oleh

Computational Thinking Akan Dimulai di Sembilan Kabupaten/Kota

WPdotCOM, Jakarta – Computational Thinking  (CT) menjadi salah satu dari tujuh program prioritas Kementerian Agama di tahun 2021.

Program yang digawangi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) ini akan mulai diterapkan pada satuan pendidikan di bawah naungan Kemenag.

“Program ini bertujuan untuk membangun cara berpikir siswa agar memiliki kemampuan untuk melakukan dekomposisi dari berbagai persoalan,” papar Dirjen Pendis M. Ali Ramdhani dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag 2021, di Jakarta, Selasa (6/4).

Dhani menuturkan, CT akan diterapkan di seluruh madrasah di Indonesia. Untuk memulai program ini, Kemenag telah menetapkan sembilan Kabupaten/Kota sebagai pilot project, yaitu: Kota Banda Aceh, Kota Banjarmasin, Kab.Garut, Kota Surakarta, Kota Malang, Kab. Banyuwangi, Kota Mataram, Kab. Polewali Mandar dan Kota Sorong.

Tidak hanya bagi siswa madrasah, kompetensi CT juga harus dimiliki oleh guru dan kepala madrasah. CT, lanjut Dhani,  pada dasarnya adalah muara dari kebutuhan keterampilan yang dikenal dengan istilah 4C Pembelajaran Abad 21 yaitu critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.

Guru besar Teknologi Informatika ini menegaskan, computational thinking adalah program strategis yang begitu penting diterapkan demi mencetak generasi bangsa unggulan.

“Maka injeksi CT menjadi program unggulan di Kemenag karena merupakan kunci untuk menguasai masa depan,” pungkasnya.

Senada dengan Dhani, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Muhammad Zain menegaskan ketika bicara kompetensi siswa, maka tidak akan terlepas dari kemampuan guru dalam mengajar.

Menurutnya, tantangan mulai dari munculnya era internet of things (IOT), menuntut guru untuk tidak hanya kreatif terkait materi ajar, tapi juga inovatif pada metodologi pengajaran.

“Tidak hanya peserta didik, pendidik di madrasah madrasah juga harus melengkapi dirinya dengan kemampuan dan pengetahuan cara berpikir berbasis komputer (computational thinking),” tegas Zain.

Dikatakan Zain, penerapan CT di madrasah untuk memantik cara bernalar peserta didik dalam belajar, sehingga kedepannya dapat mendongkrak angka PISA kita.  “Berpikir logik, sistematis dan sustainable sangatlah penting sebagai bekal bagi anak-anak kita,” ujar Zain.

Menurut Zain, untuk merealisasikan program CT di madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI sudah membentuk Taskforce Computational Thinking. Tim ini, kata Zain, berisi para pakar dan pegiat Computational Thinking. (*/kemenag)