu rantang makanan. Hidangan tersebut, sediakan hendak dibawa, untuk disantap bersama sang guru dan istrinya, yang akrab dipanggil Umi. Persiapan tersebut juga, untuk anak-anak dalam keluarga kecil Ungku Kuniang Saruaso.

Maka pagi-pagi, sebelum matahari meninggi, Ungku Malin Kuniang bersama Andeh Itam, berangkat dari Padang Magek. Perjalanan mereka ditempuh dengan berjalan kaki menuju Lima Kaum, sekitar empat kilometer.

Sesampainya di Lima Kaum, mereka melanjutkan perjalanan dengan naik bendi menuju Batusangkar, yang jaraknya juga diperkirakan sekitar empat kilometer. Dari Batusangkar, perjalanan diteruskan dengan bendi menuju Saruaso, sejauh kurang lebih enam kilometer.

Seluruh perjalanan itu, berlangsung di wilayah Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Menurut kisah yang disampaikan kembali oleh H. Ampera Salim, ayah dan ibunya berangkat pada pagi hari dengan harapan tiba di Saruaso menjelang tengah hari. Mereka ingin bersilaturahmi sekaligus menikmati hidangan bersama guru, yang sangat dihormati itu.

Perkiraan waktu perjalanan mereka ternyata tepat. Menjelang tengah hari, Ungku Malin Kuniang dan Andeh Itam sampai di surau Ungku Kuniang Saruaso.

Namun, sesampainya di sana, mereka justru dikejutkan oleh sesuatu, yang tidak mereka sangka samasekali.

Di surau Ungku Kuniang Saruaso, hidangan makanan sudah tersaji dengan rapi, lengkap siap disantap. Padahal, kedatangan Ungku Malin Kuniang bersama istrinya tidak pernah diberitahukan sebelumnya.

Andeh Itam pun merasa heran. Ia kemudian bertanya kepada Umi, istri Ungku Kuniang Saruaso, mengenai hidangan yang telah disiapkan tersebut.

“Umi, ada acara apa hari ini? Mengapa Umi menyiapkan hidangan sedemikian rupa?” tanya Andeh Itam.

Umi menjawab, bahwa tidak ada acara khusus yang sedang mereka selenggarakan.

“Tidak ada acara istimewa. Pagi-pagi setelah salat Subuh tadi, Ayah menyuruh Umi memotong ayam dan memasaknya. Beliau mengatakan bahwa siang ini Ungku Malin Kuniang akan datang bersama istrinya,” jawab Umi, sebagaimana dituturkan dalam kisah tersebut.

Mendengar penjelasan itu, Ungku Malin Kuniang dan Andeh Itam tentu semakin terkejut. Mereka datang tanpa mengirim kabar, tanpa pemberitahuan, dan tanpa ada orang yang menyampaikan rencana perjalanan mereka.

Namun, Ungku Kuniang Saruaso rupanya telah meminta istrinya menyiapkan hidangan sejak pagi hari, seolah-olah sudah mengetahui bahwa muridnya akan datang berkunjung.

Kisah ini kemudian menjadi salah satu cerita, yang dikenang dalam keluarga Tuanku Salim Malin Kuniang.

  1. Ampera Salim menceritakan kembali pengalaman yang dahulu disampaikan oleh ayahnya tersebut.

Ungku Malin Kuniang pernah mengungkapkan, keheranannya atas kejadian itu. Dalam kenangannya, beliau menyebut, bahwa pada masa itu belum ada telepon seperti sekarang. Tidak ada pula pesan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitahukan kedatangan mereka.

Akan tetapi, Ungku Kuniang Saruaso telah mempersiapkan jamuan, untuk menyambut kedatangan muridnya.

“Begitulah karomah Guru saya Ungku Kuniang Saruaso. Tidak ada pemberitahuan dari awal. Tidak ada  pula pesan yang disampaikan sebelumnya. Namun, beliau tahu kami akan tiba,” demikian kata  Ungku Malin Kuniang,  yang diceritakan kembali oleh H. Ampera Salim.

Bagi keluarga Tuanku Salim Malin Kuniang, cerita ini bukan sekadar kenangan, tentang perjalanan seorang murid menemui gurunya. Kisah tersebut, juga menggambarkan kuatnya penghormatan seorang murid kepada guru agama, serta eratnya hubungan yang terjalin di antara mereka.

Karomah Ungku Kuniang Saruaso, sebagaimana diyakini, dalam kisah yang diwariskan secara lisan ini, menjadi bagian dari ingatan tentang kehidupan ulama terdahulu di Tanah Datar.

Sebuah cerita yang perlu terus dituturkan dari generasi ke generasi. Sekaligus mengingatkan, bahwa perjalanan menuntut ilmu, tidak hanya membutuhkan langkah kaki. Tetapi juga kecintaan, adab, dan ketulusan hati.(*)

Penulis: H. Ampera Salim (Pimpinan Ponpes Darul Ulum Padang Magek, Rambatan – Tanah Datar)

Blibli.com
Blibli.com