
WARTA PENDIDIKAN – Indonesia dengan wilayah yang rentan terhadap ragam bencana, menjadikan masyarakatnya harus tangguh dan selalu waspada.
Kesiapsiagaan masyarakat di semua lini, diperlukan dalam rangka membangun warga tangguh yang sentiasa mampu memitigasi lingkungan dan keluarga sebelum bencana, saat bencana, maupun dalam masa recovery.
Persoalan menghadapi bencana, bukanlah domain pemerintah semata. Kesadaran masyarakat menjadi ujung tombak terciptanya wilayah yang aman dari beragam potensi bencana yang selalu mengintai sepanjang waktu.
Hari ini, 26 April 2026, adalah Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang ditetapkan pemerintah. Mengusung tema Siap untuk Selamat; Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana, ditujukan untuk membangun kebersamaan di tengah masyarakat negeri ini dalam membudayakan sadar bencana.
Seperti diketahui, peringatan HKB 2026 ini, difokuskan pada aksi nyata simulasi evakuasi mandiri dan penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana, terutama gempa dan tsunami.
Pemerintah, melalui BNPB sebagai otoritas pemangku kepentingan dalam penanganan dan penanggulangan bencana, menetapkan Aceh sebagai pusat kegiatan peringatan. Dan seluruh daerah, diminta melaksanakan peringatan yang sama dengan penggunaan kentongan sebagai simbol peringatan dini tradisional.
Lalu, apa dan bagaimana harusnya masyakarat dalam menyikapi potensi bencana yang kerap menimbulkan korban jiwa dan harta, serta meruntuhkan sendi-sendiri perekonomian? Menjawab hal ini, setidaknya ada beberapa poin penting yang perlu dilakukan oleh masyarakat di semua lapisan.
- Mengetahui potensi kerawanan bencana di daerah
Potensi bencana yang ada di negeri ini memiliki perbedaan di tiap daerah. Wilayah yang memiliki gunung api yang bisa saja menyebabkan dampak erupsi, gempa vulkanik, dan bencana turunannya, akan berbeda dengan daerah yang tidak memiliki atau jauh dari gunung api aktif.
Hal sama juga pada wilayah yang memiliki potensi kegempaan. Setiap wilayah dan daerah di Nusantara memiliki tingkat kerawanan berbeda. Khusus pada daerah-daerah yang dekat dengan megathrust dengan potensi kegempaan yang tinggi, tentunya akan sekaligus berisiko tsunami di wilayah pesisir pantai. Sementara daerah yang jauh dari pantai, namun memiliki sejarah kegempaan dan sesar-sesar aktif kerak bumi, pun menjadi daerah yang memiliki kerawanan tinggi.
Untuk itu, setiap warga, perlu mengetahui potensi kerawanan yang ada di daerahnya masing-masing. Mengetahui hal ini, adalah langkah penting dalam tahapan awal mitigasi yang akan dilakukan ketika bencana itu terjadi sesuai dengan kondisi kerawanannya.
- Mengetahui pola mitigasi bencana
Pola atau sistem mitigasi bencana, tidak serta merta mampu dilakukan oleh masyarakat secara mandiri tanpa pelatihan dan penyuluhan oleh lembaga atau otoritas terkait. Dalam hal ini, pemerintah daerah perlu menyosialisasikan langlah mitigasi yag tepat kepada masyarakat.
Untuk masyarakat itu sendiri, memitigasi setiap keluarga dan lingkungan adalah uupaya nyata yang tidak boleh tidak harus dilakukan. Karena ketika bencana terjadi, semua elemen atau stakeholder kebencanaan, tidak mungkin secara langsung tiba di lokasi bencana mengingat adanya jarak, keterbatasan personil, dan peralatan serta hal pendukung lainnya.
Karena itu, mengenali pola mitigasi bencana, contohnya saat berada dalam rumah ketika bencana gempa bumi terjadi, masyarakat harus paham dengan getaran gempa yang dirasakan. Kesadaran ini akan membantu tingkat penyelamatan yang lebih efektif, daripada langsung berhamburan keluar rumah karena kepanikan tanpa perhitungan yang tepat.

- Mengedukasi keluarga
Banyak kejadian dalam setiap bencana terjadi, seperti tsunami dan gempa bumi, dan bencana lainnya, edukasi yang kurang dalam keluarga menyebabkan adanya korban. Kepala keluarga perlu memiliki pengetahuan lebih dibanding anggota keluarganya dan mampu mengedukasi.
Ketika bencana terjadi, kepala keluarga sebagai pemimpin evakuasi, telah mengajarkan, membimbing, dan mampu memimpin anggota keluarganya untuk menyelamatkan diri secara tepat dan benar.
Selain itu, adanya persiapan dalam keluarga berupa tas siaga bencana (Go Bag), juga perlu menjadi perhatian semua lapisan masyarakat.
- Memiliki alat komuniasi darurat.
Mengapa perlu alat komunikasi darurat? Ketika bencana terjadi, seringkali terjadi pemadaman listrik dan nonaktifnya jaringan seluler di wilayah terdampak. Alat komunikasi berupa telepon seluler, acapkali tidak mendapatkan sinyal memadai untuk melakukan panggilan.
Untuk itu, setiap keluarga perlu memiliki setidaknya satu unit alat komunikasi darurat seperti handy talkie (HT) atau HT POC. Alat komunikasi ini akan mudah digunakan saat kepanikan terjadi, atau pasca bencana berlangsung. Mengetahui saluran dan frekuensi darurat, akan memudahkan para petugas memberikan bantuan.
Bencana, berusia sama dengan manusia yang hidup di bumi ini. Sejarah kebencanaan dalam peradaban manusia hingga masa kini, telah memenuhi lembaran-lembaran sejarah. Bencana tidak dapat kita hindari, namun kita dapat mengupayakan menyelamatkan diri dari dampak yang ditimbulkannya.
Mari, siap untuk selamat. Kita budayakan sadar bencana, demi keselamatan dan kemaslahatan bersama. (*)
Penulis: Nova I (Direktur P3SDM Melati, Direktur Alpha Rescue, Jurnalis & Penulis buku Langkah Strategis Mitigasi Bencana Kota Padang Panjang)



















