
WARTA PENDIDIKAN – Ada sebuah kisah yang menarik dari perjalanan hidup Tuanku Salim Malin Kuniang, pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, yang hidup (1917-1987).
Kisah ini bukan semata-mata tentang perjalanan seorang ulama menuntut ilmu, tetapi juga tentang betapa dalam penghormatan, kecintaan, dan kepatuhannya kepada seorang guru.
Bagi Tuanku Salim Malin Kuniang, guru bukan sekadar orang yang mengajarkan ilmu. Guru adalah tempat bertanya, tempat bercermin, sekaligus penuntun dalam mengambil keputusan hidup.
Guru yang sangat dihormatinya itu adalah Tuanku Kuniang Saruaso, bernama Abdul Karim, yang pada masa mudanya menjadi tempat Tuanku Salim Malin Kuniang menimba ilmu agama di Surau Sopan, Suku Dalemo, Saruaso, Tanah Datar, Sumbar.
Jodoh yang Datang Ketika Mengaji
Pada masa mudanya, Ungku Malin Kuniang menjalani kehidupan sebagai seorang penuntut ilmu. Hari-harinya diisi dengan mengaji, mendalami kitab, dan menyimak pelajaran dari sang guru di Saruaso, Tanah Datar, Sumbar.
Suatu ketika, ia pulang ke kampung halaman di Padang Magek, Tanah Datar, karena salah seorang saudara laki-laki sepesukuanya, melangsungkan pernikahan.
Kepulangannya itu ternyata membawa cerita lain dalam perjalanan hidupnya. Di kampung, ia bertemu dengan seorang perempuan yang dikenal sebagai kembang desa. Parasnya elok, rupanya menawan, dan akhirnya menumbuhkan benih cinta di hati sang pemuda.
Sebagaimana saudara laki-lakinya yang telah menikah, Ungku Malin Kuniang pun mengikuti jejak yang sama. Ia menikahi perempuan jelita tersebut.
Peristiwa itu diperkirakan terjadi beberapa waktu sebelum Jepang masuk menduduki Indonesia.
Sebagai seorang pemuda yang baru membangun rumah tangga, tentu ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakannya. Ia mengayuh biduk kehidupan bersama perempuan pilihannya. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya. Ilmu yang dituntutnya di Saruaso belum selesai.
Bayangan Surau Sopan, wajah gurunya, dan pelajaran-pelajaran yang belum ditamatkan, selalu hadir dalam ingatannya. Ia merasa masih memiliki tanggung jawab terhadap ilmu yang pernah dimulainya.
Akhirnya, ia menyampaikan keinginannya kepada sang istri, untuk kembali ke Saruaso. Ia ingin melanjutkan pengajian dan menambah ilmu kepada Tuanku Kuniang Saruaso.
Pada mulanya, sang istri memberikan izin. Ungku Malin Kuniang pun kembali ke surau, melanjutkan perjalanan panjangnya sebagai seorang penuntut ilmu.
Ketika Harus Memilih: Istri atau Mengaji
Waktu terus berjalan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Ungku Malin Kuniang masih tekun mengaji bersama gurunya.
Namun, kehidupan rumah tangga yang ditinggalkan di kampung mulai menghadapi persoalan. Sang istri rupanya tidak lagi sanggup menjalani kehidupan dengan suami yang lebih banyak menghabiskan waktunya di surau.


















