
“Ada penyelarasan agar tamatan SMKN 2 Gorontalo sudah sesuai kebutuhan pasar. Bahkan ruang praktik siswa di sekolah pun sudah disesuaikan berdasarkan layout dari industri,” terangnya.
Terkait peningkatan kompetensi guru, Jakub menyampaikan bahwa sekolah mendorong guru untuk ikut magang dan studi independen bersertifikat (MSIB) di industri. Kalau dulu sebelum menjadi SMK PK para guru bisa melaksanakan magang selama tiga bulan di industri, kini dengan MSIB bisa sampai enam bulan. Dengan pengalaman lebih panjang, harapannya guru bisa menularkan ilmunya lebih banyak kepada para siswa.
Dalam pelaksanaan praktik, SMK N 2 Gorontalo memiliki hotel untuk edukasi (edutel) dengan kapasitas 17 kamar. Praktik langsung seperti ini memungkinkan para siswa untuk menjadi tenaga kerja atau membuka usaha perhotelan setelah lulus. Hal ini dibuktikan dengan kerja sama SMK N 2 dengan hotel-hotel di Gorontalo yang memakai tenaga para siswa pada musim ramai (high season).
“Saat high season mereka diminta untuk part time, ada gajinya. Begitu juga untuk bidang tata busana, kuliner, sudah ada orderan dari industri untuk jadi tenaga kerja,” ucap Jakub.
Sejak menjadi SMK PK, Jakub mampu mendatangkan guru tamu untuk mengajar 50 jam per semester. Ia mengatakan, program guru tamu ini sudah ada sejak sebelum menjadi SMK PK, tapi jumlahnya sangat terbatas. Dan berdasarkan data tracer study tahun 2021, sebanyak 33 persen lulusan SMK N 2 sudah bekerja, dan 22 persen lainnya mandiri berwirausaha, selebihnya melanjutkan sekolah dan belum bekerja.
SMK N 2 Gorontalo memiliki program inkubator, yaitu program untuk menampung lulusan yang belum mendapat pekerjaan atau berwirausaha. Inkubator ini salah satunya berupa sanggar busana terutama untuk penjahit. “Sekarang ada 6 orang yang sedang mengikuti program ini,” pungkas Jakub.(kemdikbud)



















