
“Ketika bahasa itu dimengerti maka publik akan ikut dalam kampanye tersebut. Saya melihat masyarakat merespons positif (kampanye yang dilakukan Badan Bahasa). Saya harap, makin banyak orang yang teredukasi maka penerapan budaya positif di masyarakat bisa tercapai maksimal,” tuturnya.
Aminudin Aziz menyebut,praktik revitalisasi bahasa daerah terselenggara dengan baik di sekolah, kantor bahasa, kantor pemerintah daerah (pemda), tempat ibadah, hingga balai-balai desa. Tahun depan, rencananya Kemendikbudristek akan menambah target sasaran revitalisasi bahasa daerah. Saat ini sudah 17 provinsi dan 52 bahasa daerah yang direvitalisasi.
“Harapannya makin banyak pemerintah daerah yang semangat dan terus mendukung revitalisasi bahasa daerah ini,” ungkapnya.
Ketua Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia Wilayah Bali, Ni Wayan Sariani, menyampaikan respons baiknya atas kampanye kebahasaan yang dilakukan Badan Bahasa. “Masyarakat di wilayah kami saling bantu dalam mengampanyekan kebiasaan baik melalui berbagai cara dengan pendekatan bahasa daerah,” ucapnya.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sulawesi Selatan, Setiawan Aswad, menggarisbawahi pentingnya peran seluruh pemangku kepentingan untuk berbagi peran dalam berkontribusi merevitalisasi bahasa daerah. Termasuk di dalamnya keterlibatan satuan pendidikan dan komunitas/pegiat bahasa dan sastra.
“Kalau kita ingin menguatkan bahasa dan sastra daerah maka kita harus lihat dari tiga tingkatan yaitu bagaimana kita menguatkan dari sisi sistem, kelembagaan, dan SDM. Kita harus memberikan landasan yang kuat agar bahasa dan sastra berkembang melalui regulasi yang membuat bahasa memiliki daya lestari termasuk di dalamnya penyediaan anggaran dan komitmen pimpinan,” tegasnya. (SP)



















