
PADANG PANJANG – Edukasi terkait mitigasi bencana, menjadi sorotan Dr. Osronita, Dekan Fakultas Sains Teknologi dan Pendidikan Universitas Tamansiswa Padang saat berkunjung ke Stasiun Geofisika Kelas I Padang Panjang, Senin (27/4/2026).
Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Kepala BMKG Kelas I Padang Panjang, Dr. Suaidi Ahadi di ruangan kerjanya. Turut hadir dalam pertemuan itu, Ir. Ade Edward yang merupakan Ahli Geologi Sumatera Barat, Munafri, Wakil Ketua Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP) Padang Panjang dan Direktur Alpha Rescue, Nova Indra.
Pada kesempatan itu, Osronita menyampaikan, nilai penting dalam edukasi mitigasi bencana, menjadi salah satu upaya mengurangi risiko di tengah masyarakat itu sendiri. Dan sebagai akademisi, sebutnya, tentunya tidak mungkin bergerak sendiri dalam tahapan edukasi warga.
“Kita perlu menjalin kolaborasi mitigasi bencana. Bentuk-bentuk edukasi perlu kita sampaikan kepada masyarakat. Kolaborasi antar stakeholder dan pihak lainnya, menjadi hal yang penting agar edukasi berjalan optimal,” sebut pengajar mata kuliah Geografi yang juga Kepala Puslitbang dan LH Univ Tamansiswa Padang itu.
Sementara itu, Ir Ade Edward pada kesempatan yang sama menyampaikna kondisi dan risiko bencana di Sumatra Barat sebagai daerah supermarket bencana. Salah satu adalah kegempaan darat.
“Kita punya Patahan Sumatra dan beberapa segmennya yang selalu saja berulang menjadi bencana bagi masyarakat di tempat yang. Ini perlu menjadi pembelajaran bagi kita, bagaimana ke depan, bencana terjadi tetapi kita semua bisa selamat.
Ir Ade mengatakan, perlu upaya mitigasi dan kesiapsiagaan semua pihak. “Termasuk juga bagaimana bangunan aman gempa, dan tidak kalah penting adalah kesiapan masyarakatnya, ketangguhan masyarakatnya,” ujar Ir Ade.
Kepala BMKG Kelas I Padang Panjang Dr. Suaidi Ahadi, dalam diskusi yang berlangsung cukuup hangat itu, menanggapi terkait perlunya rantai peringatan dini direspon dengan cepat dan dalam bentuk aksi.
“Potensi bencana ini, baik kegempaan dan ancaman bencana hidrometeorologi, selama ini sudah kita informasikan melalui media yang ada. Dan ke depan, yang kita perlukan adalah bagaimana seluruh stakeholder yang ada bissa melakukan early action atau early response,” sebut Dr. Suaidi. (*)



















