Gempa Segmen Toru Makan Korban, Patahan Semangko Makin Aktif

Berita Daerah9980 Dilihat

Gempa bumi kembar (double earthquake) melanda Tapanuli Utara, Sumatra Utara pagi tadi, Selasa (18/3/2025) dengan magnitudo M5,5 dan 5,6 pada kedalaman 19km dan 10km.

Waktu kejadian gempa bumi pertama 05.22.38 WIB dengan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,91° LU ; 99,10° BT. Sementara gempa bumi kedua 05.23.34 WIB dengan episenter gempa bumi kedua terletak pada koordinat 1,90° LU ; 99,02° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 14 km tenggara Tapanuli Utara. Kedua gempa bumi ini memiliki selisih waktu kejadian 56 detik dan selisih jarak episenter 9 km.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas Sesar Besar Sumatra Segmen Toru. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa kedua gempa bumi tersebut memiliki mekanisme mendatar (strike slip),” kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangan resmi, Selasa (18/3/2025).

“Gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Tarutung dengan skala intensitas IV – V MMI, di daerah Sibolga, Padang Sidempuan, Pinang Sori dengan skala intensitas III MMI,” jelasnya.

Menurut Daryono, rangkaian kedua gempa bumi ini menimbulkan kerusakan beberapa rumah di Desa Lobupining Kecamatan Adiankoting, Kab.Tapanuli Utara dan memicu tanah longsor yang menimpa 2 rumah warga di Desa Hutabarat, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara.

Hingga pukul 07.10 WIB pagi tadi, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 4 aktivitas gempa bumi susulan dengan magnitudo terbesar M3,4 dan magnitudo terkecil M2,1.

Korban Meninggal Dunia

Sementara itu Pj Sekretaris Daerah Tapanuli Utara, David Sipahutar mengungkapkan, akibat gempa yang terjadi, satu orang warga meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan puing rumahnya.

“Akibat guncangan gempa bumi, satu orang meninggal dunia dan sudah dibawa ke Puskesmas terdekat,” ungkap Pj Sekda David seperti dirilis Antara, Selasa (18/3).

Warga yang meninggal dunia adalah Kartini Manalu (68 tahun), penduduk Desa Lobu Pining, Kecamatan Pahae Julu, Taput, yang tertimbun reruntuhan puing rumah akibat guncangan gempa bumi.

Selain itu, lanjut Pj Sekda David, Jalan lintas Pahae Julu tertutup material longsoran tanah dan pohon sehingga akses jalan tidak bisa dilalui kendaraan.

“Lokasi longsoran yang menutupi badan jalan terdapat di dua titik, yakni di area yang disebut warga sekitar lubang ni homang, dan satu titik di dekat Desa Peanornor, Pahae Julu,” jelasnya.

Saat ini, Pemkab Taput tengah melakukan pendataan lengkap akan dampak dari bencana serta mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutupi badan jalan.(ist)

Blibli.com
Blibli.com