Sampah, Tanggung Jawab Siapa?

Berita Opini4485 Dilihat

WARTA PENDIDIKAN – Pagi ini Diskusi di warung kopi itu cukup hangat tapi tetap santai.

“Sampah berserakan dimana-mana.” Pak Wel membuka percakapan pagi ini sambil menghirup kopi setengah gelasnya dengan semangat.

“Iya , di mana-mana, di pinggir-pinggir jalan, di sudut desa pun banyak sampah berserakan. Sepertinya banyak warga yang  membuang sampah di situ sembarangan,” kata Pak Jen ikut nimbrung.

“Benar,” sahut Pak Embri yang tak kalah semangatnya melaporkan apa yang baru saja dia saksikan saat berkunjung  di daerah wisata terkenal di daerah tetangga. Sampah berserakan di taman-taman wisata.

Sepertinya, perbincangan seputar sampah menjadi topik yang  seru pagi ini. Persoalan sampah  sesungguhnya sudah  menyentuh akar persoalan bangsa: sampah bukan sekadar limbah, melainkan sudah  menjadi  cerminan budaya dan kesadaran sosial kita.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden  Prabowo telah menyatakan  Subianto tentang “perang terhadap sampah” dan menginstruksikan  gerakan gotong royong nasional. Instruksi itu perlu diapresiasi.  Ia menunjukkan adanya political will dari negara.

Namun, seperti yang disampaikan Pak Danu di atas, realitas di lapangan sering kali berbeda. Gotong royong yang seharusnya menjadi ruh kebersamaan, kadang tereduksi menjadi seremonial, hadir, dokumentasi, lalu selesai.

Ini bukan soal programnya yang salah, tetapi implementasi dan kesadaran yang belum tumbuh kuat.

Masalah sampah sejatinya adalah masalah mentalitas dan kebiasaan. Selama masyarakat masih memandang sampah sebagai urusan “orang lain” atau “petugas kebersihan”, maka sekuat apa pun instruksi pemerintah tidak akan cukup. Negara bisa membuat kebijakan, tetapi perilaku hanya bisa diubah melalui kesadaran.

Apa yang disampaikan Pak Ari sangat penting: keterlibatan para ustadz dan tokoh agama. Dalam perspektif Islam, kebersihan adalah bagian dari iman. Dakwah tidak boleh hanya berbicara tentang ibadah mahdhah, tetapi juga harus menyentuh aspek kehidupan sehari-hari, termasuk menjaga lingkungan.

Mimbar-mimbar masjid, bisa menjadi ruang edukasi yang efektif untuk menanamkan nilai tanggung jawab terhadap sampah sebagai bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.

Pak Ben pun menambahkan, keluarga adalah titik awal. Pendidikan tentang sampah harus dimulai dari rumah tangga , membiasakan memilah sampah, tidak membuang sembarangan, dan menanamkan rasa malu jika lingkungan kotor. Jika setiap rumah tangga memiliki kesadaran, maka persoalan sampah akan jauh lebih ringan.

Dengan demikian, jawabannya jelas: tidak cukup hanya dengan gotong royong serentak atau instruksi pemerintah. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh: 1) Negara: membuat regulasi tegas dan konsisten. 2) Masyarakat: membangun budaya disiplin dan tanggung jawab. 3) Tokoh agama: menginternalisasi nilai kebersihan dalam dakwah, dan 4) Keluarga: menjadi sekolah pertama dalam pendidikan lingkungan.

Sampah pada akhirnya bukan sekadar persoalan teknis, tetapi persoalan moral. Jika kesadaran kolektif tumbuh, maka “perang terhadap sampah” tidak lagi menjadi slogan, melainkan gerakan nyata yang hidup di tengah masyarakat.

Penulis: Kasman (Pemerhati masalah sosial. Menetap di Kota Sungai Penuh – Jambi)

Blibli.com
Blibli.com