Buku: Jalan Sunyi Sang Panglima

Judul:Jalan Sunyi Sang Panglima
Penerbit:P3SDM Melati Publishing
ISBN:On process
Penulis:Bastomi
Terbit:September 2026
Harga:Rp.95.000 (Call: 0811990400)

 

SINOPSIS

Buku ini hadir bukan untuk menceritakan ulang kronologi sejarah yang sudah tercatat rapi di buku-buku teks. Saya tidak bermaksud bersaing dengan sejarawan yang telah menulis dengan sangat baik tentang rute gerilya atau tanggal-tanggal pertempuran. Ambisi buku ini jauh lebih spesifik, namun juga jauh lebih berat: buku ini adalah sebuah upaya bedah forensik terhadap anatomi jiwa seorang prajurit petapa.

Mengapa “Jalan Sunyi”?

Saya memilih judul “Jalan Sunyi” bukan tanpa alasan. Dalam falsafah Jawa yang dianut Soedirman, menjadi pemimpin berarti menempuh jalan sepi ing pamrih, rame ing gawe (sepi dari kepentingan pribadi, ramai dalam bekerja). Soedirman menempuh jalan yang sunyi dari ambisi politik, sunyi dari kemewahan duniawi, dan sunyi dari keluhan fisik.

Ketika para politisi sipil memilih berdiplomasi di meja perundingan yang nyaman, Soedirman memilih jalan sunyi masuk ke hutan. Ketika tawaran untuk berobat ke luar negeri atau beristirahat datang, beliau memilih jalan sunyi ditandu bersama prajuritnya. Jalan ini sunyi, menyakitkan, dan tidak populer. Namun, justru di jalan sunyi inilah, karakter baja seorang perwira ditempa.

Untuk   menyusun buku setebal ini, saya menggunakan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan sejarah, psikologi militer, dan filsafat. Anda akan menemukan bahwa saya sering menggunakan istilah Asketisme (laku prihatin) dan Stoikisme (ketabahan). Saya percaya, senjata utama Soedirman bukanlah senapan Lee Enfield atau keris pusaka, melainkan kemampuan beliau mengelola penderitaan (Pain Management) dan mengubahnya menjadi bahan bakar perjuangan.

Dalam Bagian I, kita akan membedah konstruksi mental beliau. Bagaimana pendidikan Hizbul Wathan dan PETA membentuk hibrida karakter yang unik: religius seperti santri, namun disiplin seperti samurai. Dalam Bagian II, kita akan berjalan bersama tandu beliau melewati tujuh titik kritis gerilya, menganalisis setiap keputusan taktis yang diambil dalam kondisi terjepit. Dalam Bagian III, saya memberanikan diri melakukan studi komparasi. Saya menyandingkan Soedirman dengan Sun Tzu, Khalid bin Walid, hingga Che Guevara, untuk membuktikan bahwa doktrin perang Soedirman memiliki validitas universal yang diakui dunia militer global. Dan akhirnya, pada Bagian IV, buku ini menawarkan panduan praksis bagi Perwira TNI masa kini. Bagaimana menerapkan nilai-nilai “kuno” Soedirman dalam menghadapi perang modern yang asimetris, proxy war, dan serangan siber. (*)

Blibli.com
Blibli.com