Kurikulum Merdeka, Paradigma Baru Pembelajaran

Berita Nasional970 Dilihat

Joko Prasetyo, guru SMP Negeri 2 Temanggung, Jawa Tengah mengungkapkan perbedaan penerapan Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum 2013. Jika dalam kurikulum 2013 lebih fokus pada kognitif yaitu capaian nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang menjadi angka kualitatif sehingga membelenggu guru, tetapi di Kurikulum Merdeka para guru diarahkan kepada pembentukan karakter yang lebih riil.

“Luar biasa, kami lebih mengarahkan siswa agar mempunyai enam dimensi dalam profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif,” ujarnya.

Selanjutnya, dikatakan Joko bahwa Kurikulum Merdeka juga menumbuhkan paradigma baru yaitu menghargai pencapaian setiap siswa. “Setiap anak itu berbeda, bahkan sekalipun anak kembar pasti mempunyai karakter yang berbeda. Poin pentingnya adalah kita harus menghargai proses pencapaian belajar setiap anak,” katanya.

Kurikulum Merdeka diterapkan di SMP Negeri 2 Temanggung melalui berbagai proyek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila. Misalnya dengan mengadakan pentas seni muatan lokal, bereksplorasi, berdiskusi dalam membuat produk kearifan lokal, dan sebagainya.

“Dari situ kita berharap bisa menjadi titik tolak agar siswa senantiasa mengembangkan bakatnya dan memunculkan potensi yang ada di diri mereka,” harap Joko.

Kurikulum Merdeka diharapkan dapat memberi ruang seluas-luasnya bagi siswa dalam berkreasi dan mengembangkan diri. Kemendikbudristek telah melakukan sosialisasi Kurikulum Merdeka kepada berbagai pihak, meliputi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Guru (KKG), komunikasi dengan Dinas Pendidikan daerah, organisasi pendidikan, dan sebagainya.

Selain itu, informasi terkait Kurikulum Merdeka juga dapat diperoleh pada laman kurikulum.kemdikbud.go.id.

“Mari kita selamatkan bangsa ini lewat dunia pendidikan. Mari kita bangun budaya belajar sesungguhnya dengan memposisikan kurikulum pada tempat semula, yaitu sebagai alat yang memberi ruang pada tiap individu untuk berkembang sesuai potensinya masing-masing,” pesan Zulfikri di akhir acara. (SP)

Blibli.com
Blibli.com