Kemkominfo Luncurkan 58 Buku Literasi Digital, Gratis

Berita Nasional619 Dilihat

Perwakilan dari Common Room Erni Sulistyowati menjelaskan secara singkat tentang 10 buku yang dibuat dengan tujuan untuk membantu menurunkan kesenjangan digital di Indonesia.

Ada buku yang membahas tentang peningkatan kapasitas di bidang teknologi informasi, pemanfaatan digital, kebijakan dan regulasi, serta tentang pembelajaran teknologi informasi dan layanan berbasis komunitas.

“Semoga buku ini juga bisa berkontribusi untuk menyelesaikan kesenjangan digital di Indonesia, khususnya pedesaan dan daerah terpencil,” kata Erni.

Sementara itu, Indriyatno Banyumurti selaku ketua ICT Watch menjelaskan buku-buku soal edukasi menggunakan internet yang baik.

Ada tiga buku yang membahas tentang #JagaPrivasi, Manajemen Strategi Komunikasi dalam mengelola media sosial selama pandemi, dan tantangan utama transformasi digital Indonesia yang berhubungan dengan DEWG (Digital Economy Working Group) G20 saat ini.

“Dari buku-buku ini juga, bisa diukur seberapa buruknya setiap individu menjaga privasi,” ujar Indriyanto.

Ada juga buku-buku yang dihasilkan oleh tim Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI), yang membahas tentang panduan dan bagaimana posisi perempuan di dunia daring secara cermat dan bermedia sosial secara bijak.

Tim JAPELIDI membuat 15 buku yang terbagi menjadi buku kolaborasi, buku panduan, dan buku khusus yang mengajarkan empat pilar literasi digital.

Tim Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) menyajikan tentang buku berjudul “Membangun Resiliensi dalam Gejolak Pandemi”, yang membahas tentang kisah dan tantangan dialami oleh sukarelawan ketika Covid-19 terjadi.

Buku tersebut dibuat berdasarkan riset yang harapannya bisa menjawab masalah-masalah dan mendorong semangat kerelawanan.

“Tantangan tidak hanya soal pendidikan, tetapi setiap daerah pasti punya tantangannya sendiri-sendiri termasuk saat pandemi dengan pembelajaran secara online atau jarak jauh yang biasanya kita lakukan secara offline,” jelas Nuril Hidayah.

Mahabatis Shoba, sukarelawan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengatakan kebebasan berpendapat dan berekspresi, juga harus diiringi dengan beretika di dunia maya dan nyata. (sumber: jpnn)

Blibli.com
Blibli.com