
“Pernah dulu saya tanyakan kepada Ayah kenapa beliau tidak mau kembali lagi. Padahal mereka masa itu masih muda belia. Ayah menjawab dia tidak dapat izin dari gurunya,” kata Ampera mengenang percakapannya dengan sang ayah.
Jawaban itu tentu mengundang tanda tanya. Mengapa persoalan rumah tangga yang menyangkut dirinya sendiri, masih harus dikaitkan dengan izin sang guru?
Namun, di situlah terlihat betapa besar kedudukan guru dalam pandangan hidup Ungku Malin Kuniang. Ia tidak hanya menghormati gurunya ketika berada di surau, ketika menerima pelajaran, atau ketika mendapatkan ijazah. Penghormatan itu dibawanya ke dalam seluruh perjalanan hidupnya.
Sang Guru Selalu Hadir dalam Ingatan
Menurut H. Ampera Salim, ayahnya adalah sosok yang selalu membanggakan dan mengagungkan gurunya, Tuanku Kuniang Saruaso.
Setiap kali menghadapi persoalan dalam perjalanan hidup, Ungku Malin Kuniang selalu teringat kepada gurunya. Ia mencoba mengingat bagaimana dahulu sang guru menghadapi persoalan yang serupa semasa hidupnya.
Seolah-olah pengalaman sang guru menjadi pedoman baginya, dalam menimbang dan memutuskan sesuatu.
Bagi Ungku Malin Kuniang, hubungan guru dan murid bukanlah hubungan yang selesai ketika kitab telah tamat atau ijazah telah diterima. Hubungan itu melekat sepanjang hayat.
Bahkan, ketika sang guru telah tiada, penghormatan kepadanya tetap hidup dalam ingatan dan sikap muridnya.
Pada akhirnya, perjalanan hidup Ungku Malin Kuniang memperlihatkan sebuah pelajaran penting tentang adab kepada guru. Ia tidak hanya mewarisi ilmu dari Tuanku Kuniang Saruaso, tetapi juga membawa nilai penghormatan dan kepatuhan yang begitu dalam kepada orang yang telah membimbingnya.
Pada tahun 1942, Ungku Malin Kuniang mendirikan Pondok Pesantren Darul Ulum di Padang Magek. Lembaga pendidikan ini menjadi salah satu bukti, bahwa ilmu yang dahulu dituntutnya di Surau Sopan, Saruaso tidak berhenti pada dirinya. Ilmu itu diteruskan kepada para santri dan generasi sesudahnya.
Kisah ini mengingatkan kita, bahwa seorang murid yang baik bukan hanya mereka, yang mampu menguasai pelajaran gurunya. Tetapi juga mereka yang tidak pernah melupakan jasa, nasihat, dan kedudukan gurunya.
Ungku Malin Kuniang telah mengajarkan sesuatu melalui perjalanan hidupnya: ilmu boleh ditamatkan, pengajian boleh diselesaikan, tetapi penghormatan kepada guru tidak pernah mengenal kata tamat.
Itulah adab Tuanku Salim Malin Kuniang kepada sang guru, Tuanku Kuniang Saruaso, Ungku Abdul Karim. Sebuah keteladanan yang patut dikenang dan diwariskan kepada anak cucu, terutama generasi penerus Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek. (AS)


















