Seni Budaya Menggema di Pelepasan Kelas IX Pondok Pesantren IC Muhammadiyah Kinali

Seni Budaya80 Dilihat

Piring-piring berputar di ujung jari-jari lentik para penari, berputar cepat, terus berputar, tanpa jatuh, tanpa terlepas. Gerakan mereka lincah dan bersemangat, mengikuti setiap hentakan irama dengan presisi yang menakjubkan. Hadirin bertepuk tangan mengikuti ritme, terbawa dalam euforia penampilan yang begitu hidup.

Dan kemudian-suasana berubah drastis. Tegang. Hening sejenak. Pecahan kaca berserakan di area acara. Dan para penari, dengan tatapan mata yang tenang, nyaris meditatif, melangkah ke atasnya. Kaki telanjang mereka menginjak serpihan kaca tanpa ragu, tanpa gentar. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan mereka berdiri kokoh di atasnya, tersenyum, sementara hadirin menahan napas dengan mulut terbuka.

Belum usai ketakjuban itu, atraksi berikutnya datang: semburan api. Para pemain lain maju ke depan, menarik napas panjang dan dari mulut mereka, semburat api melesat ke udara, membentang spektakuler di bawah terang siang hari. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Setiap semburan disambut teriakan kagum yang semakin keras dari seluruh penjuru ruangan.

Kolaborasi dengan Sanggar Pusako Mandeh ini membuktikan bahwa seni budaya Minangkabau bukan sesuatu yang usang dan hanya layak disimpan di museum. Ia hidup. Ia relevan. Ia mampu menggetarkan ribuan pasang mata di era modern sekalipun, selama ada tangan-tangan yang mencintainya dan mau merawatnya.

Pelepasan yang Menjadi Perayaan: Warisan Budaya sebagai Bekal Perjalanan

Ketika seluruh penampilan seni usai dan tepuk tangan terakhir mereda, satu hal menjadi sangat jelas: Pondok Pesantren Islamic Centre Muhammadiyah Kinali tidak hanya melepas para santrinya dengan bekal ilmu agama dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga dengan kecintaan mendalam pada budaya tanah leluhur mereka.

Ke mana pun kelak para lulusan kelas IX ini melangkah, ke kota-kota besar, ke rantau yang jauh, ke panggung kehidupan yang lebih luas, mereka pergi membawa dua warisan yang tak ternilai: Kalam Allah di dada, dan kecintaan pada ranah Minang di jiwa. Dan itulah, barangkali, bekal terbaik yang bisa diberikan oleh sebuah pondok pesantren kepada anak-anak didiknya. Dunsanak di mana pun berada — Minangkabau tetap di hati, Al-Qur’an tetap di dada.(Kontributor: Zeli Utari)

Blibli.com
Blibli.com