
“Statistik data menunjukkan perguruan tinggi adalah lokus yang paling rawan terjadi tindak kekerasan seksual. Karena itulah Kemdikbudristek terus berkomitmen untuk menghapus segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi” ungkap Chatarina Muliana Girsang, seperti dikutip dalam rilis Kemendikbudristek di Jakarta, Senin (6/2) lalu.
Menegaskan pernyataan Nadiem, Chatarina juga mengingatkan agar semua pegawai di lingkungan Itjen Kemdikbudristek tidak mengesampingkan tindakan kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan kerja.
“Jangan sampai kita tajam keluar namun tumpul di dalam. Mohon agar kita semua saling jaga dan saling mengawasi lingkungan kerja masing-masing. Tindakan-tindakan kekerasan jika terjadi di lingkungan kerja akan sangat berdampak negatif terhadap organisasi dan pribadi pegawai. Bagi organisasi tentunya ini akan dapat menurunkan produktivitas, menyebabkan citra buruk instansi, dan lingkungan kerja menjadi tidak sehat,” ujarnya di hadapan 500 pegawai dari auditor dan sekretariat Itjen Kemdikbudristek yang mengikuti acara secara luring dan daring.
Selanjutnya, Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemdikbudristek, Rusprita Putri Utami, menyampaikan pentingnya kolaborasi yang selama ini dilakukan Puspeka dan Itjen dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. “Untuk tataran pencegahan memang di Puspeka, dan penanganan di Itjen. Tentu saja pencegahan dan penanganan harus kolaboratif, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa banyaknya laporan yang masuk seiring dengan gencarnya upaya Kemendikbudristek memberantas kekerasan seksual sudah sepatutnya menjadi pemicu bagi seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak bersama mencegah dan menangani tindak kekerasan di lingkungan pendidikan.
Kegiatan peningkatan kapasitas tersebut turut menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya, yaitu Komisioner Komnas Perempuan, Alimatul Qibtiyah yang membawakan materi “Kekerasan (Perspektif Keberpihakan terhadap Korban) di Satuan Pendidikan dan Lingkungan Kerja”.
Hadir pula perwakilan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Faqihuddin Abdul Qodir yang memaparkan topik “Kekerasan dalam Perspektif Agama Islam”. Selain itu, juga ada materi dari Demand mengenai keamanan digital dan narasumber lainnya dari 3 Generasi yang mengangkat tema Psychological First Aid. (infopublik/Foto: Kemdikbudristek)



















