Adab Tuanku Salim Malin Kuniang kepada Sang Guru: Ketika Cinta pada Ilmu Mengalahkan Cinta Dunia

Kisah, Seni Budaya36 Dilihat

Sampai pada suatu ketika, sang istri meminta agar Ungku Malin Kuniang menentukan pilihan. Apakah memilih dirinya sebagai istri atau tetap melanjutkan pengajian?

Sebuah pilihan yang tentu tidak mudah bagi seorang pemuda, yang baru membangun rumah tangga.

Tetapi bagi Ungku Malin Kuniang, ilmu yang belum selesai dituntutnya, merupakan tanggung jawab yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Ia memilih tetap mengaji. Konsekuensinya, hubungan rumah tangga mereka pun berakhir dengan perpisahan.

Kisah ini memperlihatkan betapa besar kecintaan Ungku Malin Kuniang terhadap ilmu pengetahuan. Ia rela menghadapi pahitnya kehidupan pribadi demi menuntaskan apa yang telah dimulainya di hadapan sang guru.

Menjadi Guru Tuo dan Mendapat Ijazah Tuanku

Tahun demi tahun berlalu. Ketekunan dan kesungguhannya, akhirnya membuahkan hasil. Ungku Malin Kuniang berhasil menamatkan pengajiannya. Gurunya, Tuanku Kuniang Saruaso, kemudian memberikan ijazah dan gelar Tuanku kepadanya. Maka lekatlah gelarnya Ungku Salim Malin Kuniang.

Hubungan guru dan murid itu tidak berhenti setelah pengajian selesai. Kepercayaan sang guru semakin besar. Ungku Malin Kuniang kemudian dipercaya menjadi Guru Tuo atau guru pengganti di Saruaso.

Beberapa orang murid dipercayakan kepadanya untuk dibimbing dan diajar. Ini merupakan sebuah kehormatan, sekaligus tanggung jawab besar bagi seorang murid.

Kepercayaan itu pula yang kemudian mengantarkan Ungku Malin Kuniang membuka pengajian sendiri di surau kaumnya di Padang Magek.

Namun, ia tidak serta-merta membuka pengajian atas kehendaknya sendiri. Semua itu berawal dari izin dan perintah gurunya.

Bahkan, Tuanku Kuniang Saruaso membekalinya dengan empat orang murid dari Saruaso untuk dibawa ke Padang Magek. Di antara murid tersebut terdapat Ungku Diar dari Aripan, Solok, dan Ungku Abu Hanifah dari Teluk Kuantan, Riau.

Mereka kemudian menjadi bagian dari perjalanan awal pengajian yang dirintis Ungku Malin Kuniang. Kini, keempat murid tersebut telah berpulang ke Rahmatullah.

Dari sinilah salah satu mata rantai perjalanan keilmuan itu berkembang. Ilmu yang diterima dari guru diteruskan kepada murid, kemudian diwariskan lagi kepada generasi berikutnya.

Cinta Lama yang datang Kembali

Ada satu bagian kisah yang tidak kalah menarik. Setelah Ungku Malin Kuniang mulai mengajar sendiri di Padang Magek, perempuan yang dahulu menjadi istrinya,  ingin kembali membangun rumah tangga dengannya.

Barangkali waktu telah mengubah banyak hal. Barangkali setelah menjalani kehidupan masing-masing, sang istri menyadari bahwa perpisahan dahulu bukanlah akhir dari segala kemungkinan.

Namun, keinginan untuk kembali itu tidak disambut oleh Ungku Malin Kuniang. Ia tidak bersedia lagi menyambung hubungan rumah tangga, yang pernah terputus.

Mengapa demikian? Jawabannya pernah disampaikan sendiri oleh anaknya, H. Ampera Salim, ketika menceritakan kembali kisah kehidupan ayahnya.

Blibli.com
Blibli.com